JEFF 2026 Contoh Festival Besar Tanpa Timbunan Sampah

- JEFF 2026 di Balai Kota Jakarta mengusung konsep Less Waste Event untuk mendorong perilaku berkelanjutan dan tanggung jawab lingkungan dalam penyelenggaraan acara publik.
- Pemerintah DKI menyiapkan 13 set tempat sampah pilah serta petugas edukasi agar pengunjung dapat memilah sampah organik, anorganik, dan residu dengan benar selama festival berlangsung.
- Melalui kerja sama dengan Dietplastik Indonesia, JEFF 2026 menerapkan sistem wadah guna ulang bagi tenant makanan-minuman sebagai upaya menekan penggunaan kemasan sekali pakai.
Jakarta, IDN Times – Jakarta Eco Future Festival (JEFF) 2026 yang digelar pada 3 sampai 4 Juli di Balai Kota DKI Jakarta tidak hanya menjadi festival lingkungan terbesar tahun ini, tetapi menjadi ruang pembelajaran bagaimana sebuah acara publik dapat diselenggarakan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Mengusung konsep Less Waste Event atau kegiatan minim sampah, JEFF 2026 dirancang untuk mendorong perubahan perilaku yang lebih berkelanjutan, mulai dari pengurangan sampah sejak dari sumber, pemilahan sampah, hingga penerapan sistem guna ulang selama festival berlangsung.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, menyampaikan bahwa penerapan Less Waste Event merupakan bagian dari komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk menghadirkan acara publik yang tidak hanya meriah dan edukatif, tetapi juga memberi dampak positif bagi lingkungan.
“Upaya pengurangan sampah tidak hanya dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam berbagai kegiatan yang melibatkan banyak orang, termasuk festival dan acara publik. Melalui JEFF 2026, kami ingin menunjukkan bahwa acara besar pun bisa diselenggarakan dengan lebih bijak, tertib, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ujar Dudi dalam keterangan, Kamis (2/6/2026)
1. Momentum pengelolaan sampah

Menurutnya, JEFF 2026 menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah yang baik bukan hanya urusan pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi semua pihak.
Pengunjung, tenant, komunitas, dunia usaha, hingga petugas di lapangan memiliki peran penting dalam menciptakan festival yang bersih, nyaman, dan minim sampah.
2. DLH sediakan 13 set tempat sampah pilah

Sebagai bagian dari penerapan konsep tersebut, JEFF 2026 akan menyediakan 13 set tempat sampah pilah yang terdiri atas sampah organik, anorganik, dan residu di seluruh area festival. Pada setiap titik, petugas penyuluh dari Pramuka Saka Kalpataru akan mendampingi sekaligus mengedukasi pengunjung agar dapat memilah sampah dengan benar sejak dari sumber.
“Setiap sampah akan dikelola sesuai jenisnya. Sampah organik akan diolah menjadi kompos dan pakan maggot oleh Satpel LH Gambir, sampah anorganik dikumpulkan melalui Waste Station Balai Kota, sementara sampah residu akan diangkut ke TPST Bantargebang,” jelas Dudi.
3. JEFF 2026 dapat menjadi contoh praktik baik

Tidak hanya berhenti pada pengelolaan sampah setelah dikonsumsi, JEFF 2026 juga menerapkan Protokol Guna Ulang bekerjasama dengan Dietplastik Indonesia untuk menekan penggunaan kemasan sekali pakai.
Melalui sistem ini, tenant makanan dan minuman akan menggunakan wadah guna ulang yang dapat dipakai berulang kali, sehingga timbulan sampah selama acara dapat ditekan secara signifikan.
Untuk mendukung sistem tersebut, panitia menyediakan titik pengembalian wadah atau drop point di area festival. Wadah yang telah digunakan pengunjung akan dikumpulkan, dibersihkan oleh tim teknis di fasilitas pencucian khusus, kemudian dikembalikan kepada tenant untuk digunakan kembali.
Dudi berharap JEFF 2026 dapat menjadi contoh praktik baik bagi penyelenggaraan berbagai kegiatan lain di Jakarta. Menurutnya, semakin banyak acara yang menerapkan prinsip minim sampah dan guna ulang, semakin kuat pula budaya baru yang tumbuh di tengah masyarakat.
“Budaya pilah sampah dan guna ulang perlu kita bangun bersama. Langkahnya sederhana, tetapi dampaknya besar jika dilakukan secara konsisten. Kami mengajak seluruh pengunjung JEFF 2026 untuk ikut mendukung gerakan ini, dengan membuang sampah sesuai jenisnya, mengembalikan wadah guna ulang ke titik yang tersedia, dan menjadi bagian dari perubahan menuju Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” kata Dudi.



















