Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Qatar Sebut Kesepakatan Selat Hormuz Penting bagi AS-Iran Berdamai

Qatar Sebut Kesepakatan Selat Hormuz Penting bagi AS-Iran Berdamai
potret bendera Qatar (pexels.com/monk 333)
  • Qatar menilai kesepakatan Selat Hormuz krusial untuk menghidupkan kembali negosiasi perdamaian AS-Iran, dan akan mendorong kedua pihak mencapai kompromi.
  • Iran dan Oman telah menyepakati jalur pelayaran alternatif setelah negosiasi tiga bulan, tetapi finalisasi masih tertunda karena pembahasan isu strategis.
  • Perselisihan klaim kontrol Selat Hormuz menghambat perdamaian AS-Iran; Iran menyatakan selat tetap ditutup hingga Washington memenuhi enam syarat Teheran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Qatar menyebut kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran soal Selat Hormuz penting bagi penyelesaian konflik kedua negara. Sebab, jika Washington dan Teheran sudah sama-sama sepakat soal kontrol di selat tersebut, maka negosiasi bisa kembali berlanjut sehingga upaya perdamaian akan berjalan sesuai rencana. 

Oleh karena itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Qatar, Majed Al-Ansari, dalam konferensi pers mingguan pada Selasa (18/8/2026), mengatakan, Qatar yang berperan sebagai mediator akan berupaya mendorong AS dan Iran untuk sama-sama menurunkan ego dan meraih kesepakatan soal Selat Hormuz. Sebab, ini menjadi satu-satunya cara agar negosiasi kedua negara bisa berlanjut. 

  1. 1. Qatar akan menunggu Iran dan Oman memfinalisasi kesepakatan Selat Hormuz

    Peta Selat Hormuz.
    potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

    Dalam pernyataannya, Al-Ansari mengatakan, Qatar akan menunggu Iran dan Oman memfinalisasi kesepakatan soal rute alternatif pelayaran baru di Selat Hormuz. Setelah itu, Qatar akan berupaya mendorong AS untuk mengikuti kesepakatan Teheran dan Muscat soal selat tersebut. Dengan begitu, negosiasi bisa kembali berjalan. 

    "Kami juga menunggu kesepakatan antara Kesultanan Oman dan Iran mengenai Selat tersebut yang akan memungkinkan kami untuk kembali ke kerangka negosiasi. Kesepakatan mengenai Selat Hormuz akan mempermudah kita untuk melanjutkan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran," jelas Al-Ansari.

  2. 2. Iran dan Oman sudah menyepakati jalur pelayaran alternatif baru di Selat Hormuz

    Bendera Oman sedang berkibar.
    potret bendera Oman (pexels.com/Ugurcan Ozmen)

    Sebagai informasi, Iran dan Oman sebetulnya sudah menyepakati jalur pelayaran alternatif baru di Selat Hormuz pada Sabtu (15/8/2026) pekan lalu. Kesepakatan ini diraih usai delegasi Iran dan Oman melakukan negosiasi selama tiga bulan sejak 18 Juni. Kesepakatan ini berguna untuk menjamin kebebasan dan keamanan berlayar di Selat Hormuz.  

    Kendati begitu, kesepakatan tersebut belum difinalisasi. Sebab, Iran dan Oman masih ingin melakukan negosiasi terkait sejumlah isu strategis. Oleh karena itu, kesepakatan antara Teheran dan Muscar soal Selat Hormuz belum bisa diterapkan di lapangan. Meski demikian, Juru Bicara Kemlu Iran, Ismaeil Baghaei, mengatakan kesepakatan akan segera difinalisasi dalam waktu dekat.

  3. 3. AS dan Iran masih berselisih soal kekuasaan di Selat Hormuz

    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berpartisipasi dalam wawancara dengan Bev Turner dari GB News di Ruang Roosevelt, Gedung Putih, pada 14 November 2025.
    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berpartisipasi dalam wawancara dengan Bev Turner dari GB News di Ruang Roosevelt, Gedung Putih, pada 14 November 2025. (flickr.com/The White House viacommons.wikimedia.org/The White House)

    Hingga saat ini, AS dan Iran masih berselisih soal kekuasaan di Selat Hormuz. Sebab, kedua negara sama-sama mengklaim bahwa mereka adalah pemilik dari perairan tersebut. Perbedaan pendapat inilah yang akhirnya membuat upaya perdamaian Washington dan Teheran terhambat. Padahal, jika merujuk aturan hukum laut internasional, Selat Hormuz sebetulnya adalah perairan internasional yang tidak boleh dikuasai negara mana pun. 

    Terbaru, Presiden AS, Donald Trump, merilis sebuah peta yang menggambarkan Selat Hormuz yang sudah menjadi wilayah teritorialnya. Peta ini dirilis setelah sebelumnya Trump mengatakan akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai teritorial AS.

    Peta tersebut lantas menyulut amarah Iran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam pernyataan terbarunya pada Selasa mengatakan, Iran tetap akan menutup Selat Hormuz sampai AS mau mematuhi semua syarat yang diberikan. Sebab, pada 8 Agustus lalu, Teheran sudah memberikan enam syarat yang harus dipatuhi Washington jika ingin selat tersebut kembali dibuka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More