Referensi
Ministère de l’Agriculture, de l’Agro-alimentaire et de la Souveraineté alimentaire, “Virus Shamonda : une première détection chez l’être humain,” siaran pers, 22 Oktober 2026.
European Centre for Disease Prevention and Control, “Severely Ill Patient in France Becomes First Ever Human Infected with Shamonda Virus,” 22 Oktober 2026.
Ministère de l’Agriculture, de l’Agro-alimentaire et de la Souveraineté alimentaire, “Cas d’infections de vaches laitières par un orthobunyavirus,” 22 Oktober 2026.
World Organisation for Animal Health, “Shamonda Virus,” diakses 23 Oktober 2026.
Mikail Kelleci et al., “Detection of a Novel Shamonda Orthobunyavirus in Dairy Cattle, France, June 2026,” Eurosurveillance 31, no. 33 (2026): 2600689, https://doi.org/10.2807/1560-7917.ES.2026.31.33.2600689.
Miné van der Walt et al., “Identification and Molecular Characterization of Shamonda Virus in an Aborted Goat Fetus in South Africa,” Pathogens 12, no. 9 (2023): 1100, https://doi.org/10.3390/pathogens12091100.
Institut national de recherche pour l’agriculture, l’alimentation et l’environnement (INRAE), “Detection of a Novel Orthobunyavirus Associated with Acute Fever, Lethargy, Reduced Milk Yield and Diarrhoea in Cows,” diakses 23 Oktober 2026.
Kasus Pertama pada Manusia di Prancis, Ini Fakta Virus Shamonda

Prancis melaporkan kasus pertama infeksi virus Shamonda pada manusia yang terdokumentasi. Pasien mengalami gangguan sistem kekebalan berat dan meninggal pada awal Oktober 2026; penyelidikan masih berlangsung untuk mengetahui apakah virus menyebabkan atau turut berperan dalam kematiannya.
Dugaan sementara, pasien tertular melalui gigitan agas pengisap darah genus Culicoides di Prancis bagian timur. Sejauh ini, otoritas Prancis belum mengidentifikasi risiko kesehatan bagi masyarakat umum.
Virus Shamonda terutama dikenal menginfeksi ternak, khususnya sapi. Kasus pada manusia ini luar biasa, sementara dampak dan potensi penularannya pada manusia masih perlu diteliti.
Selama puluhan tahun, virus Shamonda dikenal sebagai virus yang menyerang hewan. Namun, pada 22 Oktober 2026, otoritas Prancis mengumumkan temuan pertama infeksi virus ini pada manusia yang terdokumentasi. Pasien tersebut menjalani perawatan di Lyon untuk penyakit serius, memiliki gangguan sistem kekebalan yang berat, dan meninggal pada awal Oktober.
Kementerian Pertanian Prancis menyebut komplikasi pada otak pasien sangat mungkin berhubungan dengan infeksi virus Shamonda. Sementara itu, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) menyatakan penyelidikan masih dilakukan untuk memastikan apakah virus menyebabkan atau turut berperan dalam kematian tersebut.
Table of Content
1. Penularannya diduga melalui gigitan agas
Dugaan sementara otoritas Prancis adalah pasien tertular melalui gigitan agas dari genus Culicoides di wilayah timur negara itu. Virus Shamonda memang diketahui menyebar di antara hewan terutama melalui gigitan serangga kecil ini. Spesies agas yang mungkin menularkan virus kepada pasien belum diketahui.
Kementerian Pertanian Prancis menyatakan belum ada data ilmiah yang mendokumentasikan penularan Shamonda melalui konsumsi daging, susu, atau produk turunannya. Produk dari hewan yang sakit juga tidak digunakan untuk konsumsi.
2. Virus ini terutama menyerang ternak
Virus Shamonda termasuk genus Orthobunyavirus dan kelompok Simbu. Kelompok tersebut juga mencakup virus Schmallenberg dan Akabane, yang dikenal menginfeksi hewan.
Virus Shamonda pertama kali diisolasi dari sapi di Nigeria pada 1965, kemudian dilaporkan secara sporadis di beberapa wilayah Afrika dan Jepang.
Sapi merupakan hewan yang paling sering terinfeksi, tetapi virus ini juga pernah ditemukan pada domba, kambing, kuda, dan alpaka. Pada sapi, gejala yang dilaporkan antara lain demam, diare, lesu, dan penurunan produksi susu. Gejala akutnya sering kali bersifat sementara, meski dampaknya terhadap ternak masih terus dipantau.
3. Virus baru terdeteksi di Eropa

