Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
WHO Laporkan 120 Orang Tewas imbas Wabah Kolera di Sudan
logo WHO (pixabay.com/Miguel A. Padrnan)
  • WHO melaporkan 120 orang tewas akibat wabah Kolera di Sudan, dengan total lebih dari 124 ribu kasus sejak Juli 2024 hingga Maret 2026.
  • Wabah Kolera makin parah karena perang saudara antara SAF dan RSF yang merusak fasilitas kesehatan, membuat banyak rumah sakit tidak berfungsi optimal.
  • WHO memperingatkan potensi penyebaran Kolera ke wilayah lain seperti Kordofan Utara, di mana sudah ada ratusan kasus baru dan beberapa korban jiwa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sudah ada 120 orang yang tewas imbas wabah Kolera di Sudan. Laporan itu disampaikan oleh WHO pada Rabu (1/7/2026) kemarin. 

Kolera sendiri merupakan sebuah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio cholerae. Bakteri ini biasanya tersebar lewat air yang sudah terkontaminasi. Dilansir Mayo Clinic, Penyakit Kolera menyerang usus sehingga penderitanya akan mengalami gejala diare hebat. Gejala ini kemudian akan membuat penderita juga mengalami dehidrasi akut karena terlalu sering buang air. 

1. Sudan sudah mengalami wabah Kolera sebanyak tiga kali

potret bakteri Kolera (commons.wikimedia.org/Wayback Machine)

Sudan sendiri sudah mengalami wabah Kolera sebanyak tiga kali. Wabah Kolera pertama di sana muncul di Negara Bagian Kassala pada akhir Juli 2024. Wabah yang terjadi pada 2026 ini merupakan yang ketiga. Wabah Ebola di Sudan tahun ini pertama kali terjadi di Negara Bagian Kordofan Barat pada Maret lalu. 

Sepanjang Juli 2024 hingga Maret 2026, WHO menyebut sudah ada 124.400 orang di Sudan yang terinfeksi wabah Kolera. Dari jumlah tersebut, 3.500 di antaranya sudah  dinyatakan tewas. Menurut Kementerian Kesehatan Sudan, mereka tewas karena terlambat ditangani oleh petugas medis setempat. 

2. Wabah Kolera di Sudan diperburuk perang saudara

ilustrasi perang saudara (unsplash.com/Hasan Almasi)

Kepala WHO cabang Sudan, Shible Sahbani, mengatakan, wabah Kolera di wilayahnya diperparah oleh perang saudara yang terjadi antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan pasukan Rapid Support Force (RSF). Perang itu membuat banyak fasilitas kesehatan di Sudan rusak sehingga tidak bisa dipakai untuk menangani pasien Kolera.  

"Sebanyak 40 persen fasilitas kesehatan sama sekali tidak berfungsi dan hampir 60 persen sisanya hanya berfungsi sebagian. Artinya, mereka hanya menyediakan sedikit layanan atau tidak cukup layanan bagi pasien di daerah tersebut," kata Sahbani, seperti dilansir The New Arab.  

3. Wabah Kolera berpotensi menyebar ke wilayah lain di Sudan

potret sebuah wilayah di Sudan (unsplash.com/Steve King)

Menurut WHO, wabah Ebola ini berpotensi menyebar luas ke wilayah lainnya yang ada di Sudan. Sebab, saat ini, wabah sudah menyebar ke sejumlah wilayah di Negara Bagian Kordofan Utara. Di sana, sudah ada sekitar 300 kasus infeksi Kolera. Dari jumlah tersebut, tiga pasien di antaranya dilaporkan tewas. 

Menurut otoritas setempat, RSF sedang merencanakan serangan besar-besaran di Kordofan Utara. Jika serangan ini terjadi, penanganan wabah Ebola di sana diprediksi akan terhambat. Sebab, petugas kesehatan jadi tidak bisa bekerja karena khawatir akan bahaya serangan RSF.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article