ilustrasi polisi (pexels.com/Kindel Media)
Aksi ini turut melibatkan Ketua Thailand Watch Foundation, Panthep Puapongpan, serta perwakilan Network of Students and People for Reform of Thailand, Pichit Chaimongkol dan Nitithorn Lamlue. Massa mulai berkumpul sejak pukul 09.00 waktu setempat dengan membawa spanduk bernada protes, di antaranya bertuliskan "Thailand welcomes tourists, not war criminals" dan "Stop Genocide". Sondhi tiba di lokasi pada pukul 09.05 waktu setempat mengenakan kaus putih bertuliskan slogan Take Our Thailand Back.
Aparat kepolisian dari Kantor Polisi Thong Lor bersama Divisi 5 Kepolisian Metropolitan Bangkok diterjunkan langsung untuk mengamankan jalannya aksi. Tim penjinak bahan peledak juga dikerahkan guna memeriksa dan memastikan area sekitar steril dari benda-benda berbahaya. Seluruh rangkaian kegiatan unjuk rasa berjalan dengan tertib tanpa adanya laporan bentrokan fisik maupun insiden gangguan keamanan serius.
Kepada para jurnalis, Sondhi menyatakan dirinya tidak ragu untuk terus mengawal isu penertiban kepemilikan aset asing ini. Dia mengingatkan pemerintah Thailand akan terus menghadapi tekanan publik jika mengabaikan masalah kedaulatan demi kepentingan bisnis semata. Sondhi juga berencana mengajukan petisi baru terkait dugaan jaringan bisnis ilegal asal China yang disebutnya sebagai bisnis abu-abu (grey Chinese), serta menggelar aksi unjuk rasa lanjutan di Chonburi, Chanthaburi, dan Khon Kaen.