Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PM Spanyol: Tak Ada Bukti Maroko Dalangi Krisis Migran Ceuta
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez (European Parliament from EU, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)
  • Pedro Sanchez menyatakan badan intelijen Spanyol belum menemukan bukti solid keterlibatan Maroko dalam gelombang migran ke Ceuta.
  • Laporan intelijen kepolisian yang diberitakan media Spanyol menduga aparat keamanan Maroko mengarahkan sekitar 72 ribu migran pada 30-31 Juli.
  • Di tengah kritik politik, pemerintah Spanyol berencana meminta kehadiran permanen Frontex di Ceuta.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah Frontex perlu hadir permanen di Ceuta?
Vote Now
akhir Juli

Gelombang kedatangan migran secara massal menuju Ceuta terjadi.

30-31 Juli

Laporan intelijen kepolisian yang diberitakan media Spanyol menduga aparat keamanan Maroko membantu mengarahkan sekitar 72 ribu migran menuju Ceuta.

21 Agustus

Duta Besar Maroko untuk Spanyol, Karima Benyaich, dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Spanyol.

Kamis, (3/9/2026)

Pedro Sanchez mengatakan badan intelijen Spanyol sementara tidak menemukan keterlibatan Maroko dalam arus migran besar-besaran ke Ceuta.

dalam beberapa minggu mendatang

Sanchez mengatakan Raja Felipe VI seharusnya mengunjungi Ceuta dan Melilla.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah Frontex perlu hadir permanen di Ceuta?
Vote Now
  • What?
    Pedro Sanchez membantah adanya bukti kuat keterlibatan Maroko dalam gelombang kedatangan migran massal ke Ceuta.
  • Who?
    Pedro Sanchez, badan intelijen Spanyol, pemerintah Maroko, Alberto Nunez Feijoo, serta sejumlah kelompok politik Spanyol terlibat dalam polemik ini.
  • Where?
    Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara yang berbatasan langsung dengan Maroko, serta parlemen Spanyol.
  • When?
    Gelombang kedatangan terjadi pada akhir Juli, termasuk 30-31 Juli. Sanchez menyampaikan pernyataan di parlemen pada Kamis, (3/9/2026).
  • Why?
    Laporan intelijen kepolisian yang diberitakan media Spanyol menduga operasi tersebut memiliki tujuan lebih luas daripada sekadar migrasi.
  • How?
    Pemerintah berencana meminta kehadiran permanen Frontex di Ceuta dan akan mengambil tindakan tegas bila bukti keterlibatan Maroko ditemukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah Frontex perlu hadir permanen di Ceuta?
Vote Now

Pedro Sanchez bilang orang pintar dari badan intelijen Spanyol belum menemukan bukti kuat bahwa Maroko mengatur banyak migran datang ke Ceuta. Banyak orang politik tidak setuju dan menuduh Maroko terlibat. Sekarang pemerintah Spanyol mau meminta Frontex selalu ada di Ceuta. Sekitar 5.000 migran masih berada di sana.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah Frontex perlu hadir permanen di Ceuta?
Vote Now

Rencana pemerintah Spanyol meminta kehadiran permanen Frontex di Ceuta menunjukkan adanya langkah yang disiapkan di tengah tekanan politik dan arus kedatangan migran. Sikap Sanchez yang membuka kemungkinan perubahan tindakan apabila bukti baru muncul juga menempatkan penanganan situasi pada temuan badan intelijen, bukan semata tudingan politik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah Frontex perlu hadir permanen di Ceuta?
Vote Now

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, membantah adanya bukti kuat yang menunjukkan Maroko berada di balik gelombang kedatangan migran secara massal ke Ceuta pada akhir Juli 2026 lalu. Pernyataan itu disampaikan Sanchez di tengah tekanan politik dari oposisi dan sejumlah mitra koalisi pemerintah yang mempertanyakan penanganan Madrid terhadap krisis tersebut.

Dalam sidang parlemen pada Kamis, (3/9/2026), Sanchez mengatakan badan intelijen Spanyol untuk sementara tidak menemukan keterlibatan Maroko dalam arus migran besar-besaran tersebut. Namun, dia menegaskan pemerintah akan mengambil tindakan tegas jika nantinya ditemukan bukti yang menunjukkan peran Rabat.

Pernyataan Sanchez muncul sehari setelah media Spanyol memberitakan laporan intelijen kepolisian yang disebut menduga aparat keamanan Maroko membantu mengarahkan sekitar 72 ribu migran menuju Ceuta pada 30-31 Juli 2026 silam. Operasi tersebut diduga memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar migrasi.

1. Sanchez bantah ada bukti keterlibatan Maroko

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez (Wikimedia.org/Pool Moncloa/Borja Puig de la Bellacasa

Sanchez mengatakan badan intelijen Spanyol, untuk saat ini, mengesampingkan keterlibatan Maroko dalam gelombang kedatangan migran tersebut. Meski demikian, dia tidak menutup kemungkinan pemerintah akan mengubah sikap apabila bukti baru muncul.

