Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Prancis Rusuh karena Harga BBM, Macron Cari Pasokan Solar ke Teluk
Presiden Prancis, Emmanuel Macron (Katja Kodba, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Macron mengamankan tambahan pasokan solar dari UEA dan Bahrain, sehingga total komitmen bersama Arab Saudi mencapai 295 ribu ton per bulan untuk meredam lonjakan harga BBM.
  • Prancis melepas 10 juta barel solar cadangan strategis mulai November, sementara Kuwait memasok wilayah Mayotte dan Reunion melalui Oman demi menghindari blokade Selat Hormuz.
  • Kerusuhan terkait biaya hidup dan harga bahan bakar memicu lebih dari 2.500 penangkapan, kerusakan sekitar 3.000 usaha, serta kerugian yang diperkirakan melampaui 1 miliar dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengamankan tambahan pasokan solar sebanyak 200 ribu ton per bulan dari Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dalam kunjungan diplomatiknya ke kawasan Teluk pada Selasa (20/10/2026). Kesepakatan ini diumumkan Istana Kepresidenan Elysee guna meredam krisis biaya hidup dan lonjakan harga bahan bakar yang memicu kerusuhan hebat di Prancis sepanjang akhir pekan lalu.

Lawatan tiga hari Macron ke UEA, Kuwait, Bahrain, dan Qatar ini berlangsung saat perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran telah berjalan delapan bulan sejak Februari lalu. Blokade Iran di jalur ekspor utama Selat Hormuz selama konflik tersebut membuat harga minyak mentah dan solar dunia melambung tinggi. Pemerintah Prancis kini bekerja sama dengan para distributor bahan bakar agar tambahan pasokan dari negara-negara Teluk dapat langsung menurunkan harga jual bagi konsumen di dalam negeri.

1. Macron amankan total 295 ribu ton solar tambahan

Presiden Prancis Emmanuel Macron (Spc. Thurnapuf Valle, Public domain, via Wikimedia Commons)

Dalam kesepakatan terbaru itu, UEA dan Bahrain masing-masing berkomitmen memasok sekitar 100 ribu ton solar per bulan untuk Prancis. Jika digabungkan dengan pengiriman dari Arab Saudi, total komitmen pasokan yang dikantongi Paris mencapai 295 ribu ton per bulan atau setara lebih dari 10 persen total konsumsi nasional.

Selain tiga negara tersebut, Kuwait turut memberikan komitmen untuk mengirimkan solar dan minyak tanah ke wilayah seberang laut Prancis di Samudra Hindia, yakni Mayotte dan Reunion. Pengiriman ini akan disalurkan melalui Oman guna menghindari jalur Selat Hormuz yang masih diblokade. Istana Elysee juga tengah bernegosiasi dengan negara-negara di kawasan tersebut untuk menurunkan biaya asuransi maritim agar perusahaan kapal dapat mengangkut minyak dalam jumlah lebih besar dengan biaya lebih murah.

Di sisi lain, Prancis telah melepas 10 juta barel solar dari cadangan strategis nasionalnya untuk memangkas harga sebesar 12 hingga 18 sen per liter atau sekitar lima hingga delapan persen mulai November mendatang. Langkah ini menyusul kesepakatan negara-negara anggota G7, yang tahun ini diketuai Prancis, pada awal Oktober untuk menggelontorkan hingga 100 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka.

Para penasihat kepresidenan menyatakan kepuasannya atas jumlah pasokan solar yang berhasil diamankan selama tur tersebut. Kepala raksasa minyak Prancis TotalEnergies, Patrick Pouyanne, yang turut mendampingi Macron bersama pemimpin perusahaan energi Engie, menegaskan kesepakatan ini akan menenangkan masyarakat Prancis.

"Kami tidak akan kehabisan solar pada Februari. Kesepakatan ini akan menenangkan warga Prancis," ujar Pouyanne, dilansir The Straits Times.

2. Prancis perkuat kerja sama pertahanan dan investasi di Qatar

bendera Qatar (unsplash.com/monk333)

Setelah merampungkan agenda di Bahrain, Macron melanjutkan kunjungan kenegaraan selama dua hari ke Doha, Qatar, dan disambut upacara kehormatan militer oleh Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani. Keduanya menggelar pertemuan di Istana Lusail untuk membahas penguatan hubungan strategis yang mencakup berbagai sektor.

Direktur Media dan Komunikasi Kementerian Luar Negeri Qatar, Ibrahim bin Sultan Al Hashmi, menyebut Prancis sebagai sekutu penting yang turut mengerahkan jet tempur untuk membantu pertahanan udara Doha selama perang Iran berlangsung. Kunjungan ini juga menindaklanjuti komitmen investasi senilai 10 miliar euro (Rp202 triliun) dari Qatar ke Prancis yang telah disepakati pada 2024 di sektor transisi energi, AI, kedirgantaraan, dan kesehatan. TotalEnergies sendiri telah memiliki kemitraan besar dengan QatarEnergy dalam proyek perluasan gas alam cair (LNG) North Field East.

Profesor dari School of Security Studies di King's College London, Andreas Krieg, menilai kesepakatan energi Prancis ini merupakan bagian dari pola kerja sama yang lebih luas antara kawasan Teluk dan Eropa. Dalam beberapa bulan terakhir, negara-negara Teluk telah mengirim delegasi ke London, Paris, Berlin, dan Roma untuk mencari akses ke industri pertahanan Eropa. Langkah ini diambil karena kedua belah pihak merasa semakin dikesampingkan oleh AS sehingga mendorong mereka untuk mengurangi ketergantungan pada Washington.

"Mereka melihat adanya keterkaitan yang semakin besar antara kepentingan mereka dan kepentingan Eropa. Hal ini terjadi di bidang energi maupun rantai pasok," kata Krieg, dilansir Al Jazeera.

3. Kerusuhan di Prancis picu ribuan penangkapan

ilustrasi protes di Paris, Prancis. (unsplash.com/Norbu GYACHUNG)

Keberangkatan Macron ke kawasan Teluk pada Minggu (18/10/2026) tetap dilaksanakan meski Prancis tengah dilanda kerusuhan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Unjuk rasa yang awalnya dipelopori para pelajar terkait kondisi ruang kelas beberapa pekan lalu telah meluas menjadi aksi kekerasan yang melibatkan lebih dari 500 ribu orang dari berbagai serikat pekerja, aktivis lingkungan, hingga kelompok politik. Macron membela keputusannya untuk tetap melakukan lawatan luar negeri karena menilai tingginya harga bahan bakar merupakan salah satu pemicu utama kemarahan warga.

Otoritas Prancis melaporkan lebih dari 2.500 orang telah ditangkap menyusul aksi pembakaran gedung bersejarah dan penjarahan terhadap sekitar 3 ribu tempat usaha. Analisis perusahaan jasa keuangan Morningstar memperkirakan total kerugian akibat kerusuhan tersebut melampaui 1 miliar dolar AS (sekitar Rp18 triliun). Kekerasan di jalanan dilaporkan mulai mereda setelah pemerintah memberlakukan jam malam di Paris dan sejumlah kota besar lainnya.

Tokoh oposisi sayap kanan, Marine Le Pen, menyebut Prancis di bawah kepemimpinan Macron terjebak di antara kekerasan dan ketidakberdayaan. Sementara itu, kandidat presiden dari kubu sosialis, Jean-Luc Melenchon, menuding pemerintah hanya mengandalkan kebrutalan polisi dalam meredam amuk massa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article