Kanada Bantah Tuduhan Ikut Campur dalam Pemilu Sela di AS

- PM Mark Carney membantah Kanada akan mencampuri pemilu sela AS pada 3 November, serta menegaskan diplomat Kanada dilarang menghadiri kegiatan kampanye.
- Kedutaan Besar AS menyoroti pertemuan pejabat Kanada dengan Demokrat, kebijakan tarif balasan, iklan penolakan tarif, dan kehadiran anggota parlemen Kanada di acara kampanye Florida.
- Perselisihan ini terjadi saat hubungan Ottawa-Washington merenggang setelah kebuntuan dagang; Carney menolak terburu-buru membuat kesepakatan baru dan memperluas kerja sama ekonomi global.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, membantah tuduhan bahwa negaranya berencana mencampuri pemilihan umum sela di Amerika Serikat (AS) pada 3 November mendatang. Pernyataan ini disampaikan di sela kunjungan resminya di Istanbul, Turki, pada Jumat (23/10/2026) di tengah meningkatnya ketegangan hubungan kedua negara bertetangga tersebut.
Bantahan itu muncul setelah perwakilan diplomatik AS menuding sejumlah pejabat di Ottawa berupaya memengaruhi situasi politik dalam negeri Amerika. Di sisi lain, pemerintah Kanada memastikan selalu menjaga netralitas, termasuk melarang para diplomatnya menghadiri acara kampanye calon peserta pemilu sela di AS.
1. Kekecewaan Mark Carney atas tudingan Duta Besar Amerika Serikat
Kepada awak media di Istanbul, Carney menegaskan bahwa Kanada sama sekali tidak berniat mencampuri urusan pemilu sela di negara tetangganya tersebut. Ia juga menyayangkan pernyataan Duta Besar AS untuk Kanada, Pete Hoekstra, yang sebelumnya memperingatkan warga serta pejabat Kanada melalui sebuah wawancara podcast agar tidak mencampuri urusan politik dalam negeri Amerika.
"Tuduhan ini sama sekali tidak berdasar. Saya kecewa karena utusan diplomatik mereka merasa perlu melontarkan pernyataan seperti itu," ujar Carney, dilansir CBC.
Menurut pemerintah Kanada, aturan ketat yang melarang keterlibatan para diplomatnya dalam kegiatan kampanye sudah cukup membuktikan bahwa Ottawa selalu menghindari kesan ikut campur dalam proses pemungutan suara di AS.
2. Rincian tuduhan Kedutaan Besar AS terhadap sejumlah pejabat Kanada
Perselisihan ini memanas setelah Kedutaan Besar AS di Ottawa merilis dokumen resmi berjudul "Fact Sheet: Monitoring Canadian Activities in U.S. Politics" pada Rabu (21/10/2026). Dokumen itu menyoroti sejumlah aktivitas pejabat Kanada, mulai dari pertemuan Menteri Perindustrian Kanada, Mélanie Joly, dengan pejabat Partai Demokrat di Boston dan Chicago terkait tarif bea masuk, kebijakan tarif balasan yang menyasar negara bagian pendukung Partai Republik, pemasangan papan iklan penolakan tarif oleh Kepala Pemerintahan Provinsi Ontario, Doug Ford, di wilayah AS, hingga kehadiran anggota parlemen Kanada dalam acara kampanye di Florida.
"Pemerintah Kanada mengabaikan kekhawatiran soal potensi campur tangan pemilu, bahkan ketika para menteri dan kepala provinsinya secara terbuka menyampaikan rencana untuk memengaruhi politik Amerika," tulis Kedubes AS dalam pernyataan resminya.
Pihak kedutaan menutup dokumen tersebut dengan meminta seluruh pejabat di Kanada menahan diri dari upaya memengaruhi kebijakan politik Washington. Mereka menegaskan bahwa hasil pemilu AS sepenuhnya ditentukan oleh rakyat Amerika sendiri.
3. Merenggangnya hubungan Kanada dan AS akibat kebuntuan perundingan dagang
Ketegangan seputar pemilu sela ini memperlihatkan renggangnya hubungan antara Ottawa dan Washington sejak Kanada mundur dari perundingan dagang pada akhir Agustus lalu akibat tuntutan AS yang dinilai memberatkan. Carney menyatakan tidak akan terburu-buru menandatangani perjanjian baru demi mencapai kesepakatan yang adil, sembari melakukan kunjungan kerja ke Turki untuk memperluas kerja sama ekonomi global agar tidak terus bergantung pada AS.
"Sikap saya, pemerintah, dan rakyat Kanada sudah sangat jelas bahwa kami menempuh jalan sendiri dan tidak akan pernah menjadi negara bagian Amerika ke-51," tegas Carney.






















