Sah! Iran dan Oman Sepakati Rute Pelayaran di Selat Hormuz

- Iran dan Oman menyepakati koordinat rute pelayaran baru di Selat Hormuz, dengan pernyataan bersama masih difinalisasi setelah negosiasi yang disebut berlangsung profesional.
- Sebagian besar rute baru akan melintasi perairan Iran dan menggantikan jalur sementara; pengaturannya disebut berlaku dua hingga empat bulan atau lebih lama.
- Pungutan transit dan pembukaan kembali Selat Hormuz masih diperdebatkan: Iran mengusulkan biaya kargo, AS menolak, sementara detail kesepakatan belum tuntas.
Jakarta, IDN Times – Iran dan Oman mencapai kesepahaman mengenai koordinat geografis untuk rute pelayaran baru di Selat Hormuz. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan bahwa pernyataan bersama kedua negara mengenai kesepakatan tersebut sedang dalam tahap finalisasi.
Pada Rabu (5/8/2026), Baghaei menyebut negosiasi antara Teheran dan Muscat berlangsung secara profesional dan terus mengalami kemajuan. Dia mengatakan pernyataan bersama akan segera diterbitkan apabila tidak ada pihak ketiga yang menghambat proses tersebut. Dokumen itu nantinya memuat pertimbangan utama serta poin-poin kesepahaman yang telah dicapai antara Iran dan Oman.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, mengatakan sebagian besar rute pelayaran yang disepakati akan melewati perairan teritorial Iran, sementara sebagian lainnya melintasi perairan Oman. Rute sementara yang saat ini digunakan akan ditutup setelah rute baru diberlakukan, dilansir Al Jazeera.
Gharibabadi mengatakan rute baru tersebut akan digunakan selama dua hingga empat bulan, atau kemungkinan lebih lama. Langkah tersebut menjadi salah satu konsesi terbesar yang diperoleh Iran dalam perundingan mengenai jalur pelayaran strategis tersebut.
1. Iran kendalikan kapal yang masuk kawasan Teluk melalui Selat Hormuz

Kesepakatan Iran dan Oman akan memberikan Teheran kendali atas kapal-kapal yang memasuki kawasan Teluk melalui Selat Hormuz. Meski demikian, Baghaei menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak dengan sendirinya menjamin keamanan di Selat Hormuz.
Sebelumnya, laporan menyebut pejabat Teheran dan Muscat tengah menyusun kerangka yang akan membagi rute pelayaran menjadi jalur terpisah. Kapal yang menuju Teluk Persia akan menggunakan jalur yang berada di bawah kendali Iran, sementara kapal yang keluar dari kawasan tersebut akan menggunakan rute yang lebih dekat dengan Oman.
Proposal tersebut juga mencakup biaya layanan untuk mendanai perlindungan lingkungan, keamanan, dan kebutuhan personel. Pendapatan dari biaya tersebut akan dibagi rata antara Iran dan Oman.
Seorang pejabat AS yang mengetahui proses negosiasi membantah laporan tersebut. Dia mengatakan bahwa pengaturan navigasi sementara tidak akan membutuhkan izin Iran ataupun melibatkan pungutan. Menurutnya, perubahan rute hanya akan bersifat sementara dan tetap menjamin kebebasan navigasi, dikutip dari The Indian Express.
2. Pungutan di Selat Hormuz masih menjadi salah satu perdebatan utama

Persoalan biaya menjadi salah satu perbedaan utama antara Iran dan AS dalam pembahasan mengenai Selat Hormuz. Teheran sebelumnya mengancam akan mengenakan biaya kepada kapal yang ingin melintasi jalur tersebut. Washington menolak seluruh bentuk pungutan dan menginginkan kapal dapat melintasi perairan vital itu tanpa dikenai biaya.
Iran menginginkan biaya sebesar 5 hingga 7 persen dari nilai kargo yang dibawa oleh kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz. Sementara itu, Oman disebut membahas biaya sekitar 3 persen.
Delapan asosiasi pelayaran terbesar di dunia juga meminta PBB menolak penerapan pungutan di Selat Hormuz. Organisasi yang mewakili pemilik dan operator kapal itu memperingatkan bahwa biaya transit akan melanggar norma internasional dan merugikan perekonomian global.
Kelompok tersebut menegaskan bahwa hak navigasi yang diakui secara internasional tidak boleh dikompromikan atau digunakan sebagai bagian dari negosiasi politik yang lebih luas. Mereka memperingatkan bahwa keberadaan gerbang tol permanen secara de facto di Selat Hormuz dapat mendorong kenaikan harga energi, inflasi, serta ketidakpastian ekonomi.
3. Trump klaim pembukaan Selat Hormuz segera tercapai

Presiden AS, Donald Trump, mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan sangat baik, meski konflik antara kedua negara telah memasuki bulan keenam. Trump juga menyampaikan optimisme mengenai negosiasi dengan Teheran. Dia mengklaim bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz akan segera tercapai, dilaporkan oleh The Guardian.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh sejumlah sumber yang mengetahui perkembangan negosiasi. Mereka mengatakan masih terdapat sejumlah detail penting yang harus disepakati sebelum pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut dapat direalisasikan. Pejabat Iran juga menyatakan bahwa sejumlah persoalan utama masih belum terselesaikan.




















