Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Presiden Lebanon Minta Trump Selalu Bela Negaranya dari Israel
Presiden Lebanon, Joseph Aoun (kiri), sedang melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio (kanan), di Kota New York pada September 2025. (flickr.com/U.S. Department of State via commons.wikimedia.org/U.S. Department of State)
  • Presiden Lebanon Joseph Aoun meminta Donald Trump terus membela negaranya dari ancaman Israel setelah tercapainya kesepakatan damai yang dimediasi Amerika Serikat.
  • Kesepakatan damai 26 Juni 2026 mengatur penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hizbullah, namun ditolak keras oleh pimpinan Hizbullah Naim Qassem serta memicu demo besar di Beirut.
  • Meskipun ada perjanjian damai, Israel tetap melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon selatan untuk menekan Hizbullah agar menyerah dan melucuti senjatanya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Lebanon, Joseph Aoun, dalam pernyataannya pada Sabtu (4/7/2026) meminta Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk selalu membela negaranya dari ancaman Israel. Permintaan ini merupakan respons Aoun usai Lebanon dan Israel menyepakati kesepakatan damai yang didukung AS. 

Aoun menganggap kesepakatan damai dengan Israel berhasil dicapai berkat mediasi AS. Sebab, Trump selalu berjuang untuk menjadi penengah antara Lebanon dan Israel agar perang kedua negara bisa segera berakhir. Trump juga dengan tegas menentang keberadaan Hizbullah yang menjadi biang kerok mengapa Beirut terlibat perang dengan Tel Aviv. 

1. Lebanon dan Israel meraih kesepakatan soal Hizbullah

potret bendera Israel (kanan) dan Lebanon (kiri) (commons.wikimedia.org/Danielrosehill)

Kesepakatan damai Lebanon dan Israel sendiri diraih pada 26 Juni lalu. Dalam kesepakatan itu, Israel bersedia menarik mundur semua pasukannya dari Lebanon selatan dan berhenti melakukan serangan terhadap Hizbullah. Namun, sebagai balasannya, Hizbullah juga harus bersedia melucuti senjata mereka dan menghentikan serangan terhadap Israel. 

Kesepakatan ini akhirnya menuai kecaman dari Hizbullah. Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, mengatakan, dirinya tidak akan pernah bersedia menyerah dan melucuti senjata pasukannya dalam keadaan apa pun. “Kami tidak meninggalkan medan perang dalam keadaan yang paling sulit (sekalipun),” ujar Qassem, seperti dilansir Jerusalem Post

2. Pendukung Hizbullah menggelar demo imbas kesepakatan Lebanon dan Israel

ilustrasi demo pada malam hari (pexels.com/Maurício Mascaro)

Kesepakatan antara Lebanon dan Israel ini juga menuai protes dari para pendukung Hizbullah. Pada 27 Juni, mereka menggelar demo besar-besaran di Ibu Kota Beirut guna memprotes kesepakatan itu. Sebab, kesepakatan itu dinilai sangat merugikan Hizbullah karena mewajibkan milisi tersebut untuk melucuti senjatanya dan menyerah terhadap Israel.

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, kala itu, terlihat banyak warga Lebanon berkumpul di Beirut pada malam hari waktu setempat. Mereka membawa motor seraya mengibarkan bendera Hizbullah dan bendera Iran. Mereka juga membakar ban dan memblokade sejumlah jalan di Beirut sehingga lalu lintas di sana menjadi sedikit terganggu. 

3. Israel masih menyerang Lebanon

Sebuah bangunan di Kota Beirut, Lebanon, hancur akibat serangan Israel. (pexels.com/Jo Kassis)

Meski sudah menyepakati perdamaian, Israel rupanya masih menyerang Lebanon untuk membasmi Hizbullah. Sebab, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan akan tetap menyerang Lebanon sampai Hizbullah mau menyerah dan melucuti senjatanya.

Serangan terakhir negara Yahudi tersebut terjadi pada Kamis (2/7/2026) lalu. Kala itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyerang sebuah wilayah di dekat Rumah Sakit Ghandour yang terletak di Distrik Nabatieh, Kota Nabatieh Al-Faqwa, Lebanon selatan. Israel juga meluncurkan serangan udara ke Distrik Bin Jbeil, Kota Braashit. Namun, tidak laporan mengenai korban jiwa dalam serangan tersebut. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article