AS Kerahkan 900 Personel Militer Bantu Korban Gempa Venezuela

- Amerika Serikat mengerahkan lebih dari 900 personel militernya ke Venezuela untuk membantu operasi kemanusiaan pascagempa bermagnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang negara itu pada 24 Juni 2026.
- Pasukan AS mendirikan pusat koordinasi bantuan di Bandara Simón Bolívar, memperbaiki landasan pacu, membuka pelabuhan La Guaira, serta menggunakan drone dan helikopter guna memperlancar distribusi logistik.
- Gempa menyebabkan sekitar 58.870 bangunan rusak dan menewaskan hampir dua ribu orang; AS menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai total 300 juta dolar melalui mitra internasional seperti Palang Merah dan UNICEF.
Jakarta, IDN Times - Militer Amerika Serikat (AS) pada Selasa (30/6/2026) menyatakan telah mengerahkan lebih dari 900 personelnya ke Venezuela. Langkah ini diambil untuk mendukung operasi bantuan kemanusiaan pasca gempa bumi ganda bermagnitudo 7,2 dan 7,5 pada 24 Juni lalu.
Selain di Venezuela, sekitar 800 personel tambahan disiagakan di Puerto Riko dan Curacao. Tujuan pengerahan kali ini kontras dengan aksi militer AS sebelumnya yang menangkap Presiden Nicolas Maduro pada Januari lalu.
1. Militer AS bantu evakuasi dan logistik di Venezuela

Pasukan Marinir AS menjadi personel Amerika pertama yang turun langsung ke lapangan membantu tim penyelamat lokal. Mereka ikut menggali puing-puing bangunan untuk mencari korban selamat yang masih terjebak.
Militer AS juga mendirikan Pusat Koordinasi Bantuan Kemanusiaan (HACC) di Bandara Internasional Simón Bolívar. Fasilitas yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Kevin J. Jarrard ini berfungsi mengatur aliran bantuan logistik kemanusiaan.
Tim teknis dari AS ikut membantu memperbaiki dua landasan pacu bandara yang rusak akibat gempa. Perbaikan ini ditujukan untuk memfasilitasi kedatangan pasokan bantuan internasional dari berbagai negara.
Sebanyak 130 Marinir lainnya dikerahkan guna membuka kembali operasional pelabuhan La Guaira. Kapal pendarat amfibi USS Fort Lauderdale kini bersandar di sana sebagai pusat komunikasi dan distribusi medis.
2. Militer AS tidak menyiapkan misi permanen

Demi mempercepat pemetaan dampak bencana, AS menerbangkan empat hingga lima pesawat nirawak (drone) MQ-9 Reaper. Drone ini memberikan pandangan yang lebih jelas bagi otoritas lokal terkait kondisi jalan dan bangunan yang hancur.
Angkatan Laut AS juga mengerahkan kapal USS Billings yang membawa tambahan armada helikopter. Helikopter tersebut dikerahkan untuk mengangkut pasokan bantuan ke daerah-daerah yang sulit diakses lewat jalur darat.
Misi militer AS berfokus pada kelancaran logistik agar suplai tidak menumpuk di pintu masuk. Jenderal Francis Donovan, Komandan Komando Selatan AS (Southcom), menegaskan pasukannya tidak bersiap untuk misi permanen.
"Tidak ada pembicaraan untuk tinggal, karena kami akan pergi setelah tugas selesai. Jika hal ini membuka pintu bagi hubungan militer kedua negara yang lebih baik, tentu saja kami akan siap untuk bergerak maju," ujar Donovan, dilansir The Straits Times.
3. Gempa rusak 58 ribu bangunan di Venezuela

Kerusakan infrastruktur akibat gempa di Venezuela dinilai sangat masif dan memprihatinkan. Berdasarkan data analisis satelit awal, sekitar 58.870 bangunan kemungkinan besar rusak atau hancur total di seluruh wilayah terdampak.
Tragedi ini merenggut nyawa sedikitnya 1.943 orang dan membuat lebih dari 10 ribu warga mengalami luka-luka. Tim penyelamat dan sukarelawan masih terus bekerja keras mencari korban di tumpukan puing bangunan.
Guna menanggulangi krisis, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan bantuan kemanusiaan total senilai 300 juta dolar AS (Rp5,3 triliun) untuk Venezuela. Dana tersebut mencakup alokasi baru sebesar 100 juta dolar AS (Rp1,7 triliun) yang akan disalurkan melalui mitra seperti Palang Merah dan UNICEF.
"Respons kami akan besar, cepat, dan efektif," kata Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, melansir The New York Times.





















