Fakta-Fakta Kunjungan Komisi Eropa ke Greenland di Tengah Tekanan AS

- Ursula von der Leyen mengunjungi Nuuk selama dua hari untuk menegaskan dukungan diplomatik Uni Eropa kepada Greenland dan Denmark, disertai deklarasi strategis serta dialog bilateral.
- Uni Eropa menyiapkan investasi 200 juta euro untuk 2026–2027, mencakup mineral kritis, energi terbarukan, pusat data, kabel serat optik bawah laut, dan komunikasi satelit.
- Kemitraan ini diperkuat di tengah wacana pembelian Greenland oleh Donald Trump; Denmark dan Greenland menolaknya, sementara Uni Eropa menegaskan dukungan terhadap kedaulatan wilayah.
Jakarta, IDN Times - Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, tiba di Nuuk, Greenland, pada Minggu (6/9/2026) untuk melangsungkan kunjungan kerja selama dua hari. Lawatan ini mempertegas dukungan diplomatik Uni Eropa bagi Greenland dan Denmark dalam menjaga stabilitas kawasan Arktik.
Dalam agenda tersebut, Komisi Eropa dijadwalkan mengumumkan perluasan investasi sekaligus penguatan kerja sama politik pada Senin (7/9/2026). Langkah strategis ini ditujukan untuk memacu pertumbuhan ekonomi di pulau terbesar di dunia tersebut.
1. Kunjungan diplomatik Komisi Eropa perkuat kemitraan strategis di Nuuk

ilustrasi bendera Uni Eropa (pexels.com/Daniel Kružík) Pimpinan eksekutif Uni Eropa itu mendatangi ibu kota Greenland guna memantapkan hubungan kelembagaan. Kedatangan delegasi disambut langsung oleh Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, dan Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen.
Kunjungan ini diisi dengan dialog bilateral yang berujung pada penandatanganan deklarasi strategis antara kedua belah pihak. Selain membahas poin kerja sama, rombongan juga meninjau kawasan pesisir es untuk memantau langsung dampak perubahan iklim di Kutub Utara.
“Kita adalah keluarga dan saya kembali untuk membuat kemitraan unik ini makin kukuh melalui paket kerja sama yang kita susun bersama,” ujar Ursula von der Leyen, dikutip dari CGTN.
2. Suntikan investasi sasar sektor energi dan mineral kritis

ilustrasi bendera Greenland (pexels.com/thebigplanet) Uni Eropa telah menyiapkan paket stimulus pendanaan baru senilai 200 juta euro (Rp4,09 triliun) untuk periode 2026–2027. Dana segar tersebut dialokasikan untuk pengembangan pasokan mineral kritis, energi terbarukan, serta pembangunan infrastruktur pusat data modern.
Inisiatif ini dinilai krusial bagi Eropa demi mengamankan pasokan bahan baku untuk industri ramah lingkungan. Di samping itu, kucuran dana juga akan dialirkan untuk merintis jaringan kabel serat optik bawah laut dan komunikasi satelit di pulau-pulau terpencil.
“Masa depan kawasan Arktik adalah milik masyarakat Arktik sendiri, bukan milik siapa pun yang berambisi untuk membelinya,” tegas Komisaris Kemitraan Internasional Uni Eropa, Jozef Síkela.
3. Menolak tegas wacana pencaplokan wilayah oleh Amerika Serikat

ilustrasi wilayah Greenland (pexels.com/Lara Jameson) Penguatan kemitraan Uni Eropa dan Greenland ini mencuat di tengah ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mewacanakan pembelian pulau tersebut. Wacana aneksasi oleh Washington ini sontak memicu kekhawatiran diplomatik di kawasan Eropa Utara.
Merespons hal itu, Pemerintah Denmark bersama otoritas Greenland menolak keras wacana pencaplokan tersebut demi mempertahankan kedaulatan wilayah mereka. Kehadiran Uni Eropa pun menjadi benteng penyeimbang strategis guna melindungi Greenland dari manuver politik sepihak.
“Eropa secara tegas telah berdiri bersama Greenland serta Kerajaan Denmark dalam menjaga prinsip kedaulatan dan keutuhan wilayah,” ujar Mette Frederiksen, dilansir High North News.


















