Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pria Bersenjata Serbu Rumah Sakit Kongo, Bawa Pergi Pasien Ebola

Pria Bersenjata Serbu Rumah Sakit Kongo, Bawa Pergi Pasien Ebola
ilustrasi penanganan pasien dengan virus berbahaya (unsplash.com/Mufid Majnun)
Intinya Sih
  • Kelompok pria bersenjata menyerbu Rumah Sakit Wanamahika di Butembo, Kongo, dan menculik seorang pasien Ebola berusia 6 tahun bersama ibunya di tengah meningkatnya ketegangan masyarakat.
  • Pemerintah DRC melaporkan 837 kasus Ebola dengan 196 kematian akibat strain Bundibugyo yang langka, sementara WHO menyebut vaksin untuk strain ini masih dalam tahap pengembangan.
  • Africa CDC memperingatkan wabah Ebola di DRC bisa menjadi yang terburuk dalam sejarah karena ribuan kontak belum terlacak dan pendanaan penanggulangan masih jauh dari target.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pihak berwenang di wilayah timur Republik Demokratik Kongo (DRC) saat ini tengah mencari seorang pasien Ebola berusia 6 tahun dan ibunya setelah mereka dibawa pergi oleh sekelompok pria bersenjata.

Dilansir BBC, pejabat kesehatan setempat, Lubambo Maboko Gaston, mengatakan bahwa sejumlah pria bersenjatakan pisau menyerbu Rumah Sakit Wanamahika di kota Butembo pada Senin (15/6/2026) dan membawa pergi anak perempuan tersebut.

Belum diketahui apakah mereka memiliki hubungan dengan anak itu. Namun, insiden ini terjadi di tengah tingginya ketidakpercayaan dan ketakutan masyarakat terhadap fasilitas perawatan Ebola di tengah wabah yang sedang berlangsung.

1. Masyarakat masih tidak percaya adanya virus Ebola

ilustrasi penjagaan polisi (unsplash.com/David Trinks)
ilustrasi penjagaan polisi (unsplash.com/David Trinks)

Fasilitas perawatan Ebola telah beberapa kali menjadi sasaran serangan. Bulan lalu, polisi di kota Mongbwalu terpaksa melepaskan tembakan peringatan ke udara setelah massa berupaya mengambil jenazah anggota keluarga mereka yang meninggal di sebuah fasilitas kesehatan.

Beberapa hari sebelumnya, sekelompok warga juga membakar tenda isolasi di rumah sakit di Rwampara, sekitar 85 km dari Mongbwalu, setelah dilarang mengambil jenazah seorang pria yang diduga meninggal akibat Ebola.

Jenazah korban Ebola masih dapat menularkan virus. Penguburan secara tradisional, yang melibatkan kontak langsung dengan jenazah tanpa alat pelindung diri yang memadai, dapat memperluas penyebaran virus.

"Masyarakat tidak mendapat informasi atau peka tentang apa yang terjadi. Bagi sebagian masyarakat, terutama di daerah terpencil, Ebola adalah penemuan pihak luar - penyakit itu tidak ada. Mereka yakin LSM dan rumah sakitlah yang menciptakan hal ini untuk menghasilkan uang, dan ini tragis," kata politisi lokal, Luc Malembe Malembe, kepada BBC.

2. 196 orang meninggal akibat Ebola di DRC

ilustrasi virus Ebola
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Menurut data terbaru pemerintah, jumlah kasus Ebola yang terkonfirmasi di DRC telah mencapai 837 kasus, termasuk 196 kematian. Wabah kali ini disebabkan oleh strain Bundibugyo yang langka. Hingga kini, belum ada vaksin yang disetujui untuk menangani strain tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa pengembangan vaksin dapat memakan waktu hingga 9 bulan.

Kasus-kasus Ebola saat ini terkonsentrasi di provinsi Ituri, Kivu Selatan dan Kivu Utara, tempat anak perempuan berusia 6 tahun itu dibawa pergi oleh pria bersenjata. Sementara itu, negara tetangga, Uganda, juga telah mencatat 19 kasus Ebola, dengan 14 di antaranya ditemukan pada orang-orang yang baru melakukan perjalanan dari DRC. Uganda juga melaporkan dua kematian akibat penyakit tersebut.

3. Wabah Ebola kali ini bisa jadi yang terburuk dalam sejarah

ilustrasi virus Ebola
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Pada Selasa (16/6/2026), Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), Jean Kaseya, memperingatkan bahwa wabah Ebola di DRC dapat menjadi yang terburuk dalam sejarah. Pasalnya, puluhan ribu orang yang diduga pernah melakukan kontak dengan pasien terinfeksi hingga kini belum berhasil dilacak.

“Jika kita tidak segera menghentikan wabah ini, situasinya akan lebih buruk daripada yang terjadi di Afrika Barat dan DRC bagian timur,” kata Kaseya dalam pertemuan virtual dengan para pemimpin Afrika dan donor internasional di Burundi, dikutip Al Jazeera.

Pernyataannya itu merujuk pada wabah Ebola yang melanda Guinea, Liberia dan Sierra Leone pada 2014–2016 yang menewaskan lebih dari 11 ribu orang, serta wabah di DRC pada 2018 yang menyebabkan jumlah korban jiwa lebih sedikit.

Sementara itu, Presiden Burundi, Evariste Ndayishimiye, yang juga menjabat sebagai ketua Uni Afrika, mengatakan bahwa benua tersebut baru berhasil mengumpulkan kurang dari seperlima dari target 518 juta dolar AS (sekitar Rp9,2 triliun) yang dibutuhkan untuk memperkuat upaya penanggulangan wabah.

"Dana yang berhasil dihimpun sejauh ini tidak melebihi 100 juta dolar AS (sekitar Rp1,7 triliun)," ujarnya dalam sambutan pembukaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More