Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

El Nino Menguat hingga 2027, Ini Dampaknya di Asia Pasifik!

5 min read
El Nino Menguat hingga 2027, Ini Dampaknya di Asia Pasifik!
ilustrasi dampak El Nino (pexels.com/kevin yung)
  • El Nino diperkirakan menguat dan bertahan setidaknya hingga 2027, memengaruhi pola cuaca di sejumlah wilayah Asia Pasifik.

  • Indonesia menghadapi karhutla luas sejak Januari 2026, sementara dampak asap dirasakan masyarakat di Sumatra dan Kalimantan.

  • Aktivitas badai meningkat di Pasifik timur, sedangkan India, Jepang, dan China menghadapi perubahan hujan atau siklon tropis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Fenomena El Nino yang menguat dalam beberapa bulan terakhir mulai memberikan dampak signifikan terhadap pola cuaca global. Sejumlah negara, termasuk Indonesia, India, dan Amerika Serikat, mengalami kekeringan, banjir, hingga gelombang panas seiring perubahan pola cuaca yang berkaitan dengan fenomena tersebut.

BBC Weather, Rabu (21/10/2026) melaporkan, El Nino diperkirakan semakin menguat dan bertahan setidaknya hingga 2027, menurut informasi yang dikaitkan dengan badan meteorologi dunia. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menghangat secara signifikan, sehingga memengaruhi pola atmosfer dan cuaca di berbagai wilayah.

Di Indonesia, dampak cuaca panas dan kering terlihat dari meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BBC Weather menyebut Indonesia sedang menghadapi musim kebakaran terburuk sejak 2015, dengan luas lahan terbakar mencapai hampir 900 ribu hektare sejak Januari 2026.

Selain Indonesia, El Nino juga berkaitan dengan meningkatnya aktivitas badai di Samudra Pasifik bagian timur, sementara musim badai Atlantik relatif sepi. Di India, curah hujan monsun berada di bawah rata-rata, sedangkan Jepang dan China bagian timur menghadapi aktivitas siklon tropis yang tinggi.

  1. 1. Indonesia hadapi karhutla terburuk sejak 2015

    IMG_3175.jpeg
    Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Antoni terus memperkuat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Hari ini, water bombing telah dilakukan 26 kali water bombing di wilayah Sungai Perlu dan Teluk Rengas, Tanjung Puting. (Dok. Kemenhut)

    BBC Weather melaporkan, Indonesia telah mengalami kebakaran yang menghanguskan setidaknya 895.657 hektare lahan sejak Januari 2026. Luas tersebut hampir enam kali luas wilayah London Raya dan lebih dari dua kali luas area yang terbakar sepanjang tahun sebelumnya, ketika El Niño tidak menjadi faktor pengaruh.

    Karhutla tersebut berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Sejumlah sekolah terpaksa ditutup, sementara jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit dilaporkan meningkat. Jutaan orang di Sumatra dan Kalimantan juga terpapar kabut asap berbahaya dari kebakaran.

    BBC Weather menyebut sekitar 175 ribu orang mengalami gangguan pernapasan akibat asap. Lebih dari 40 ribu kasus di antaranya dialami balita, dengan keluhan mulai dari batuk dan bronkitis hingga penyakit yang lebih serius seperti pneumonia.

    Indonesia memang cenderung mengalami cuaca lebih panas dan kering ketika El Niño berlangsung. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama ketika vegetasi mengering dan api lebih mudah menyebar.

    Meski demikian, El Nino bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keparahan karhutla. Kondisi lahan, sumber penyulutan api, aktivitas manusia, serta upaya pencegahan dan pemadaman juga berpengaruh terhadap luas kebakaran.

  2. 2. Badai Pasifik meningkat, Atlantik justru relatif sepi

    Ombak di laut lepas
    Angin monsun bertiup di sekitar Samudra Pasifik. (pexels.com/mikhailnilov)

    Berbeda dari Atlantik, Samudra Pasifik bagian timur mengalami musim badai yang sangat aktif. BBC Weather mencatat terdapat 22 badai bernama dan 12 badai berstatus hurikan, termasuk 10 hurikan besar. Angka tersebut telah melampaui jumlah yang biasanya terbentuk sepanjang satu musim rata-rata, meskipun musim badai masih menyisakan sekitar dua bulan.

    El Nino dapat mendukung penguatan badai di kawasan tersebut melalui suhu permukaan laut yang lebih hangat dan melemahnya angin di lapisan atmosfer atas. Kondisi itu memungkinkan badai berkembang dan menguat lebih mudah.

    BBC Weather mencontohkan Badai Polo, yang mengalami penguatan cepat dengan embusan angin mencapai 180 mil per jam atau sekitar 285 kilometer per jam. Badai tersebut juga terbentuk di tengah kondisi ketika beberapa hurikan lain aktif secara bersamaan di cekungan Pasifik yang sama.

    Sebaliknya, aktivitas badai di Samudra Atlantik relatif rendah. El Nino cenderung meningkatkan wind shear atau perubahan kecepatan dan arah angin pada ketinggian berbeda di Atlantik utara. Kondisi tersebut dapat mengganggu struktur badai dan menghambat pembentukannya.

    “Hingga periode pelaporan tersebut hanya terdapat delapan badai tropis bernama di Atlantik. Sementara itu, hanya satu hurikan (badai) yang dilaporkan terbentuk, yakni Isaias, yang mencapai daratan di wilayah Florida Panhandle dan Alabama,” lapor BBC Weather.

    Angka-angka ini merujuk pada periode laporan sumber, bukan kondisi terkini.

  3. 3. India kekurangan hujan monsun, Jepang dan China terdampak siklon

    ilustrasi bendera negara India
    ilustrasi bendera negara India (pexels.com/Still Pixels)

    Dampak El Nino juga terlihat di India, yang mengandalkan hujan monsun untuk mendukung sektor pertanian. BBC Weather melaporkan curah hujan monsun India berada 13 persen di bawah rata-rata.

    Namun, angka nasional tersebut tidak menggambarkan kondisi di setiap wilayah. India bagian tengah menerima curah hujan yang mendekati normal, sedangkan India bagian timur dan timur laut mengalami curah hujan sekitar 26 persen di bawah rata-rata. Wilayah selatan India juga tercatat mengalami kekurangan hujan sekitar 24 persen.

    Pola hujan yang tidak merata turut menambah tekanan terhadap pertanian. Di sejumlah wilayah, hujan tidak turun secara konsisten seperti biasanya, melainkan berganti antara periode kering yang panjang dan hujan ekstrem. Para ilmuwan mengingatkan El Niño bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi musim monsun India.

    Sementara itu, kawasan Pasifik bagian barat, termasuk Jepang dan China bagian timur, menghadapi aktivitas siklon tropis yang tinggi. BBC Weather melaporkan terdapat 10 siklon tropis di Samudra Pasifik bagian barat, jumlah tertinggi dalam satu musim sejak 1966 menurut badan meteorologi Jepang yang dikutipnya.

    El Nino mengubah pola angin di Pasifik sehingga siklon tropis cenderung terbentuk lebih jauh ke timur. Perjalanan yang lebih panjang di atas perairan hangat dapat memberi waktu tambahan bagi badai untuk memperoleh energi dan berkembang menjadi topan yang lebih kuat sebelum mencapai daratan.

    Laporan tersebut menyebutkan masih ada kemungkinan terbentuknya topan tambahan yang dapat berdampak terhadap Jepang maupun China bagian timur. Namun, tingkat dampaknya tetap bergantung pada perkembangan masing-masing badai dan kondisi atmosfer saat itu.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More