Terprovokasi Hoaks, Pemuda di RD Kongo Bunuh Perawat Ebola

- Seorang perawat senior Ebola tewas diserang pemuda bersenjata di Bafwasende setelah hoaks menuduh petugas kesehatan menyebarkan virus melalui sungai dan sanitasi.
- Pasca-serangan, tenaga medis mengungsi di Rumah Sakit Umum Bafwasende di bawah penjagaan polisi; WHO dan PBB mengecam kekerasan terhadap petugas kesehatan.
- Wabah Ebola Bundibugyo telah mencatat lebih dari 9.700 kasus dan 4.700 kematian sejak Mei, sementara hoaks menghambat pelacakan, karantina, serta penanganan pasien.
Jakarta, IDN Times - Seorang perawat senior yang menangani pasien Ebola tewas diserang sekelompok pemuda di Kota Bafwasende, Republik Demokratik Kongo. Aksi kekerasan ini dipicu oleh peredaran kabar bohong (hoaks) di tengah masyarakat terkait upaya penanganan wabah tersebut.
Menyusul insiden ini, para tenaga medis memilih menghentikan tugas lapangan dan mengungsi ke rumah sakit demi keselamatan mereka. Otoritas setempat bersama Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengecam keras penyerangan terhadap petugas kesehatan di tengah lonjakan kasus kematian akibat Ebola.
1. Kronologi penyerangan terhadap perawat senior
Korban merupakan tenaga kesehatan berpengalaman di Rumah Sakit Umum Bafwasende. Selain merawat pasien, ia aktif memberikan edukasi kepada warga mengenai bahaya virus Ebola serta cara pencegahan penularannya.
Pada Jumat (23/10/2026) sore, korban bersama rekannya dihadang oleh sekelompok pemuda bersenjatakan parang dan pentungan. Massa menuduh para petugas sengaja menyebarkan virus melalui aliran sungai dan fasilitas sanitasi warga. Akibat luka parah yang dideritanya, korban meninggal dunia di lokasi kejadian sebelum bantuan tiba, sementara rekannya berhasil diselamatkan aparat dan dilarikan ke rumah sakit.
"Kami sangat terkejut warga tega menyerang perawat ini. Sulit dipercaya ia justru dicurigai sebagai orang asing," kata seorang pejabat kesehatan setempat, dilansir BBC.
2. Petugas medis mengungsi di bawah penjagaan polisi
Insiden tersebut memicu ketakutan di kalangan tenaga medis di Bafwasende hingga mereka enggan pulang ke rumah. Saat ini, para petugas memilih mengungsi di Rumah Sakit Umum Bafwasende dengan penjagaan ketat kepolisian, sementara militer sempat diterjunkan untuk memulihkan keamanan kota. Sebelumnya, massa juga sempat membakar rumah seorang pekerja penyuluh kesehatan.
Koordinator Penanggulangan Ebola PBB, Julien Harneis, bersama Direktur Regional WHO Afrika, Dr. Mohamed Yakub Janabi, menegaskan bahwa rasa takut masyarakat tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan tindak kekerasan. Sementara itu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan penghentian segera segala bentuk serangan terhadap petugas medis.
"Setiap petugas yang melindungi masyarakat dari penyakit mematikan ini harus dapat bekerja dengan aman dan bermartabat. Fasilitas serta tenaga kesehatan harus selalu dilindungi," tutur Tedros.
3. Hambatan penanganan wabah akibat maraknya kabar bohong
Penyerangan ini terjadi saat pemerintah RD Kongo tengah berjuang mengendalikan wabah Ebola varian Bundibugyo, yang hingga kini belum memiliki vaksin atau obat antivirus resmi. Upaya penanganan di lapangan pun sangat bergantung pada deteksi dini, pelacakan kontak erat, karantina pasien, serta perawatan medis suportif.
Hingga saat ini, wabah telah meluas ke delapan provinsi, termasuk Tshopo, Bas-Uele, Haut-Uele, dan Kivu Utara, dengan catatan lebih dari 9.700 kasus dan 4.700 korban jiwa sejak pertengahan Mei. Maraknya ketidakpercayaan warga sebelumnya juga memicu aksi perusakan tenda isolasi serta ancaman terhadap relawan medis. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menghentikan proses pelacakan pasien dan mempercepat penularan virus di masyarakat.























