Iran Tolak Pihak Asing Ikut Campur Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz

- Iran menolak bantuan asing dalam pembersihan ranjau di Selat Hormuz dan menegaskan seluruh operasi maritim berada di bawah koordinasinya sesuai Memorandum Islamabad.
- Teheran mempertahankan kontrol penuh atas jalur pelayaran, termasuk penentuan kapal yang boleh melintas serta rencana penerapan biaya setelah masa pengaturan sementara berakhir.
- Sebuah kapal kontainer kandas di sisi Oman karena tidak mengikuti koridor resmi Iran, memperkuat sikap Teheran terhadap kepatuhan pada jalur pelayaran yang telah ditetapkan.
Jakarta, IDN Times - Iran menegaskan tidak membutuhkan bantuan negara lain untuk membersihkan ranjau di Selat Hormuz. Pada Selasa (30/6/2026), Teheran mengatakan bahwa keterlibatan pihak asing hanya akan memperumit situasi di jalur pelayaran strategis tersebut.
Iran berulang kali menegaskan bahwa pengelolaan pelayaran, operasi pembersihan ranjau, dan pengaturan maritim sementara di Selat Hormuz berada di bawah koordinasinya sebagai negara pesisir. Teheran menyatakan seluruh mekanisme tersebut mengacu pada Pasal 5 Memorandum Islamabad.
"Iran memahami tanggung jawabnya lebih baik daripada pihak mana pun dan memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Tidak ada kebutuhan akan campur tangan pihak lain," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei, dikutip dari Anadolu.
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Senin mengumumkan bahwa Prancis dan Oman, serta mitra internasional lainnya akan bekerja sama untuk melakukan pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Macron mengatakan misi tersebut bertujuan menjamin jalur pelayaran tetap aman dan terbuka.
1. Iran pastikan keamanan pelayaran di Selat Hormuz
Berdasarkan nota kesepahaman Iran dan Amerika Serikat (AS) pada 18 Juni lalu, Teheran akan menyediakan jalur aman bagi kapal-kapal dagang yang berlayar dari wilayah Teluk menuju Laut Oman maupun sebaliknya. Baqaei mengatakan layanan tersebut tidak dikenakan biaya selama 60 hari sebagai bagian dari komitmen Iran untuk menjaga kelancaran lalu lintas maritim di kawasan.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menegaskan pihaknya hanya akan menjamin keamanan kapal yang berkoordinasi dan melintasi koridor pelayaran yang telah ditetapkan Teheran. Pihaknya menyatakan akan bertanggung jawab atas keamanan kapal sejak memasuki hingga meninggalkan Teluk Persia.
Baqaei menambahkan bahwa pelayaran komersial akan dimulai segera setelah hambatan teknis, militer, dan proses pembersihan ranjau selesai dilakukan. Dia menegaskan bahwa Iran memiliki kapasitas penuh untuk menjalankan proses tersebut tanpa bantuan negara lain.
2. Teheran bersikeras mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz
Sejumlah pejabat senior Iran mengatakan kesepakatan sementara dengan AS tetap memberikan Teheran kewenangan untuk menentukan kapal mana yang dapat melintas, serta jalur yang harus digunakan di Selat Hormuz.
Negara Timur Tengah itu juga berencana mulai mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz setelah masa pengaturan sementara selama 60 hari berakhir pada pertengahan Agustus. Sikap tersebut mendapat penolakan dari Washington dan sejumlah negara Arab di kawasan Teluk.
Dilansir The Straits Times, Iran menegaskan bahwa pihaknya siap mempertahankan posisinya apabila negara lain menolak syarat yang diajukan. Teheran menyatakan tidak akan mundur meski kebijakan tersebut berpotensi memicu kembali ketegangan dengan negara adidaya yang menjadi rivalnya.
3. Sebuah kapal kontainer kandas usai tidak melintasi koridor yang ditetapkan Iran
Sebuah kapal kontainer dilaporkan kandas di perairan dangkal sisi Oman di Selat Hormuz pada Rabu (1/7/2026). Insiden itu terjadi ketika Iran terus menegaskan kewenangannya dalam mengatur lalu lintas kapal di jalur pelayaran tersebut.
Media pemerintah Iran dan sejumlah pejabat setempat mengaitkan insiden itu dengan keputusan kapal untuk tidak menggunakan koridor pelayaran resmi yang ditetapkan oleh Teheran. Pihaknya mengatakan telah berulang kali memperingatkan nakhoda, pemilik kapal, dan perusahaan pelayaran internasional agar menghindari jalur selain rute yang ditetapkan oleh Iran.
Kapal yang kandas itu diyakini berlayar melalui koridor Oman yang dibentuk pekan lalu oleh Muscat bersama Organisasi Maritim Internasional (IMO) sebagai jalur alternatif terhadap rute Iran di sebelah selatan Pulau Larak.




















