Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Iran Disebut Pernah Berencana Bunuh Trump di Pesawat Air Force One

Iran Disebut Pernah Berencana Bunuh Trump di Pesawat Air Force One
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di Pesawat Air Force One. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Wall Street Journal melaporkan, berdasarkan pejabat AS anonim, Iran diduga merencanakan serangan rudal ke Air Force One saat Donald Trump pulang dari Turki pada Juli.
  • Trump dievakuasi mendadak dari Air Force One memakai truk katering dan dipindahkan ke pesawat militer, sementara sejumlah pejabat AS tetap berada di pesawat tersebut.
  • Setelah sempat membantah, Trump mengonfirmasi rencana tersebut dan mengatakan Secret Service serta militer mengawalnya ke penerbangan berbeda untuk mencegah ancaman serangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Iran dikabarkan sempat berencana membunuh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, di pesawat kepresidenan Air Force One. Kabar itu pertama kali disampaikan oleh Wall Street Journal (WSJ) berdasarkan informasi dari seorang pejabat AS anonim pada Selasa (11/8/2026) malam waktu setempat. 

Pejabat itu menjelaskan, jelang kepulangannya ke AS dari Turki pada Juli lalu, Trump tiba-tiba dievakuasi dari pesawat Air Force One menggunakan truk katering untuk dipindahkan ke pesawat militer. Sebab, pasukan keamanan Trump ketika itu mendapatkan laporan dari intelijen Israel yang menyebut Iran berencana menembakkan rudal ke pesawat Air Force One saat Trump berada di dalamnya untuk terbang ke AS. 

  1. 1. Trump berada di Turki untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi NATO

    Logo NATO.
    potret logo NATO (unsplash.com/Marek Studzinski)

    Saat itu, Trump sedang bersiap terbang ke Washington, AS, usai menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki. Ketika itu, Trump rencananya akan terbang dengan pesawat Air Force One yang baru dibeli dari Qatar. Itu menjadi penerbangan internasional pertama Trump menggunakan pesawat Air Force One yang baru. 

    Meski Trump sudah dievakuasi, sejumlah pejabat AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan sejumlah ajudan senior Trump ketika itu masih berada di dalam pesawat Air Force One. Beruntungnya, rencana Iran untuk menembakkan rudal ke pesawat tersebut urung terjadi. Dilansir Times of Israel, Trump dan para jajarannya akhirnya berhasil pulang ke AS dengan selamat.

  2. 2. Trump mengonfirmasi rencana Iran yang ingin membunuhnya di pesawat Air Force One

    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di bandara selepas turun dari Pesawat Air Force One.
    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di bandara selepas turun dari Pesawat Air Force One. (commons.wikimedia.org/U.S. Air National Guard)

    Awalnya, Trump membantah laporan intelijen AS bahwa Iran berencana membunuhnya di atas pesawat Air Force One pada Juli lalu. Namun, dalam pernyataan terbarunya pada Selasa, Trump akhirnya mengaku bahwa Teheran memang berencana melakukan hal tersebut. Trump juga mengaku bahwa dirinya sempat dievakuasi secara mendadak oleh pasukan keamanan presiden untuk mencegah serangan rudal dari Iran.

    “Saya dikawal oleh Secret Service dan militer. Mereka ingin saya naik penerbangan yang berbeda, pesawat yang berbeda. Saya hanya harus melakukan apa yang mereka katakan. Saya rasa, sebenarnya pesawat yang saya tumpangi lebih berisiko. Saya rasa, pesawat itu lebih berisiko karena menurut saya itulah pesawat yang kemungkinan besar akan mereka (Iran) incar,” jelas Trump.

  3. 3. Kabar soal rencana Iran membunuh Trump menyebar pada awal Juli

    Rudal Iran.
    potret rudal Iran (unsplash.com/Moslem Daneshzadeh)

    Kabar soal rencana Iran untuk membunuh Trump sebetulnya sudah menyebar pada awal Juli lalu. Namun, ketika itu, tidak ada informasi detail soal bagaimana rencana Iran untuk membunuh Presiden AS ke-45 dan ke-47 tersebut. 

    Trump sendiri tidak pernah ambil pusing meski dirinya kerap menerima ancaman pembunuhan dari Iran. Ia percaya negara mayoritas Islam Syiah tersebut tidak akan melakukan hal semacam itu kepadanya. Sebab, jika Iran membunuh Trump, perang bisa makin memanas. Apalagi, konflik antara Washington dan Teheran saat ini belum sepenuhnya usai. Meski sudah tidak saling serang, keduanya masih perang dingin karena berbeda pendapat soal kesepakatan perdamaian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More