Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Imbas Gelombang Panas, Prancis Hadapi Mosi Tidak Percaya

Imbas Gelombang Panas, Prancis Hadapi Mosi Tidak Percaya
Bendera Prancis (unsplash.com/Anthony Choren)
Intinya Sih
  • Pemerintah Prancis menghadapi mosi tidak percaya dari koalisi oposisi kiri setelah gelombang panas ekstrem menimbulkan korban jiwa dan kritik atas lambatnya respons pemerintah.
  • Mosi terhadap kabinet Perdana Menteri Sebastien Lecornu diprediksi gagal karena kurang dukungan dari partai mayoritas dan penolakan National Rally untuk ikut menjatuhkan pemerintahan.
  • Gelombang panas meningkatkan angka kematian hingga 30 persen serta memicu kebakaran hutan di selatan Prancis, memaksa evakuasi ribuan warga dan turis demi keselamatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Prancis menghadapi tekanan politik besar setelah gelombang panas ekstrem melanda negara tersebut pada akhir Juni lalu. Menanggapi situasi darurat ini, sejumlah anggota parlemen oposisi resmi mengajukan mosi tidak percaya pada Kamis (2/7/2026).

Mosi tersebut didaftarkan di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman cuaca ekstrem berikutnya yang diperkirakan tiba pekan depan. Meski demikian, upaya menjatuhkan kabinet ini diprediksi gagal karena minimnya dukungan dari kelompok mayoritas di parlemen.

1. Partai oposisi daftarkan mosi tidak percaya

Koalisi yang mengajukan mosi tidak percaya ini terdiri dari tiga fraksi politik sayap kiri di Majelis Nasional Prancis. Gerakan ini didukung oleh 32 anggota parlemen Partai Hijau, 25 anggota France Unbowed, dan satu perwakilan dari Partai Sosialis.

Partai oposisi menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas jatuhnya korban jiwa akibat penanganan krisis yang dinilai lambat. Sidang resmi untuk membahas mosi terhadap jalannya pemerintahan ini dijadwalkan berlangsung pada 6 Juli 2026.

"Mosi ini kami ajukan untuk memprotes ketidaksiapan pemerintah, baik dalam menghadapi gelombang panas kemarin maupun gelombang panas yang akan datang," kata Ketua Fraksi Partai Hijau, Cyrielle Chatelain, dilansir The Straits Times.

2. Peluang mosi tidak percaya diprediksi tipis

Upaya kelompok oposisi untuk menjatuhkan kabinet Perdana Menteri Sebastien Lecornu dinilai sulit berhasil. Sebab, partai oposisi sayap kanan, National Rally, sudah menegaskan tidak akan mendukung gerakan tersebut.

Selain itu, faksi Sosialis juga dikenal jarang memberikan suara untuk mendukung mosi tidak percaya. Menanggapi tuduhan oposisi, Perdana Menteri Lecornu menegaskan bahwa pemerintah telah mengaktifkan rencana darurat kesehatan tertinggi (ORSAN).

Perdana Menteri Lecornu juga menolak perkiraan jumlah korban jiwa yang dikeluarkan oleh beberapa politisi Partai Hijau. Ia menilai data tersebut tidak berdasar dan bisa memicu kepanikan di masyarakat.

"Angka sepuluh ribu kematian yang mereka sebutkan itu sangat berlebihan dan tidak pantas," tegas Perdana Menteri Sebastien Lecornu.

3. Dampak gelombang panas bagi kesehatan dan lingkungan

Otoritas kesehatan Prancis mencatat angka kematian meningkat hingga hampir 30 persen selama puncak gelombang panas di bulan Juni. Meski begitu, Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa rumah sakit saat ini jauh lebih siap menangani pasien darurat dibanding saat krisis tahun 2003.

Selain masalah kesehatan, kekeringan parah akibat cuaca ekstrem ini memicu kebakaran hutan di Prancis bagian selatan. Pemerintah terpaksa mengevakuasi ribuan warga dan turis dari beberapa lokasi perkemahan, serta mengerahkan pesawat pemadam untuk memadamkan api.

"Kebakaran hutan ini terjadi sekitar dua hingga tiga minggu lebih awal dari biasanya," ujar Perdana Menteri Sebastien Lecornu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More