Jakarta, IDN Times – Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran, mengklaim Teheran telah menambah ranjau laut di Selat Hormuz dalam operasi semalam pada Rabu (2/9/2026). Klaim yang disampaikan melalui media sosial X ini muncul saat Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan untuk menggagalkan peletakan ranjau menggunakan roket di perairan strategis tersebut.
Zolfaghari menyebut ranjau tambahan itu ditempatkan di sepanjang rute yang disebutnya ilegal di bagian selatan Selat Hormuz.
“Selama operasi semalam tadi, lebih banyak ranjau laut diletakkan di sepanjang rute ilegal di selatan Selat Hormuz,” katanya, dikutip Anadolu Agency.
Zolfaghari juga menyindir usulan Presiden AS Donald Trump yang ingin mengganti nama perairan tersebut menjadi “Selat Trump”. Ia menyebut Komando Pusat militer AS (CENTCOM) hanya bisa mengganti nama selat itu lewat Photoshop, begitu pula cara Washington agar kapal tanker minyaknya bisa melintas.
Teheran tak mengungkap jumlah ataupun titik pasti medan ranjau baru tersebut dan menyatakan hanya pasukan Iran yang mengetahuinya. Sementara itu, CENTCOM mengakhiri jeda serangan selama satu bulan dengan menyerang peluncur roket Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026).
