AS Bentuk Mekanisme Khusus Pantau Konflik Israel-Hizbullah di Lebanon

- Amerika Serikat mengaktifkan mekanisme pemantauan CENTCOM untuk mengawasi konflik Israel-Hizbullah di Lebanon, dengan tujuan memperkuat gencatan senjata dan mendorong proses perdamaian regional.
- Dialog AS-Iran di Swiss menghasilkan pembentukan sel dekonfliksi serta tiga kelompok kerja teknis yang membahas isu nuklir, sanksi, dan pemantauan gencatan senjata dengan dukungan Qatar dan Pakistan.
- Israel tetap menempatkan pasukan di sepanjang Garis Kuning meski situasi relatif tenang, sementara Hizbullah menolak kehadiran militer Israel dan menegaskan kedaulatan penuh Lebanon atas wilayahnya.
Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) pada Senin (22/6/2026) telah mengaktifkan mekanisme pemantauan melalui Komando Pusat militer AS (CENTCOM) untuk mengawasi pertempuran antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Berdasarkan keterangan seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim, langkah tersebut ditempuh untuk memperkuat gencatan senjata sekaligus mendorong proses perdamaian antara Israel dan Lebanon.
Pejabat tersebut menjelaskan tujuan dari inisiatif yang dijalankan Washington.
“Tujuan bersama kita ialah mengakhiri siklus kekerasan untuk selamanya. Kita memungkinkan Israel dan Lebanon bernegosiasi sebagai dua negara berdaulat dan menemukan cara mencapai perdamaian serta keamanan,” ujar pejabat tersebut, dikutip Bernama.
1. AS menyiapkan pembicaraan lanjutan di Washington

Pembentukan mekanisme CENTCOM dilakukan setelah Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, serta Presiden Lebanon, Joseph Aoun, pada pekan lalu. Pembahasan tersebut berfokus pada penguatan gencatan senjata dan agenda perundingan yang akan berlangsung di Washington pada 23-25 Juni 2026 dengan mediasi AS.
Selain itu, AS dan Iran menyetujui pembentukan sel dekonfliksi yang melibatkan AS, Iran, dan Lebanon. Berdasarkan laporan mediator dari Qatar dan Pakistan, mekanisme tersebut disiapkan untuk memastikan seluruh pihak mematuhi penghentian operasi militer di Lebanon.
2. Dialog AS-Iran membentuk kelompok kerja teknis

Kesepakatan mengenai pembentukan sel dekonfliksi dicapai dalam putaran pertama dialog AS-Iran di resor Burgenstock, Swiss. Perundingan tersebut melanjutkan kesepakatan sebelumnya yang membuka ruang negosiasi selama 60 hari melalui dokumen berisi 14 poin.
Dokumen itu memuat seruan penghentian permanen operasi militer di seluruh front, pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran, serta jaminan jalur aman bagi kapal komersial di Selat Hormuz. Selain itu, dialog tersebut juga menghasilkan tiga kelompok kerja teknis yang menangani isu nuklir, sanksi, dan pemantauan gencatan senjata.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan apresiasi terhadap upaya mediasi yang dilakukan Pakistan dan Qatar. Ia menilai kedua negara tersebut berperan dalam tercapainya perkembangan dalam perundingan.
3. Israel mempertahankan pasukan di Garis Kuning

Meski wilayah Lebanon selatan relatif tenang, pasukan Israel masih berada dalam posisi siaga di sepanjang Garis Kuning yang berjarak sekitar 10 kilometer dari perbatasan. Netanyahu menyatakan keberadaan militer Israel di kawasan tersebut akan dipertahankan selama masih dibutuhkan.
Dilansir Al-Monitor, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menolak kehadiran pasukan Israel dan menyatakan kedaulatan wilayah sepenuhnya berada di tangan angkatan darat nasional Lebanon. Lebanon dan Israel sebenarnya telah mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 3 Juni 2026, namun Hizbullah menolak kesepakatan itu dan tetap berkomitmen melanjutkan perjuangan sampai seluruh pasukan Israel mundur.
Aoun menyambut baik dukungan internasional yang diberikan kepada Lebanon dan mengatakan bahwa hanya negara yang kuat dan tunggal, bukan kelompok-kelompok, yang berhak melindungi warga Lebanon.
Pembicaraan langsung tingkat duta besar antara Lebanon dan Israel sendiri telah dimulai di Washington sejak 16 April 2026.















