Profil Arrmanatha Nasir, Pengganti Sugiono Jadi Menlu RI

Arrmanatha Nasir resmi dilantik sebagai Menteri Luar Negeri oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (1/10/2026), menggantikan Sugiono.
Diplomat karier ini pernah menjadi Juru Bicara Kemenlu serta Duta Besar RI untuk Prancis dan PBB.
Kariernya mencakup pengalaman di sektor perbankan, Kementerian Luar Negeri, PBB, dan WTO.
Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Luar Negeri Luar Negeri (Wamenlu) Arrmanatha Nasir resmi menjadi Menteri Luar Negeri (Menlu) menggantikan Sugiono. Diplomat karier ini dilantik pada Kamis (1/10/2026) oleh Presiden Prabowo Subianto.
Sebelumnya, pria yang kerap disapa Tata ini, pernah mengemban tugas sebagai Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Duta Besar (Dubes) RI untuk Prancis, hingga Dubes Indonesia untuk PBB dan Otoritas Dasar Laut Internasional.
Arrmanatha lahir di Bangkok, Thailand pada 30 Desember 1971. Saat ini, ia telah berusia 54 tahun. Arrmanatha Nasir telah memiliki istri bernama Nur Indah Sari. Ia juga telah dikaruniai dua putra dan seorang putri.
1. Latar belakang pendidikan
Arrmanatha Nasir menempuh pendidikan tinggi di Inggris. Ia meraih gelar Sarjana Ekonomi (B.A) dari University of Buckingham pada 1993. Setahun kemudian, ia melanjutkan pendidikan magister di University of Leicester dan memperoleh gelar Magister Administrasi Bisnis (MBA) pada 1994.
Arrmanatha kemudian kembali melanjutkan studi di Indonesia. Ia mengambil program Magister Hubungan Internasional di Universitas Indonesia dan menyelesaikan pendidikannya pada 2000.
2. Sempat menjadi bankir
Sebelum terjun ke dunia diplomasi, Nasir sempat berkarier di sektor perbankan. Ia bekerja sebagai account executive di Bank Danamon pada 1995 hingga 1996.
Setelah itu, ia bergabung dengan Bank Dagang Negara sebagai correspondent banking pada 1996 hingga 1997. Ia kemudian bergabung dengan Kemenlu Republik Indonesia pada 1997.
3. Karier di Kemenlu
Arrmanatha mengepalai Desk Kegiatan Operasional Badan Ekonomi dan Sosial PBB di Direktorat Jenderal Urusan Ekonomi Multilateral hingga 2001. Karier diplomatiknya dimulai pada 2001 ketika ia ditugaskan sebagai Sekretaris Kedua pada Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa.
Selama bertugas di Jenewa hingga 2005, Nasir menjadi salah satu negosiator Indonesia di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), khususnya dalam isu perdagangan pertanian.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)

















