Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
WHO Peringatkan Wabah Ebola Kongo Bisa Jadi Terburuk dalam Sejarah
ilustrasi bendera Kongo (Aerra Carnicom, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • WHO mencatat lebih dari 4.300 kasus Ebola dan lebih dari 2.000 kematian di Kongo; virus diduga menyebar sejak Februari 2026, sebelum status darurat diumumkan pada 15 Mei.
  • Wabah dipicu galur langka Bundibugyo yang belum memiliki vaksin atau pengobatan resmi. WHO dan ilmuwan menjalankan uji klinis darurat untuk kandidat vaksin serta terapi baru.
  • Konflik bersenjata, akses jalan buruk, mogok tenaga kesehatan karena gaji tertunggak, dan disinformasi menghambat penanganan serta meningkatkan risiko penyebaran ke negara tetangga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan serius terkait melonjaknya kasus penyebaran virus Ebola di wilayah timur Republik Demokratik Kongo pada Rabu (12/8/2026). Laju penularan yang berlangsung sangat cepat berisiko menjadikan wabah ini sebagai krisis kesehatan paling mematikan dalam sejarah pencatatan medis.

Kondisi darurat ini kian memburuk akibat krisis kemanusiaan dan konflik bersenjata yang masih bergejolak di kawasan terpencil tersebut. Ketiadaan infrastruktur medis dasar serta keterisolasian wilayah geografis mempercepat penularan ke area permukiman padat hingga menyeberang ke negara tetangga.

1. Angka kematian tembus dua ribu jiwa, puncak wabah diprediksi dalam 6 bulan

ilustrasi bunga duka cita (pexels.com/Martina Martinez)

Laporan terbaru WHO mencatat angka kematian akibat Ebola di Kongo telah melampaui 2.000 jiwa dari total lebih dari 4.300 kasus yang terkonfirmasi. Meskipun pemerintah setempat baru secara resmi mengumumkan status darurat wabah pada 15 Mei 2026, hasil analisis sekuensing genetik mengonfirmasi bahwa virus sebenarnya telah menyebar secara tersembunyi sejak Februari 2026.

Direktur Operasi Darurat Kesehatan WHO, Dr. Abdirahman Mahamud, menjelaskan bahwa dalam skenario moderat, puncak wabah diperkirakan terjadi dalam kurun waktu enam bulan ke depan. Namun, jika penanganan terus terhambat, wabah ini diproyeksikan dapat terus membentang hingga 9 sampai 12 bulan dan berisiko melampaui krisis Ebola Afrika Barat periode 2014–2016 yang menelan 11 ribu korban jiwa.

2. Dipicu galur langka Bundibugyo yang belum memiliki vaksin resmi

ilustrasi virus (freepik.com/kjpargeter)

Tingginya tingkat mortalitas pada wabah kali ini disebabkan oleh infeksi virus Ebola spesies Bundibugyo. Galur virus ini tergolong sangat langka dan belum memiliki vaksin atau metode pengobatan medis khusus yang disetujui secara resmi.

Guna menekan angka kematian, otoritas kesehatan global bersama para ilmuwan saat ini tengah meluncurkan uji klinis darurat di lapangan. Langkah ini diambil untuk menguji efektivitas dan keamanan sejumlah kandidat vaksin serta terapi pengobatan baru langsung kepada para pasien terinfeksi.

3. Konflik bersenjata, pemogokan nakes, dan disinformasi perberat penanganan

ilustrasi senjata api (pixabay.com/Piotr Zakrzewski)

Upaya penanggulangan medis di lapangan menghadapi tantangan kompleks. Lokasi wabah di Kongo timur berada di kawasan terisolasi yang berbatasan langsung dengan Sudan Selatan, Uganda, dan Rwanda, di mana akses jalan sangat buruk dan rawan serangan kelompok bersenjata.

Kondisi tersebut diperparah oleh aksi mogok kerja sejumlah tenaga kesehatan lokal akibat tunggakan gaji, serta maraknya disinformasi yang membuat warga enggan berobat ke fasilitas medis. Dilansir Times of India, Menanggapi situasi kritis ini, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menegaskan perlunya kerja ekstra keras dari seluruh pihak.

"Wabah ini telah mencatatkan awal yang cepat dan masih jauh berada di depan kita. Saat ini kita sedang berupaya keras untuk mengejarnya," ujar Tedros.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article