Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ribuan Warga Bangladesh Demo Harga Sembako Naik dan Krisis Energi
Aksi demonstrasi (magnific.com/storyset)
  • Ribuan pendukung oposisi melakukan long march dari Dhaka ke Chittagong pada 5 September 2026, memprotes kenaikan harga kebutuhan pokok dan krisis energi.
  • Demonstran mendesak pemerintah Perdana Menteri Tarique Rahman memperbaiki pasokan LPG, listrik, dan pupuk, karena kelangkaan memicu antrean, pemadaman, serta mengganggu usaha dan pertanian.
  • Penahanan mahasiswa yang mengkritik lonjakan tagihan listrik sehari sebelum aksi memicu kecaman kelompok HAM dan akademisi, serta memperbesar isu pembungkaman kebebasan berpendapat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ribuan pendukung oposisi menggelar aksi long march dari ibu kota Dhaka menuju Chittagong, Bangladesh, pada Sabtu (5/9/2026). Demonstrasi damai ini dihelat untuk memprotes lonjakan harga kebutuhan pokok serta krisis energi yang kian mencekik perekonomian masyarakat.

Aksi turun ke jalan ini menjadi unjuk kekuatan massa pertama yang dihadapi pemerintah pusat sejak masa peralihan kekuasaan enam bulan lalu. Unjuk rasa terkoordinasi tersebut sekaligus mencerminkan eskalasi kecemasan publik terhadap stabilitas ekonomi nasional.

1. Mobilisasi massa oposisi lintas wilayah menuju Chittagong

Massa mulai memadati alun-alun ibu kota Dhaka sejak pagi sebelum bergerak melintasi rute antarkota. Para demonstran menggelar serangkaian orasi di sejumlah titik persinggahan hingga akhirnya tiba di kota pelabuhan Chittagong.

Pawai ini menjadi bentuk tekanan terbuka bagi pemerintahan Perdana Menteri Tarique Rahman agar segera membenahi rantai pasok bahan pokok. Konsolidasi kubu oposisi ini mendesak langkah konkret pemerintah dalam mengurai karut-marut logistik nasional.

“Gerakan ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan gas LPG dan memenuhi pasokan listrik bagi setiap rumah tangga,” tegas Pemimpin Oposisi, Shafiqur Rahman, dikutip dari Business Recorder.

2. Kelangkaan energi dan pupuk lumpuhkan perekonomian warga

Masyarakat di berbagai kota kini harus menghadapi antrean panjang untuk mendapatkan tabung gas dan pasrah pada pemadaman listrik bergilir. Kondisi tersebut praktis melumpuhkan bisnis usaha kecil dan aktivitas rumah tangga harian. Di kawasan agraris, kelangkaan pupuk juga kian mengancam produktivitas pertanian warga setempat.

Gangguan pasokan energi di tingkat global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah turut memperparah krisis domestik. Meski begitu, publik tetap mengkritik lambannya birokrasi pemerintah dalam mengantisipasi gejolak ketersediaan komoditas vital negara tersebut.

“Pemerintah harus menyadari bahwa krisis ini tidak bisa diselesaikan sendiri dan perlu membuka ruang dialog bersama partai oposisi,” kata Ketua Fraksi Oposisi, Nahid Islam, dilansir The Daily Star.

3. Penangkapan mahasiswa picu isu pembungkaman kebebasan berpendapat

Ketegangan sosial makin memuncak usai penahanan seorang mahasiswa oleh aparat kepolisian sehari sebelum aksi akbar dimulai. Penangkapan tersebut terjadi lantaran sang mahasiswa menyampaikan kritik tajam terkait lonjakan tagihan listrik.

Tindakan represif aparat ini sontak menuai kecaman keras dari kelompok pegiat hak asasi manusia (HAM) dan kalangan akademisi. Banyak pihak menilai insiden ini membuktikan sikap antikritik penguasa di tengah tingginya keresahan ekonomi rakyat.

“Pemerintah tidak hanya gagal menyediakan pasokan gas, listrik, dan pupuk, tetapi juga membungkam hak rakyat untuk bersuara,” kecam Sekretaris Jenderal Partai Warga Nasional, Akhter Hossen.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article