Presiden AS Donald Trump bersama Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth dan Direktur CIA John Ratcliffe saat memantau operasi militer di Venezuela (Official White House Photo by Molly Riley, Public domain, via Wikimedia Commons)
Serangan udara ini dilaksanakan oleh Komando Selatan Amerika Serikat (USSOUTHCOM) yang menargetkan sebuah bangunan beratap hijau di Venezuela. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengonfirmasi bahwa pimpinan TdA tersebut tewas di lokasi kejadian.
"Atas arahan saya, Komando Selatan AS meluncurkan serangan kinetik mematikan untuk mengeksekusi Nino Guerrero. Tindakan ini dikoordinasikan erat dengan rekan kami di Venezuela," tulis Trump, dilansir BBC.
Kementerian Komunikasi Venezuela mengungkap sempat terjadi kontak senjata antara pasukan keamanan dengan anggota TdA sebelum Guerrero berhasil dilumpuhkan. Operasi ini melibatkan dukungan teknologi khusus serta pertukaran intelijen yang intensif di antara otoritas kedua negara.
Guerrero merupakan pria berusia 42 tahun yang menjadi buronan setelah melarikan diri dari Penjara Tocoron pada 2023. Selama berada di dalam penjara, ia membangun berbagai fasilitas mewah termasuk kebun binatang, restoran, dan kolam renang untuk mengontrol narapidana lain.