Riyadh Jadi Sasaran Houthi, AS Peringatkan Eskalasi Perang Yaman

- Houthi mengklaim menyerang situs sensitif di Riyadh dan fasilitas Aramco Yanbu dengan rudal serta drone; Arab Saudi menyatakan sebagian besar ancaman, termasuk rudal ke ibu kota, berhasil dicegat.
- AS memperingatkan konflik Saudi-Houthi berpotensi meningkat cepat, meminta warganya mempertimbangkan perjalanan ke atau melalui Timur Tengah, serta menyetujui penjualan 48 jet F-35 kepada Arab Saudi.
- Eskalasi memperburuk krisis Yaman: Houthi menguasai pantai Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, memicu lebih dari 110 ribu pengungsi, korban tewas, serta gangguan ekspor minyak dan pelayaran.
Jakarta, IDN Times – Ibu kota Arab Saudi, Riyadh, berada di bawah ancaman serangan rudal langsung dalam eskalasi terbaru perang saudara Yaman. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (19/9/2026) memperingatkan konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran dapat meningkat dengan cepat. Sehubungan dengan ancaman tersebut, warga AS di luar Timur Tengah diminta mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke maupun melalui kawasan tersebut.
Situasi keamanan Riyadh memburuk setelah dua ledakan terdengar dan sebuah tangki bahan bakar berlogo Aramco terbakar di dekat bandara, berdasarkan kesaksian jurnalis Agence France-Presse(AFP). Presiden AS Donald Trump secara mendadak mempersingkat agenda akhir pekannya di Camp David, Maryland, lalu kembali lebih awal ke Gedung Putih tanpa penjelasan resmi. Di sisi lain, Departemen Luar Negeri AS telah menyetujui penjualan 48 jet tempur F-35 senilai 24,3 miliar dolar AS (setara Rp432 triliun) kepada Arab Saudi untuk membantu kerajaan tersebut menghadapi ancaman saat ini dan masa depan.
1. Houthi menargetkan titik vital Arab Saudi

ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Pixabay) Kelompok Houthi mengklaim telah melancarkan serangan besar ke sejumlah lokasi vital di wilayah Arab Saudi. Juru bicara militer Houthi Yahya Saree menyampaikan melalui Telegram bahwa kelompoknya menjalankan dua operasi militer menggunakan sejumlah besar rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak. Sasaran pertama menyasar situs-situs sensitif di Riyadh, sedangkan sasaran kedua mengincar fasilitas Aramco di Yanbu.
Kerajaan Arab Saudi menyatakan sebagian besar ancaman udara tersebut berhasil digagalkan oleh sistem pertahanan mereka. Koalisi pimpinan Riyadh menyampaikan melalui X bahwa sebuah rudal balistik yang meluncur ke arah ibu kota berhasil dicegat dan dihancurkan. Selain itu, upaya kelompok Houthi menyerang warga serta infrastruktur sipil di beberapa kota barat, termasuk pelabuhan ekspor minyak Yanbu di Laut Merah, juga dapat digagalkan.
Suasana mencekam dirasakan oleh warga setempat yang sempat mendengar sirene peringatan serangan udara dan merasakan guncangan pada jendela rumah mereka. Pihak Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi kemudian mencabut peringatan bahaya tersebut sekitar setengah jam setelah ledakan terdengar.
2. AS memperluas peringatan keamanan Timur Tengah

Bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio) Ancaman akibat konflik berdarah tersebut dinilai tidak hanya terbatas di kawasan Semenanjung Arab semata. Media Al Arabiya melaporkan bahwa Departemen Luar Negeri AS menggambarkan lingkungan keamanan Timur Tengah secara lebih luas sebagai wilayah kompleks dengan potensi eskalasi yang tak terduga. Warga AS di kawasan tersebut diminta bersiap menghadapi gangguan perjalanan serta mewaspadai kemungkinan serangan Iran maupun kelompok pendukungnya terhadap fasilitas diplomatik dan bisnis AS di seluruh dunia.
Pemerintah Washington menegaskan dukungannya kepada Arab Saudi sebagai sekutu utama di kawasan tersebut. Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan kepada Al Arabiya bahwa AS berdiri teguh bersama Arab Saudi melawan terorisme Houthi, sembari terus berkonsultasi erat dengan mitra Saudi. Kendati demikian, platform berita Axios melaporkan bahwa Washington sebelumnya sempat menolak permintaan Saudi untuk melancarkan serangan langsung terhadap posisi Houthi.
3. Konflik Yaman memperburuk krisis kemanusiaan

ilustrasi kawasan Timur Tengah (pexels.com/Lara Jameson) Eskalasi pertempuran terbaru ini kian memperparah krisis kemanusiaan dan ekonomi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Dalam beberapa minggu terakhir, kelompok Houthi merebut wilayah luas hingga menguasai seluruh pantai Laut Merah Yaman, termasuk Selat Bab al-Mandab yang sangat strategis. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan serangan kilat tersebut telah menyebabkan lebih dari 110 ribu orang mengungsi dan ratusan orang tewas.
Gempuran tersebut mulai mengganggu ekspor minyak Saudi serta lalu lintas pelayaran maritim di kawasan Laut Merah. Rangkaian serangan udara balasan yang dilancarkan oleh pasukan Saudi sejauh ini belum berhasil menghentikan laju pergerakan kelompok tersebut.
Konflik Yaman bermula pada 2014 ketika Houthi menguasai ibu kota Sanaa, yang kemudian memicu intervensi militer pimpinan Saudi pada Maret 2015. Gencatan senjata yang sempat tercapai pada 2022 akhirnya runtuh pada Juli setelah Houthi mengizinkan pesawat Iran mendarat di Yaman. Ketegangan semakin memuncak setelah Arab Saudi menuduh Houthi menargetkan Kota Mekah pada awal minggu, meski tuduhan itu dibantah keras oleh Houthi sebagai kebohongan usang.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















