Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Melunak ke Korut, Korsel Rapat Khusus dengan China
ilustrasi bendera Korea Selatan (pexels.com/aboodi vesakaran)
  • Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu Cho Hyun di Seoul untuk membahas keamanan Semenanjung Korea, lalu dijadwalkan bertemu Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung.
  • China mendesak Amerika Serikat mengubah kebijakan terhadap Pyongyang demi penyelesaian politik, saat Trump memangkas skala latihan militer gabungan AS-Korea Selatan untuk membuka dialog dengan Kim Jong Un.
  • Korea Selatan menyiapkan pertemuan Lee Jae Myung dan Xi Jinping di KTT APEC Shenzhen pada November 2026 guna memulihkan kerja sama ekonomi-politik dan mendukung perdamaian kawasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menggelar pertemuan diplomasi tingkat tinggi bersama Pemerintah Korea Selatan di Seoul pada Rabu (19/8/2026). Langkah strategis ini diambil guna mempererat hubungan bilateral sekaligus merespons dinamika keamanan kawasan di Semenanjung Korea yang terus berkembang pesat.

Pertemuan tingkat tinggi ini berlangsung di tengah pangkasan skala latihan militer gabungan antara Amerika Serikat dan Korea Selatan. Kebijakan militer pimpinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tersebut ditujukan untuk membuka kembali ruang dialog diplomasi dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un.

1. Pertemuan tingkat tinggi China dan Korea Selatan di Seoul

potret Menteri Luar Negeri China, Wang Yi (Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, langsung melangsungkan sesi diskusi bersama Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, sesaat setelah mendarat di Seoul. Pembahasan utama kedua pejabat luar negeri ini berfokus pada isu keamanan di kawasan Semenanjung Korea. Selain itu, mereka juga menjadwalkan pertemuan khusus dengan Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, pada Kamis (20/8/2026).

Pertemuan diplomasi ini bertepatan dengan masa krusial ketika Amerika Serikat mengevaluasi kembali pengerahan militer mereka di Asia Timur. Seperti dilansir Reuters, China—yang merupakan satu-satunya sekutu formal Korea Utara—melalui Wang Yi mendesak Washington agar segera mengubah "kebijakan bermusuhan" (hostile policy) terhadap Pyongyang demi membuka jalan bagi penyelesaian politik.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyampaikan pentingnya stabilitas kawasan dalam keterangan resminya kepada media. "Menjaga perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea serta mempromosikan penyelesaian politik atas masalah Semenanjung Korea adalah demi kepentingan bersama semua pihak," ujar Lin Jian. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen Beijing untuk tetap menjadi penengah dalam proses diplomasi regional.

2. Kebijakan militer Donald Trump ubah peta keamanan kawasan

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Matt Johnson from Omaha, Nebraska, United States, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memangkas skala latihan militer tahunan dengan Korea Selatan menuai perhatian luas dunia internasional. Latihan militer yang biasanya melibatkan sekitar 39 ribu prajurit AS dan Korea Selatan tersebut disesuaikan skalanya setelah Trump beralasan memiliki hubungan yang sangat baik dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un serta berkeinginan menghidupkan kembali dialog diplomasi.

Di sisi lain, pemangkasan skala latihan militer ini memicu analisis mendalam mengenai komitmen pertahanan Amerika Serikat di kawasan Asia. Adik Pemimpin Korea Utara, Kim Yo Jong, menegaskan melalui media pemerintah KCNA bahwa pemangkasan skala latihan tersebut tidak mengubah hakikatnya sebagai ancaman militer. Sementara itu, Pemerintah Korea Selatan berusaha menjaga keseimbangan antara aliansi militer dengan Amerika Serikat dan perbaikan hubungan diplomasi bersama China.

Seperti dilansir The Times of India, Wang Yi menyebut Korea Selatan sebagai negara tetangga terpenting bagi China di kawasan Asia Timur. Dia menegaskan bahwa pihak Beijing akan melakukan segala upaya yang diperlukan demi menjaga stabilitas kawasan. "Kami juga berharap Korea Selatan dan Korea Utara secara bertahap dapat mengejar peluang untuk perdamaian dan koeksistensi, dan kami secara tulus menghendaki stabilitas dan pembangunan yang abadi di Semenanjung Korea," tegas Wang Yi.

3. Rencana pertemuan puncak Lee Jae Myung dan Xi Jinping

potret Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung (이재명, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons)

Pemerintah Korea Selatan kini tengah merancang agenda pertemuan puncak antara Presiden Lee Jae Myung dan Presiden China Xi Jinping. Sesi dialog bilateral ini direncanakan berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Shenzhen pada November 2026. Pertemuan ini diharapkan menjadi momentum penting untuk merekatkan kembali kerja sama ekonomi serta politik kedua negara.

Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, menyampaikan optimismenya terkait proses pemulihan hubungan diplomasi dengan China. Dia berharap perbaikan hubungan bilateral ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian kawasan di Semenanjung Korea. Selain itu, Presiden Lee Jae Myung juga mengusulkan dialog multilateral yang melibatkan negara-negara peserta Perang Korea untuk merumuskan pakta perdamaian abadi.

Langkah proaktif Korea Selatan menuju Beijing menunjukkan kepiawaian merespons pergeseran peta geopolitik global yang cepat. Saat Amerika Serikat mulai melunakkan pendekatan militer terhadap Korea Utara, Korea Selatan bergerak mengamankan jalur diplomasi dengan China. Kerja sama multitrek ini diharapkan mampu menciptakan iklim keamanan yang lebih stabil bagi seluruh negara di kawasan Asia Timur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article