Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Stok Rudal Menipis, Trump Tak Jadi Tingkatkan Serangan ke Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menyampaikan pidato tentang perekonomian di Rockland Community College di Suffern, New York, pada 22 Mei 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengurungkan niatnya untuk meningkatkan serangan ke Iran. Kabar tersebut disampaikan oleh seorang pejabat AS yang tidak disebut namanya kepada New York Times pada Sabtu (25/7/2026). Padahal, Trump pada Jumat (24/7/2026) lalu sudah berencana untuk meningkatkan serangan ke Teheran. 

Pejabat tersebut menjelaskan, Trump tidak jadi meningkatkan serangan ke Iran karena persediaan rudal pencegat drone milik pasukan AS yang ada di markas militer Timur Tengah sudah mulai menipis. Menurut pejabat itu, stok rudal pencegat AS telah berkurang drastis sejak perang dengan Iran kembali meletus pada 11 Juli lalu. 

1. Kepala Staf Gabungan Militer AS sebut peningkatan serangan ke Iran memungkinkan

Kepala Staf Gabungan Militer Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, sedang memberikan sumpah kepada tentara baru di Stasiun Pemrosesan Masuk Militer New York (MEPS) di Fort Hamilton, Kota New York, Amerika Serikat, pada 16 Juni 2026. (flickr.com/Chairman of the Joint Chiefs of Staff via commons.wikimedia.org/Chairman of the Joint Chiefs of Staff)

Kepala Staf Gabungan Militer AS, Dan Caine, mengatakan, peningkatan serangan ke Iran sebetulnya mungkin dilakukan. Pusat Komando (CENTCOM) militer AS yang bertugas di Timur Tengah juga sudah siap melakukan hal tersebut. Kendati demikian, jika serangan ditingkatkan, stok rudal pencegat milik CENTCOM kemungkinan bakal habis tidak tersisa. 

Menurut Caine, jika stok rudal habis, AS tidak akan bisa menangkal serangan balasan dari Iran.  Ini tentu akan menjadi bahaya bagi seluruh pasukan AS yang bertugas di Timur Tengah. Apalagi, tiga pasukan AS sudah ada yang tewas imbas serangan Iran di markas militer AS di Yordania beberapa waktu lalu.

2. Trump pilih jalur damai untuk akhiri perang dengan Iran

ilustrasi negosiasi (pexels.com/Monstera Production)

Direktur Bidang Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, mengatakan, Trump akan memilih jalur damai dengan cara negosiasi untuk menyudahi perang dengan Iran. Sebab, Trump menilai negosiasi merupakan cara paling efektif untuk meredam ketegangan kedua negara daripada agresi militer. Namun, menurut Cheung, Trump tetap membuka opsi militer untuk memerangi Iran.

“(Donald) Trump konsisten dalam mengatakan bahwa ia lebih menyukai solusi diplomatik. Namun, ia tetap mempertimbangkan semua opsi jika Iran terus melakukan aktivitas teroris di Selat Hormuz atau terhadap sekutu. Namun, akan lebih bijaksana bagi Iran untuk berupaya mencapai kesepakatan melalui negosiasi. Jika tidak, mereka tahu apa yang akan terjadi,” jelas Cheung, seperti dilansir Jerusalem Post.

3. AS sudah menghabiskan banyak biaya untuk perangi Iran

ilustrasi mata uang dolar Amerika Serikat (pexels.com/Pixabay)

AS sendiri sudah menghabiskan banyak dana untuk memerangi Iran sejak 28 Februari lalu. Menurut Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam keterangannya pada 21 Juli, sejauh ini, Washington sudah menggelontorkan dana sebesar 37,5 miliar dolar AS atau Rp672 triliun hanya untuk berperang melawan Iran. Dana tersebut dipakai untuk memenuhi kebutuhan persenjatan militer AS agar bisa melawan pasukan Iran, terutama kebutuhan rudal.

Sejumlah anggota parlemen AS sebetulnya sudah mendesak Trump untuk menyudahi perang dengan AS. Sebab, jika perang terus berlanjut, anggaran bisa makin terkuras habis. Ini bisa menjadi bumerang bagi perekonomian AS. Terlebih, kondisi ekonomi di Negeri Paman Sam kini sebetulnya sudah terkontraksi karena perang dengan Iran. Harga minyak yang naik membuat harga bahan bakar ikut naik. Kondisi ini membuat harga barang pokok di AS juga melonjak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article