Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tolak Imigran Negara Konflik, Trump Pilih Warga Skandinavia
Donald Trump (commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)
  • Donald Trump menyebut Libya, Yaman, Haiti, dan Somalia sebagai wilayah sarang teror, lalu mempertanyakan penerimaan imigran dari negara konflik dibandingkan warga Skandinavia.
  • Trump kembali mengangkat pernyataan kontroversialnya soal negara asal imigran, yang pernah memicu kecaman pada 2018 dan diakui pernah diucapkannya pada 2025.
  • Pengetatan perbatasan, larangan perjalanan, dan penolakan visa bagi negara berisiko tinggi menjadi agenda kampanye Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyebut Libya, Yaman, Haiti, dan Somalia sebagai wilayah sarang teror saat berpidato dalam kampanye di Perry, Georgia, pada Sabtu (24/10/2026). Dalam acara tersebut, ia mempertanyakan alasan AS terus menerima imigran dari wilayah itu ketimbang mendatangkan warga dari negara-negara Skandinavia.

Melalui pidato politiknya, Trump kembali mengkritik kebijakan imigrasi nasional yang dinilai masih menampung pendatang dari negara yang dilanda konflik berkepanjangan dan krisis keamanan. Pernyataan kontroversial tersebut disambut tawa dan sorak-sorai para pendukung yang memadati lokasi acara.

1. Keinginan Trump mengutamakan imigran asal kawasan Eropa Utara

Di hadapan massa pendukungnya, Trump membandingkan kedatangan imigran dari negara yang sedang bergejolak dengan calon pendatang dari kawasan Eropa Utara. Ia menilai arus pendatang dari wilayah konflik berisiko mengganggu keamanan dalam negeri dan mempertanyakan dasar pemilihan negara asal imigran oleh otoritas AS.

Saat berpidato, Trump mengungkit kembali perdebatannya di masa lalu dengan para senator Partai Demokrat mengenai kuota penerimaan imigran. Ia berpendapat aturan imigrasi seharusnya lebih mengutamakan warga dari negara maju yang memiliki kondisi ekonomi dan sosial yang stabil.

"Mengapa kita harus selalu menerima orang dari negara-negara yang kacau? Mengapa kita tidak bisa menerima orang-orang dari negara seperti Norwegia dan Swedia, atau mengapa bukan Denmark?" ujar Trump saat menirukan pertanyaannya kepada para anggota parlemen Partai Demokrat.

2. Pengulangan istilah kontroversial terkait negara asal imigran

Pidato di Perry ini mengulang kembali pernyataan kontroversial Trump pada masa jabatan pertamanya di Gedung Putih pada Januari 2018. Saat itu, Trump dilaporkan melontarkan istilah kasar serupa ketika membahas perlindungan imigran asal Haiti dan beberapa negara Afrika dalam rapat tertutup mengenai undang-undang imigrasi.

Meski awalnya sempat membantah, Trump akhirnya mengakui secara terbuka telah menggunakan istilah kasar tersebut saat berpidato di Pennsylvania pada akhir 2025. Di panggung kampanye Georgia, ia juga mengaitkan kritik imigrasinya dengan situasi keamanan di Prancis yang dinilainya kacau akibat pembukaan perbatasan tanpa pengawasan ketat.

"Ingat sebutan saya tentang mereka sebagai negara-negara yang kacau? Ingat betapa kerasnya kecaman yang saya terima dari Partai Demokrat saat itu?" kata Trump, dilansir The Hans India.

3. Pengetatan perbatasan sebagai program utama kampanye Partai Republik

Pernyataan Trump di Georgia mencerminkan kebijakan pemerintahannya yang berfokus memperketat perbatasan melalui larangan perjalanan serta penolakan visa bagi warga dari belasan negara berisiko tinggi. Tim kampanye Partai Republik dan pihak Gedung Putih menegaskan bahwa pembatasan pendatang dari negara dengan pengawasan lemah sangat penting untuk melindungi lapangan kerja di dalam negeri serta menjaga keamanan warga AS.

Sikap tegas terkait penjagaan perbatasan dan penolakan imigran ilegal tetap menjadi program utama kampanye Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu (midterm election). Rangkaian kampanye Trump di negara bagian penentu seperti Georgia ini bertujuan merapatkan barisan pemilih konservatif demi mengamankan kursi mayoritas di Kongres AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article