"Negara Yaman tidak akan membiarkan wilayahnya terus dijadikan landasan untuk mengancam negara-negara tetangganya dan keamanan maritim internasional (di Selat Bab el-Mandeb)," bunyi pernyataan resmi Pemerintah Yaman yang dirilis pada Sabtu (25/7/2026), seperti dikutip Anadolu Agency.
Yaman Ogah Izinkan Wilayahnya Dipakai Iran Perangi AS

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Yaman menegaskan tidak akan mengizinkan wilayahnya dipakai Iran untuk memerangi Amerika Serikat (AS). Sebab, milisi Houthi yang juga merupakan sekutu setia Iran kini mulai menggunakan wilayah Yaman untuk membantu Teheran dengan menyerang kapal komersial dari negara sekutu AS yang sedang berlayar di Selat Bab el-Mandeb.
1. Yaman mengecam serangan Houthi di Selat Bab el-Mandeb

Pada Rabu (22/7/2026) lalu, Houthi meluncurkan serangan ke satu kapal tanker asal Arab Saudi yang sedang melintas di Selat Bab el-Mandeb. Serangan itu diduga dilakukan di situs militer Houthi yang ada di Hodeidah, salah kota pelabuhan yang ada di Yaman. Yaman mengecam serangan tersebut. Mereka menyebut serangan itu sebagai tindakan terorisme yang tidak bisa dibiarkan.
Arab Saudi sendiri sudah membalas serangan Houthi ke kapal tanker minyak mereka pada Jumat (24/7/2026) malam waktu setempat kemarin. Kala itu, pasukan militer Arab Saudi bekerja sama dengan Yaman untuk meluncurkan serangan ke situs militer Houthi yang ada di Hodeidah. Yaman mengatakan serangan balasan Arab Saudi merupakan konsekuensi yang harus didapatkan Houthi atas perbuatannya.
2. Yaman mendesak Houthi jangan bantu Iran perangi AS

Oleh karena itu, Yaman mendesak Houthi untuk berhenti membantu Iran memerangi AS. Sebab, tindakan tersebut bisa membuat Yaman jadi terseret ke dalam perang berkepanjangan antara Washington dan Teheran. Yaman juga meminta Houthi untuk menghormati aturan di Selat Bab el-Mandeb. Sebab, selat tersebut merupakan salah satu wilayah perairan internasional sehingga kapal dari negara mana pun berhak berlayar di sana dengan bebas dan aman.
"Houthi telah melakukan tindakan terorisme baru yang menunjukkan tekad mereka untuk melemahkan upaya regional dan internasional dalam mengurangi ketegangan dan menyeret Yaman ke dalam konflik," lanjut pernyataan resmi Yaman.
3. Iran meminta bantuan Houthi untuk ikut memerangi AS

Sejak perang meletus pada 28 Februari lalu, Houthi sebetulnya tidak pernah hadir secara fisik untuk membantu Iran memerangi AS. Sebab, ketika itu, milisi yang sudah masuk daftar organisasi teroris tersebut menilai Teheran mampu menghadapi Washington sendirian. Namun, sejak perang kembali meletus pada 11 Juli lalu, Iran mulai meminta bantuan Houthi untuk memerangi AS.
Pada 16 Juli lalu, tiga orang sumber internal pemerintah Irah mengatakan bahwa negaranya sudah meminta Houthi untuk menutup Selat Bab el-Mandeb jika serangan AS berlanjut. Sumber tersebut mengatakan, delegasi Iran sebelumnya sudah berdiskusi dengan Houthi soal rencana penutupan selat jika AS terus menyerang. Houthi juga sudah menyetujui rencana tersebut.
Keterlibatan Houthi dalam perang antara AS dan Iran ini semakin memperkeruh suasana di kawasan Timur Tengah. Sebab, perang antara Washington dan Teheran juga akan melibatkan negara lain yang ada di kawasan tersebut.

