"Kami tidak memiliki bukti yang solid mengenai keterlibatan Maroko. Badan intelijen kami mengesampingkan keterlibatan Maroko untuk saat ini," kata Sanchez di parlemen, seperti dilaporkan Anadolu.

Dia menegaskan pihaknya akan merespons secara tegas apabila ditemukan bukti pemerintah atau aparat Maroko memang terlibat dalam pengaturan arus migran menuju Ceuta. Pemerintah Spanyol sebelumnya menghadapi tekanan besar akibat masuknya migran dalam jumlah sangat besar ke wilayah tersebut. Sanchez juga mengakui, pemerintah memiliki kekurangan dalam menangani situasi tersebut.

"Kami telah meraih keberhasilan, tetapi juga melakukan kesalahan, seperti semua orang," ujarnya.

2. Oposisi tuding pemerintah tutupi peran Maroko

bendera Maroko (unsplash.com/Afker Moiz)

Pernyataan Sanchez langsung menuai respons keras dari berbagai kelompok politik. Pemimpin oposisi, Alberto Nunez Feijoo, menuding pemerintah mengetahui kemungkinan keterlibatan Maroko tetapi sengaja menyembunyikannya dari publik.

Feijoo bahkan menyerukan agar Sanchez mengundurkan diri, dengan alasan inkompetensi atau keterlibatan dalam menutupi informasi mengenai krisis migran tersebut. Dia juga mengecam keputusan pemerintah yang tidak mengungkap tentang pemanggilan Duta Besar Maroko untuk Spanyol, Karima Benyaich, ke Kementerian Luar Negeri Spanyol pada 21 Agustus 2026.

"Operasi itu berasal dari Maroko dan disetujui. Ada indikasi Maroko mengoordinasikannya," kata Feijoo.

Pemanggilan Benyaich dilakukan setelah sejumlah menteri Maroko mengeluarkan pernyataan mengenai Ceuta dan Melilla. Menteri Kehakiman Maroko sebelumnya menyebut kedua wilayah tersebut sebagai "hak historis dan geografis" serta menyerukan "solusi definitif" yang akan mengembalikan keduanya kepada Maroko.

Feijoo menyebut Sanchez seorang pengecut karena menangani pemanggilan duta besar tersebut secara diam-diam. Dia mempertanyakan alasan pemerintah tidak mengumumkannya kepada publik dan menilai sikap tersebut memperkuat dugaan Madrid berusaha menghindari konfrontasi dengan Rabat.

3. Pemerintah perkuat perbatasan Ceuta

Para imigran dari Maroko memasuki Ceuta, Spanyol. (AFP/HENRY NICHOLLS)

Kritik terhadap pemerintah tidak hanya datang dari oposisi. Enrique Santiago dari Sumar, salah satu kelompok politik yang menjadi sekutu sayap kiri pemerintah, juga menuding Maroko mengorganisasi arus migran tersebut.

Anggota parlemen Sumar lainnya, Aina Vidal, mengatakan kebijakan pendekatan meredakan ketegangan dengan Maroko telah gagal. Sementara itu, Gabriel Rufian, juru bicara parlemen dari partai separatis Catalonia ERC, menuduh Maroko sengaja mengarahkan puluhan ribu orang menuju perbatasan untuk mengguncang pemerintah Spanyol.

Rufian juga menuding tindakan tersebut dilakukan dengan keterlibatan Amerika Serikat, Israel, serta sejumlah kelompok dari kubu kanan politik Spanyol. Dia mempertanyakan apakah Sanchez menahan informasi mengenai dugaan peran Maroko karena khawatir konfrontasi dengan Rabat justru akan merugikan Spanyol.

Di tengah tekanan tersebut, Sanchez mengumumkan rencana untuk meminta kehadiran permanen badan perbatasan Uni Eropa, Frontex, di Ceuta. Ia juga mengatakan Raja Felipe VI seharusnya mengunjungi Ceuta dan Melilla dalam beberapa pekan mendatang.

Ceuta merupakan salah satu dari dua wilayah Spanyol yang berada di Afrika Utara dan berbatasan langsung dengan Maroko. Pemerintah memperkirakan sekitar 5.000 migran yang masuk dalam gelombang kedatangan massal tersebut masih berada di Ceuta, wilayah kecil dengan populasi sekitar 80 ribu jiwa.

Sampaikan pandanganmu soal penanganan Ceuta

Apakah Frontex perlu hadir permanen di Ceuta?

See More
Perlu hadir permanen
A*** has voted
B*** has voted
C**** has voted
Tidak perlu hadir permanen

Curated For You

Editorial Team

Related Article