ilustrasi negara Prancis (pexels.com/Mikhail Nilov)
Perbedaan paling mencolok terlihat ketika kamu melihat sejumlah negara Eropa dalam daftar. Prancis menempati posisi paling bawah secara keseluruhan, dengan hanya 10 persen responden yang percaya negaranya bergerak ke arah yang benar. Artinya, sebanyak 90 persen responden Prancis justru menilai negaranya berada di jalur yang salah. Inggris juga mencatat tingkat pesimisme tinggi, dengan 21 persen responden optimistis berbanding 79 persen yang berpandangan negatif.
Jerman berada di angka 23 persen, sama seperti Hungaria dan Afrika Selatan, sementara Belgia mencatat 30 persen. Italia, Spanyol, dan Swedia masing-masing berada di angka 31 persen, sedangkan Belanda mencapai 32 persen. Lemahnya kondisi ekonomi dan hilangnya lapangan pekerjaan disebut dapat berkontribusi terhadap keresahan sosial dan politik di Jerman, sementara Inggris memiliki konteks pergantian beberapa perdana menteri sejak referendum Brexit 2016.
Survei Ipsos 2026 memperlihatkan bahwa optimisme masyarakat terhadap arah negaranya sangat berbeda di berbagai belahan dunia. Negara-negara Asia mendominasi posisi teratas, dengan Singapura mencapai 86 persen, Malaysia 74 persen, India 69 persen, serta Indonesia dan Thailand sama-sama 62 persen. Sebaliknya, banyak negara Eropa berada di bagian bawah, bahkan Prancis hanya mencatat 10 persen responden yang percaya negaranya bergerak ke arah yang benar. Indonesia sendiri bisa dibilang cukup optimistis karena angka 62 persennya jauh di atas rata-rata global sebesar 41 persen.
Hal yang menarik, hasil ini bukan sekadar menunjukkan negara mana yang optimistis atau pesimistis, tapi juga memperlihatkan betapa berbeda persepsi masyarakat terhadap kondisi negaranya. Kamu bisa melihat Jepang sebagai contoh bahwa negara di Asia pun gak otomatis memiliki tingkat optimisme tinggi.
Begitu pula di Eropa, kondisi setiap negara tetap berbeda meski mayoritas menunjukkan kecenderungan pesimis. Jadi, angka-angka dalam survei ini lebih tepat dipahami sebagai gambaran bagaimana masyarakat menilai arah negaranya pada awal 2026, bukan sebagai ukuran mutlak mengenai berhasil atau tidaknya sebuah negara.