Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PM Slovakia Tolak Penangguhan Spanyol dalam Zona Schengen
Perdana Menteri Slovakia Robert Fico. (commons.wikimedia.org/EU2016 SK, CC0)
  • PM Slovakia Robert Fico menolak penangguhan Spanyol dari Schengen, karena dinilai tidak menyelesaikan krisis migrasi setelah ribuan warga Maroko masuk ilegal ke Ceuta.
  • Slovakia siap mengirim personel polisi atau peralatan untuk membantu Spanyol mengamankan perbatasan luar Uni Eropa dan mencegah migrasi ilegal.
  • Fico mengkritik sikap UE yang dianggap berubah-ubah soal migrasi, sementara PM Polandia Donald Tusk meminta Spanyol meniru kebijakan perbatasan ketat Polandia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Slovakia, Robert Fico, pada Jumat (31/7/2026), menolak penangguhan Spanyol dalam zona Schengen. Menurutnya, penangguhan Spanyol tidak akan menyelesaikan masalah krisis migrasi di Ceuta. 

Beberapa hari terakhir, situasi di Ceuta masih tegang imbas masuknya ribuan imigran asal Maroko. Mereka berbondong-bondong masuk secara ilegal ke dalam teritori terluar Spanyol di Benua Afrika tersebut. 

1. Slovakia siap bantu kirimkan personel polisi ke Spanyol

Perdana Menteri Slovakia Robert Fico. (© European Union, 2025, CC BY 4.0 , via Wikimedia Commons)

Fico mengungkapkan bahwa Slovakia sudah siap membantu Spanyol dengan mengirimkan personel kepolisian atau peralatan. Langkah itu untuk mengamankan perbatasan terluar Uni Eropa (UE). 

“Pemerintah Slovakia sudah melihat bahwa cara paling efektif mencegah migrasi ilegal lewat perlindungan yang konsisten dalam zona Schengen. Melakukan apa yang bisa dilakukan untuk mencegah imigran ilegal masuk ke Spanyol,” tutur Fico, dikutip dari TASR.

2. Sebut UE tunjukkan hipokrisi dalam menangani imigran ilegal

ilustrasi bendera Slovakia (commons.wikimedia.org/Kiwiev, CC0)

Fico menilai, terdapat hipokrisi dari sejumlah negara anggota UE, termasuk pejabat UE beberapa tahun lalu. Ia menyebut, pejabat UE justru memberikan relaksasi dan memperbolehkan imigran ilegal masuk ke negara anggota UE. 

Menurutnya, setelah ada insiden di Ceuta, saat ini, semua pihak di UE menunjukkan bahwa mereka menentang imigrasi ilegal. Pernyataan ini untuk mengingatkan penolakannya terhadap kewajiban membagi rata imigran di setiap negara UE.

3. Polandia minta Spanyol tiru penanganan migrasinya

ilustrasi bendera Polandia (unsplash.com/jadziaphotographs)

Pada saat yang sama, Perdana Menteri (PM) Polandia, Donald Tusk meminta Spanyol meniru kebijakan yang dilakukan Spanyol dalam mengatasi imigran ilegal. Ia mengklaim Polandia berhasil mengatasi tekanan migrasi dari Belarus. 

“Polandia punya hukum suaka yang ketat, prosedur perbatasan ketat, dan sudah membangun pagar efektif di sepanjang perbatasan Belarus yang mana merupakan perbatasan terluar timur UE,” ungkapnya, dilansir dari TVP World.

Sejak akhir 2021, Polandia sudah diserbu ribuan imigran ilegal dari Timur Tengah dan Afrika yang masuk dari Belarus. Masuknya ribuan imigran tersebut diduga bagian dari serangan hybrid Belarus ke Polandia. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article