Investigasi dimulai setelah warga melaporkan kematian sejumlah burung liar di Pulau Arran, lepas pantai barat Skotlandia, pada musim panas 2025. Burung yang terdampak dilaporkan mengalami penurunan kondisi fisik dan gangguan saraf sebelum mati.
Sampel jaringan burung kemudian diuji di laboratorium rujukan nasional. Hasil pemeriksaan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) mendeteksi RNA virus Usutu garis keturunan Afrika 3.2.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa virus kemungkinan telah tersebar di populasi burung setempat dan bukan sekadar kasus bawaan luar. Identifikasi dilakukan melalui kerja sama antara Badan Kesehatan Hewan dan Tumbuhan (APHA) serta peneliti dari Universitas Glasgow.
"Deteksi virus Usutu pada burung hitam di Skotlandia menunjukkan bahwa negara-negara di wilayah utara kini menghadapi peningkatan risiko virus yang ditularkan oleh nyamuk," kata Manajer Laboratorium Rujukan Nasional untuk Penyakit Tular Vektor APHA, Andra-Maria Ionescu.
Ia menambahkan bahwa pemantauan satwa liar perlu ditingkatkan untuk mendeteksi ancaman penyakit baru sejak dini.