Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Wabah Ebola di Kongo Berisiko Jadi yang Terburuk dalam Sejarah

Wabah Ebola di Kongo Berisiko Jadi yang Terburuk dalam Sejarah
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Africa CDC memperingatkan wabah Ebola di Kongo bisa jadi yang terburuk, dengan 837 kasus dan 196 kematian, serta ribuan kontak pasien belum terlacak.
  • Penanganan wabah terkendala fasilitas terbatas dan penolakan masyarakat terhadap protokol kebersihan, sementara IFRC menghadapi ancaman saat menangani pemakaman korban secara aman.
  • Dana tanggap darurat baru terkumpul kurang dari seperlima target, dan WHO menyebut vaksin untuk strain Bundibugyo butuh waktu hingga sembilan bulan dikembangkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) memperingatkan bahwa wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dapat menjadi yang terburuk dalam sejarah.

Menurut data terbaru pemerintah, jumlah kasus yang terkonfirmasi telah meningkat menjadi 837 kasus, termasuk 196 kematian. Sementara itu, puluhan ribu orang yang diduga pernah melakukan kontak dengan pasien terinfeksi hingga kini belum berhasil dilacak.

“Jika kita tidak segera menghentikan wabah ini, situasinya akan lebih buruk daripada yang terjadi di Afrika Barat dan DRC bagian timur,” kata Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya, dalam pertemuan virtual dengan para pemimpin Afrika dan donor internasional di Burundi pada Selasa (16/6/2026).

Pernyataan Kaseya ini merujuk pada wabah Ebola yang melanda Guinea, Liberia, dan Sierra Leone pada 2014–2016 yang menewaskan lebih dari 11 ribu orang, serta wabah di DRC pada 2018 yang menyebabkan jumlah korban jiwa lebih sedikit.

1. Wabah Ebola diperkirakan berlangsung hingga setahun

ilustrasi virus Ebola
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Dilansir CNN, Bruno Michon, manajer operasi Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), mengatakan bahwa epidemi Ebola di wilayah timur DRC masih belum mencapai puncaknya.

“Kami khawatir diperlukan waktu hingga 1 tahun untuk mengakhiri wabah ini,” ujarnya.

Upaya penanganan wabah terhambat oleh kurangnya pusat perawatan serta penolakan masyarakat terhadap penerapan protokol kebersihan yang ketat. Michon mengatakan bahwa tim IFRC, yang membantu membangun keterlibatan masyarakat dan menangani pemakaman korban Ebola secara aman dan bermartabat, kerap menghadapi pelecehan verbal, ancaman hingga serangan.

Jenazah korban Ebola masih dapat menularkan virus. Penguburan secara tradisional, yang melibatkan kontak langsung dengan jenazah tanpa alat pelindung diri yang memadai, menjadi salah satu faktor utama penularan penyakit tersebut.

2. Dana untuk penanggulangan wabah masih belum mencukupi

ilustrasi virus Ebola
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Menurut Presiden Burundi, Evariste Ndayishimiye, yang juga menjabat sebagai ketua Uni Afrika, benua tersebut sejauh ini baru berhasil mengumpulkan kurang dari seperlima dari target 518 juta dolar AS (sekitar Rp9,2 triliun) yang dibutuhkan untuk memperkuat upaya penanggulangan wabah.

Sementara itu, Kaseya memperingatkan bahwa kebutuhan pendanaan akan melonjak drastis jika rencana awal tidak memperoleh dukungan yang memadai.

"Jika kami tidak mendapatkan dana tersebut dalam 4 pekan ke depan, kami tidak akan lagi meminta 500 juta dolar AS, melainkan sekitar 1,5 miliar dolar AS. Jika penanganannya terus tertunda, kebutuhannya bisa meningkat menjadi 7,5 miliar dolar AS," ujarnya.

3. Pengembangan vaksin perlu waktu hingga 9 bulan

ilustrasi virus Ebola
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Dilansir Al Jazeera, hingga kini belum ada pengobatan maupun vaksin yang disetujui untuk menangani strain Bundibugyo, penyebab wabah Ebola di DRC saat ini. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pengembangan vaksin dapat memerlukan waktu hingga 9 bulan.

Sementara itu, negara tetangga DRC, Uganda, telah mencatat 19 kasus Ebola. Sebanyak 14 di antaranya ditemukan pada orang-orang yang baru melakukan perjalanan dari DRC. Uganda juga telah melaporkan dua kematian akibat penyakit tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More