Serangga betina pengisap darah berukuran sekitar 1,6 mm (Culicoides sonorensis) sedang mengisap darah. (commons.wikimedia.org/Scott Bauer, USDA ARS) Sejarah virus Shamonda bermula di Nigeria pada 1960-an. Virus ini baru teridentifikasi pada hewan ternak di Eropa pada musim panas 2026. Penelitian di Prancis melaporkan bahwa pada Juni tahun itu, sapi perah di wilayah timur negara tersebut mengalami demam, diare, lesu, dan penurunan produksi susu. Tim peneliti mengidentifikasi virus bertipe Shamonda melalui analisis sampel hewan.
Menurut ECDC, virus ini kemudian terdeteksi pada hewan ternak di sejumlah negara Eropa. Penyebaran pada hewan tersebut membantu menjelaskan mengapa otoritas Prancis mempertimbangkan gigitan agas di wilayah tempat virus beredar sebagai kemungkinan sumber infeksi pasien. Namun, dugaan itu masih diselidiki.
4. Dampak pada janin hewan masih diteliti
Pada hewan bunting, infeksi virus kelompok Simbu dapat dikaitkan dengan gangguan reproduksi. Virus Shamonda pernah terdeteksi pada janin kambing yang gugur di Afrika Selatan. Temuan pada satu janin tidak cukup untuk memastikan bahwa virus selalu menyebabkan keguguran, tetapi itu menjadi alasan bagi peneliti untuk menyelidiki dampak reproduksinya lebih lanjut.
Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) juga mencatat laporan keguguran dan kelainan janin pada sebagian wabah di Eropa pada 2026. Namun, dampak lengkap varian yang beredar di Eropa terhadap perkembangan janin belum diketahui.
5. Genomnya terdiri dari tiga segmen RNA
Genom Orthobunyavirus terdiri dari tiga segmen RNA, yang disebut S, M, dan L. Para peneliti mempelajari segmen-segmen ini untuk mengenali karakter virus dan membandingkannya dengan virus lain. Kemungkinan perubahan atau pertukaran segmen pada varian yang beredar di Eropa masih menjadi bahan penelitian.
6. Satu kasus belum cukup untuk mengetahui pola penyakit pada manusia

ilustrasi hewan ternak (unsplash.com/Michael Fousert) Sebelum laporan dari Prancis, tidak ada infeksi Shamonda pada manusia yang terdokumentasi meski virus telah dikenal sejak 1960-an. Karena itu, satu kasus ini belum memberi jawaban tentang seberapa sering virus dapat menginfeksi manusia, gejala yang mungkin muncul pada orang lain, atau faktor yang memengaruhi tingkat keparahannya.
Pasien dalam laporan tersebut mengalami gangguan kekebalan berat dan sedang dirawat untuk penyakit serius. Kondisinya itu belum cukup untuk menggambarkan risiko bagi masyarakat umum.
Otoritas Prancis menyatakan belum mengidentifikasi risiko kesehatan bagi populasi umum berdasarkan pengetahuan yang tersedia saat ini, sementara penyelidikan klinis dan epidemiologis berlanjut.





















![[QUIZ] Pilih Menu Ayam Favoritmu, Kami Tebak Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)
![[QUIZ] Pilih Mesin Gym Favorit, Kami Tebak Personality Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)