PM Qatar Kunjungi Iran guna Dorong Mediasi dan Navigasi Selat Hormuz

- PM Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani dijadwalkan ke Teheran pada 27 Agustus 2026 untuk menghidupkan dialog perdamaian dan memulihkan navigasi Selat Hormuz.
- Transit minyak di Selat Hormuz turun dari sekitar 20 juta menjadi lima juta barel per hari, sementara ekspor LNG Qatar anjlok 96 persen dengan kerugian 24 miliar dolar AS.
- Iran menyatakan Selat Hormuz tetap tertutup hingga blokade AS dihentikan, kompensasi dibayar, dan sanksi dicabut; perundingan dengan Oman belum final serta isu tiga pilot Iran masih dibahas.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani, dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Teheran, Iran, pada Kamis (27/8/2026). Langkah diplomasi regional ini dilakukan untuk menghidupkan kembali dialog perdamaian di tengah pertempuran yang mulai mereda namun belum mencapai jalan keluar diplomatik.
Upaya mediasi dari pihak Qatar difokuskan pada pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz yang sempat lumpuh akibat konflik meluas. Melalui perundingan bilateral dengan pejabat senior Iran, Qatar berupaya membuka kembali saluran komunikasi setelah kesepakatan gencatan senjata sebelumnya mengalami kegagalan.
1. Upaya pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz

Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public Domain, via Wikimedia Commons) Kunjungan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani ke Teheran menjadi kedatangan pertamanya ke Iran sejak perang meletus pada 28 Februari 2026, sekaligus menjadi sinyal penting pemulihan dialog di kawasan. Dilansir Reuters via Internazionale, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membenarkan kehadiran diplomat tinggi Qatar tersebut untuk membahas hubungan bilateral serta kelanjutan inisiatif mediasi dan perkembangan kawasan.
Juru bicara pemerintah Qatar, Majed al-Ansari, menyampaikan bahwa pertemuan di Teheran berfokus pada penciptaan kondisi yang kondusif bagi dialog antarbangsa. Pihak Qatar menekankan pentingnya pengembalian status quo navigasi Selat Hormuz seperti sebelum konflik pecah pada 28 Februari 2026. Seperti dilansir Al-Monitor, Qatar berupaya mendorong de-escalation ketegangan antaranegara yang berkonflik.
Selat Hormuz merupakan alur laut vital yang menghubungkan pasokan energi global bagi berbagai negara. Sebelum pertempuran dimulai, koridor ini dilalui sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari. Namun, data pelacakan kapal mencatat volume transit harian merosot hingga lima juta barel pada Senin (24/8/2026).
2. Dampak krisis ekonomi dan diplomasi negara kawasan

ilustrasi peta wilayah Timur Tengah (pexels.com/Lara Jameson) Penutupan Selat Hormuz memberikan dampak finansial yang amat berat bagi perekonomian Qatar. Dilansir Reuters, ekspor gas alam cair atau liquefied natural gas negara tersebut anjlok hingga 96 persen sejak pertempuran meletus. Penurunan drastis ini menimbulkan kerugian ekonomi sebesar 24 miliar dolar AS atau setara Rp426 triliun (kurs Rp17.787) bagi Qatar.
Selain Qatar, sejumlah negara lain di kawasan turut meningkatkan intensitas diplomasi dengan Iran. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, telah menemui Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Teheran pada Selasa (25/8/2026). Pertemuan Oman dan Iran membahas skema koridor navigasi sementara serta rencana pembersihan ranjau laut di Selat Hormuz.
Delegasi Pakistan yang dipimpin Panglima Militer Field Marshal Asim Munir dan Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi juga menggelar pertemuan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Senin (24/8/2026). Dilansir Al-Monitor, militer Pakistan mengonfirmasi adanya kemajuan signifikan dalam upaya menghentikan perang. Langkah diplomatik ini berjalan seiring meningkatnya tekanan ekonomi dari pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.
3. Tuntutan syarat Iran dan isu hilangnya tiga pilot

bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt) Meskipun proses negosiasi terus berjalan, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz secara teknis masih tertutup secara militer. Sementara itu, Juru Bicara Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, mengindikasikan bahwa alur pelayaran tidak akan dibuka jika syarat utama dari Teheran belum dipenuhi. Menurut pihak Iran, persyaratan tersebut mencakup penghentian blokade Amerika Serikat di pelabuhan Iran, ganti rugi, serta pencabutan sanksi ekonomi.
Posisi kesepakatan terkait hak navigasi dan pembagian pendapatan laut juga masih mengalami perbedaan pandangan di internal Iran. Dilansir Reuters, seorang sumber senior Iran menyebut perundingan dengan Oman mengenai rincian perjanjian belum selesai sepenuhnya. Sumber tersebut menyatakan, "Kesepakatan dengan Oman mengenai Selat Hormuz belum difinalisasi."
Di sisi lain, isu sensitif mengenai personel militer turut membayangi hubungan bilateral Qatar dan Iran. Dilansir Al-Monitor melalui kantor berita Mehr, Juru Bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia mengungkapkan bahwa Iran masih menagih kejelasan nasib tiga pilot mereka yang pesawatnya jatuh di Qatar pada 12 Maret 2026. Meskipun satu jenazah pilot telah diserahkan, Akraminia menegaskan Iran tetap memerlukan jawaban terdokumentasi mengenai nasib keseluruhan pilot tersebut. Akraminia menegaskan, "Kami sangat ingin pihak Qatar memberikan perhatian lebih terhadap masalah ini dan memberikan jawaban yang jelas serta terdokumentasi sehingga kami dapat menerima dokumentasi tersebut dan mengetahui nasib dari pilot-pilot tercinta ini."


















