Jumlah Kematian akibat Wabah Ebola di RD Kongo Capai 2 Ribu Jiwa

- Wabah Ebola di RD Kongo menewaskan 2.011 orang dari 4.381 kasus terkonfirmasi, dengan sekitar 1.000 kematian dalam tiga pekan terakhir.
- Penanganan terhambat mogok tenaga kesehatan, misinformasi, dan pemakaman tradisional; WHO memperkirakan virus muncul sejak Februari 2026, sementara vaksin strain Bundibugyo masih diuji.
- Israel mengisolasi seorang warga yang pulang dari RD Kongo karena dugaan Ebola, serta mengimbau warganya menghindari perjalanan tidak mendesak ke RD Kongo dan Uganda.
Jakarta, IDN Times - Otoritas Republik Demokratik Kongo (DRC), pada Selasa (11/8/2026), melaporkan bahwa wabah Ebola yang melanda negara tersebut telah menewaskan 2.011 orang dari total 4.381 kasus yang terkonfirmasi. Data menunjukkan bahwa sekitar 1.000 kematian terjadi dalam 3 pekan terakhir.
Dengan jumlah tersebut, wabah ini menjadi wabah Ebola yang paling berkembang cepat yang pernah tercatat di DRC. Selain itu, wabah kali ini juga menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah setelah wabah di Afrika Barat pada 2014-2016, yang menewaskan 11.310 orang.
1. Aksi mogok kerja tenaga kesehatan hingga misinformasi hambat upaya penanganan wabah

ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons) Ebola merupakan penyakit virus berbahaya dengan gejala meliputi demam, muntah, diare dan perdarahan internal. Penyakit ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi maupun orang yang telah meninggal dunia akibat penyakit tersebut.
Dilansir Al Jazeera, upaya penanganan wabah Ebola di DRC menghadapi berbagai kendala, mulai dari aksi mogok kerja tenaga kesehatan yang belum menerima upah, misinformasi hingga tradisi budaya. Banyak warga di sana masih memakamkan anggota keluarga mereka yang meninggal akibat virus tersebut dengan cara tradisional sehingga meningkatkan risiko penularan lebih lanjut.
2. Wabah Ebola di DRC kemungkinan dimulai pada Februari 2026

ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons) Sejauh ini, belum ada pengobatan maupun vaksin yang disetujui untuk strain Ebola Bundibugyo, yang menjadi penyebab wabah Ebola di DRC saat ini. Pekan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa uji coba vaksin sedang berlangsung, tetapi hasilnya kemungkinan baru akan diperoleh dalam beberapa bulan.
Pada Senin (10/8/2026), badan kesehatan PBB tersebut mengungkapkan bahwa bahwa virus itu kemungkinan pertama kali muncul di DRC pada Februari 2026, 3 bulan sebelum wabah secara resmi diumumkan di negara tersebut dan Uganda pada 15 Mei 2026. Beberapa kasus pada tahap awal bahkan sempat salah didiagnosis sebagai malaria dan tifus.
“Jadi, kami sedang mengejar virus tersebut, sementara virus itu berada selangkah di depan kami,” kata Direktur Regional WHO untuk Afrika, Mohamed Janabi, dikutip Anadolu.
3. Israel curigai adanya kasus Ebola di negaranya

bendera Israel (pexels.com/Leonid Altman) Pada Selasa, Kementerian Kesehatan Israel mengumumkan adanya kemungkinan kasus Ebola di negara tersebut setelah seorang warganya kembali dari DRC. Orang tersebut saat ini masih menjalani isolasi dan hasil pemeriksaannya akan keluar dalam waktu 1 hari.
Dilansir The Times of Israel, kementerian mengimbau warga Israel untuk menghindari perjalanan yang tidak mendesak ke DRC atau Uganda, khususnya ke wilayah yang memiliki kasus infeksi aktif. Jika harus bepergian ke salah satu negara tersebut, mereka disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan klinik perjalanan.
Sejauh ini, belum pernah ada kasus Ebola yang terkonfirmasi di Israel. Pada Juni 2026, dua pasien di rumah sakit Israel sempat diduga terjangkit Ebola, tapi hasil tes menunjukkan bahwa keduanya negatif.




















