Jejak Darah Tewasnya Warga Pejompongan, Diduga Dikeroyok Ormas

- Bambang, penjual kaca dan warga Pejompongan, diduga dianiaya serta diseret sejumlah orang tak dikenal yang disebut warga sebagai ormas saat kericuhan usai demo DPR, Kamis malam.
- Setelah menutup lapak lebih awal karena massa memenuhi kawasan, Bambang sekitar pukul 21.00 WIB keluar untuk mematikan lampu dan mengecek toko di belakang rumahnya.
- Bambang tidak kembali hingga larut malam. Keluarga mendapat kepastian sekitar pukul 03.00 WIB bahwa ia telah dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal.
Jakarta, IDN Times - Seorang penjual kaca yang juga warga Pejompongan, Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, tewas dianiaya oleh sejumlah orang tidak dikenal yang diduga ormas.
Kericuhan tersebut terjadi usai aksi demo di DPR yang meluas hingga terjadi kerusuhan di Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2026) malam.
IDN Times menyusuri jejak detik-detik Bambang yang dianiaya dan diseret di tempat kejadian!
1. Bambang dipukuli ormas saat mau cek lapak

Pedagang Kaca Tanah Abang, Bambang tewas dianiaya aat kerusuhan dalam aksi demonstrasi menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset di DPR. (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Menurut keterangan warga yang juga saksi mata, Iwan mengatakan, Bambang sudah menutup lapaknya pukul 18.00 WIB.
"Saat kejadian semua toko sini sudah tutup," ujar Wawan kepada IDN Times, Jumat (28/8/2026).
Namun sekitar pukul 21.00, Bambang ingin mematikan lampu yang masih menyala di toko yang berada di belakang rumahnya.
"Tiba-tiba dari arah belakang banyak ormas lalu memukuli dan menyeret Pak Bambang sampai ke jalan raya," ujar Wawan.
2. Massa mulai memenuhi kawasan Pejompongan

Massa demo DPR mulai bakar ban di kolong Fly Over Gerbang Pemuda Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Pantauan IDN Times, bendera kuning terpasang di rumah Bambang yang ada di kawasan Tanah Abang, Bendungan Hilir. Sejumlah warga ikut mendoakan jenazah Bambang di keranda yang ditutup kain hitam. Bambang sehari-hari berjualan kaca atau cermin di pinggir Jalan Pejompongan Raya.
Istri Bambang, Sudarsih (57), menceritakan detik-detik terakhir sebelum suaminya pergi hingga diketahui menjadi korban kericuhan.
Sudarsih mengatakan, pada Kamis (27/8/2026) sore, dirinya masih menemani Bambang berjualan. Biasanya, mereka menutup lapak sekitar pukul 18.00 WIB. Situasi di sekitar lokasi mulai dipenuhi massa.
“Saya nemenin dia jualan sampai sekitar jam 16.30 WIB, kurang lebih. Sebenarnya kami belum tutup, biasanya tutup jam 18.00 WIB. Tapi karena saya lihat massa sudah banyak dari sana, akhirnya saya bilang sama bapaknya, ‘Itu massa sudah banyak,’ saya bilang, ‘Tutup.’ Dia juga melihat, ‘Oh, ya sudah, tutup.’ Saya bantuin. Setelah tutup, sebenarnya belum sepenuhnya tutup, masih saya buka sebagian, separuh pintu saya,” kata Sudarsih.
3. Keluarga mendapat kabar Bambang meninggal

Massa aksi membakar ban saat demonstrasi di sekitar Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman) Namun pada pukul 21.00, Bambang keluar untuk mengecek situasi dan lapaknya. Sayangnya, Bambang tak kunjung kembali hingga larut malam. Sudarsih sempat mencari keberadaan suaminya dan menanyakan kepada sejumlah warga, tetapi Bambang tidak ditemukan.
“Saya ke situ, anak saya sempat ngomong, ‘Mama tadi saya sudah dari situ tapi gak ada.’ Saya masih berharap ketemu kan. Ternyata saya ke situ gak ada,” ujar Sudarsih.
Sudarsih kemudian sempat tidur sekitar 1,5 jam sebelum terbangun sekitar pukul 03.00 WIB. Saat itu, keluarga mulai mencari Bambang setelah mendapat informasi bahwa suaminya masih tidak ada di rumah.
“Saya tahunya fix kalau dia benar-benar sudah jadi korban sekitar jam 03.00 sampai jam 03.30, itu saya baru fix tahu kalau dia udah gak ada. Itu kan anak saya langsung nyari,” kata Sudarsih.
Keluarga kemudian mengetahui Bambang telah dibawa ke rumah sakit. Bambang dinyatakan meninggal setelah menjadi korban dalam kericuhan tersebut.














