Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Prancis Konfirmasi Kasus Pertama Virus Shamonda pada Manusia
Ilustrasi ternak sapi. (unsplash.com/Gilles DETOT)
  • Prancis mengonfirmasi kasus pertama virus Shamonda pada manusia setelah pasien dengan imunosupresi parah meninggal di Lyon pada awal Oktober 2026.
  • Pasien diduga tertular melalui gigitan agas Culicoides di Prancis timur, wilayah yang sebelumnya melaporkan virus serupa pada hewan ternak.
  • WHO dan ECDC menyelidiki jalur penularan, sementara otoritas menilai risiko bagi masyarakat umum nihil dan aktivitas vektor diperkirakan menurun saat musim dingin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pihak berwenang Prancis baru-baru ini mengonfirmasi kasus virus Shamonda (Shav) untuk pertama kalinya pada manusia. Ini setelah seorang pasien imunosupresi parah, yakni sistem kekebalan tubuh mengalami pelemahan atau penurunan fungsi, meninggal pada awal Oktober 2026. Kasus ini mencatatkan rekor baru bagi dunia medis, mengingat patogen tersebut sebelumnya hanya ditemukan pada hewan ternak.

Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) tengah memantau ketat situasi ini, pejabat kesehatan menegaskan bahwa risiko penularan bagi masyarakat umum saat ini masih nihil. Insiden tersebut dinilai murni sebagai kasus luar biasa yang menyerang individu dengan kerentanan imun ekstrem.

1. Kronologi kasus dan komplikasi medis pasien

Ilustrasi kantong infus. (pexels.com/RDNE Stock project)

Dilansir BBC, pasien tersebut sebelumnya menjalani perawatan akibat penyakit serius di sebuah rumah sakit di Lyon. Berdasarkan temuan awal, pasien mengalami komplikasi pada sistem saraf, yang sangat mungkin berkaitan langsung dengan infeksi virus Shamonda. Kondisi imunosupresi berat yang dialaminya diduga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi tersebut.

Kementerian Kesehatan dan Pertanian Prancis menduga kuat bahwa korban tertular melalui gigitan agas pengisap darah dari genus Culicoides di wilayah Prancis timur. Wilayah tersebut telah melaporkan kemunculan virus serupa pada hewan ternak sejak musim semi hingga musim panas tahun ini.

2. Karakteristik virus Shamonda dan sejarah penyebarannya

Ilustrasi virus. (pexels.com/CDC)

Virus Shamonda pertama kali diidentifikasi di Nigeria pada pertengahan 1960-an. Shav telah beredar selama beberapa dekade di berbagai wilayah Afrika dan Asia, tanpa laporan infeksi manusia yang terverifikasi. Patogen ini secara historis dikenal sebagai penyakit hewan yang menyerang sapi perah, domba, kambing, alpaka, hingga kuda.

Pada hewan ternak yang terinfeksi, gejala klinis yang umumnya timbul meliputi demam tinggi, diare, serta penurunan drastis pada produksi susu. Sebelum kejadian di Prancis ini, dunia medis internasional belum pernah mendokumentasikan satu pun penularan pada manusia, NHK News melaporkan.

3. Investigasi internasional dan penilaian risiko kesehatan global

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. (x.com/WHO)

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa pihaknya sedang berkoordinasi intensif dengan otoritas Prancis, guna meneliti jalur penularan. Penyelidikan lanjutan ini difokuskan untuk memahami secara menyeluruh potensi risiko yang mungkin ditimbulkan terhadap kesehatan masyarakat global.

Sementara itu, ECDC mencatat bahwa kasus pertama virus ini pada hewan di Eropa baru teridentifikasi pada akhir Juli lalu di beberapa negara, seperti Irlandia, Jerman, Italia, dan Spanyol. Meski begitu, otoritas memastikan penyebaran lanjutan tidak akan meluas. Sebab, aktivitas penularan vektor agas biasanya menurun drastis saat memasuki musim dingin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article