Pimpinan ISIS Dilumpuhkan, AS Tarik Sebagian Pasukan dari Nigeria

- AS menarik sebagian besar pasukan khususnya dari timur laut Nigeria setelah operasi menargetkan pimpinan IS dinyatakan selesai, namun tetap melanjutkan dukungan intelijen bagi otoritas Nigeria.
- Operasi gabungan AS–Nigeria di Danau Chad berhasil menewaskan hampir 200 milisi IS termasuk wakil komandan globalnya, serta melumpuhkan jaringan komunikasi dan pergerakan kelompok tersebut.
- Nigeria masih menghadapi ancaman berlapis dari kelompok ekstremis seperti Boko Haram dan ISWAP, ditambah meningkatnya aksi kriminal bersenjata yang menyebar ke wilayah tengah hingga selatan.
Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) menarik sebagian besar pasukan operasi khususnya dari wilayah timur laut Nigeria setelah misi menargetkan kepemimpinan kelompok militan Negara Islam (IS) atau ISIS dinyatakan selesai. Komandan Komando Afrika AS (AFRICOM), Jenderal Dagvin Anderson, mengonfirmasi bahwa personel tersebut memang hanya dikirim untuk operasi sementara. Kendati demikian, dukungan intelijen kepada otoritas Nigeria dipastikan tetap berjalan.
"Kami telah menarik sebagian besar pasukan yang berada di sana hanya untuk operasi tersebut. Namun, kami terus melanjutkan kemitraan yang diminta Nigeria untuk membantu berbagi intelijen dan pemahaman yang diperlukan dalam melaksanakan tugas-tugas sulit ini," ujar Anderson dalam konferensi kepala pertahanan Afrika di Luanda, Angola, Kamis (2/7/2026), dikutip dari DW.
1. Operasi gabungan lumpuhkan ratusan militan di Danau Chad

Dilansir dari BBC, operasi bersama militer AS dan Nigeria dipusatkan di kawasan Danau Chad sejak Desember tahun lalu, dimulai dengan serangan udara pada Hari Natal yang disusul penerjunan sekitar 200 tentara dua bulan kemudian. Misi ini berhasil menewaskan hampir 200 milisi IS, termasuk Abu-Bilal al-Minuki yang merupakan wakil komandan global kelompok jihadis tersebut. Selain itu, jalur komunikasi dan ruang gerak jaringan teror mereka berhasil dilumpuhkan secara signifikan.
Menteri Pertahanan Nigeria, Christopher Musa, menjelaskan bahwa pasukan tempur AS datang khusus untuk operasi tersebut, lalu langsung kembali setelah tugas selesai. Ia memastikan penarikan ini tidak memengaruhi momentum militer domestik karena pasukan Nigeria tetap aktif memburu sisa kelompok militan secara mandiri.
2. Dukungan reguler AS dipastikan tetap berjalan

Meski pasukan operasi khusus telah ditarik, kerja sama militer kedua negara tidak sepenuhnya berhenti. Juru bicara militer Nigeria, Jenderal Mayor Samaila Uba, menyatakan bahwa personel militer AS yang ditugaskan untuk pelatihan bantuan teknis sejak awal tahun, sebelum operasi Danau Chad dimulai, tetap bertahan di Nigeria untuk menjalankan tugas reguler mereka.
Hal senada disampaikan oleh Jenderal Mayor Michael Onoja yang menegaskan pertukaran informasi intelijen antarkedua negara akan terus berlanjut demi menjaga stabilitas kawasan.
3. Nigeria masih hadapi tantangan keamanan berlapis

Penarikan pasukan ini terjadi di tengah perjuangan panjang Nigeria melawan insurgensi kelompok ekstremis di wilayah utara yang berlangsung sejak 2009, dimulai dari Boko Haram hingga faksi regionalnya, Negara Islam Provinsi Afrika Barat (ISWAP). Peningkatan serangan terhadap pangkalan militer dan warga sipil sempat membuat Presiden Bola Tinubu menyatakan status darurat nasional pada 2025.
Mayoritas korban dari kelompok jihadis ini merupakan umat Muslim karena basis operasi mereka berada di wilayah utara yang didominasi penduduk Muslim. Selain terorisme, pemerintah Nigeria saat ini juga harus menghadapi tantangan keamanan lain berupa aksi kriminalitas bersenjata dan bandit yang mulai meluas ke wilayah tengah hingga selatan.




















