Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Lelaki Menari di Stadion Bikin Sebagian Fans Sepak Bola Geram?
ilustrasi stadion (unsplash.com/Waldemar)
  • Seorang idola KPop tampil menari dan melakukan tendangan pembuka dalam seremoni laga di Seoul, tetapi sebagian warganet merespons dengan ejekan soal tubuh, gaya, maskulinitas, dan orientasi seksualnya.
  • Artikel menekankan bahwa hiburan di stadion merupakan bagian umum dari pengalaman pertandingan dan strategi komersial; performer tersebut hadir secara resmi, menjalankan koreografi lagu viral, tanpa mengganggu laga.
  • Kritik terhadap penampilan dianggap sah sebagai selera pribadi, tetapi penggunaan istilah seperti “gay” atau “banci” sebagai hinaan dinilai merendahkan identitas seksual dan mencerminkan standar maskulinitas yang sempit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada hal yang jauh lebih janggal serta menggelitik, yakni orang-orang yang repot-repot meninggalkan hate comment atas seorang laki-laki yang menari di stadion lalu merasa ia tak cukup manly. Itulah yang terjadi usai laga besar di Seoul pada 9 Agustus 2026 lalu yang mempertemukan dua klub raksasa Eropa, ketika seorang idola KPop tampil dalam seremoni pembukaan pertandingan. Ia membawa bola ke tengah lapangan, menari mengikuti lagu yang sedang viral, kemudian melakukan tendangan pembuka. Kehadirannya bukan sebagai penonton yang tiba-tiba menerobos lapangan, melainkan bagian dari acara yang memang telah dipersiapkan sebelum pertandingan dimulai.

Namun, sejumlah reaksi di media sosial justru membuat momen sederhana ini terlihat seperti persoalan besar. Alih-alih berhenti pada komentar semacam "saya tidak menyukai KPop" atau "saya tidak suka orangnya", tanggapan yang muncul berkembang menjadi ejekan terhadap tubuh, gaya, gerakan, bahkan dugaan mengenai orientasi seksual sang performer. Padahal, gerakan yang dibawakan bukan tarian sembarangan, melainkan koreografi asli dari lagu yang sedang populer tersebut, termasuk gerakan chest pop yang memang menjadi salah satu ciri khasnya. Jika beberapa detik penampilan seorang performer saja sudah cukup membuat sebagian orang sibuk mempertanyakan kelelakiannya, mungkin ada persoalan yang jauh lebih layak dibicarakan daripada tariannya itu sendiri. Lantas, mengapa lelaki menari di stadion bikin sebagian fans sepak bola geram?

1. Stadion sepak bola bukan tempat sakral yang haram disentuh hiburan

ilustrasi stadion (unsplash.com/Ruben Ramirez)

Mari mulai dari hal paling basic mengenai sejak kapan stadion sepak bola hanya boleh diisi oleh sepak bola semata? Pertandingan profesional di berbagai negara tidak pernah benar-benar berdiri sebagai olahraga murni. Selalu ada musik sebelum laga dimulai, penyanyi pembuka, maskot, pertunjukan, aktivitas sponsor, pembawa acara, hingga berbagai bentuk hiburan lain yang dirancang untuk membangun pengalaman penonton secara langsung (pengalaman yang tak tersorot kamera kalau menonton pertandingan via televisi). Klub pun tidak memperoleh pemasukan hanya dari penjualan tiket, tetapi juga dari sponsor, hak siar, merchandise, kerja sama komersial, dan kemampuan mereka untuk menarik sebanyak mungkin orang untuk menyaksikan pertandingan. Ketika sebuah penyelenggara memanfaatkan popularitas figur hiburan untuk menarik lebih banyak perhatian terhadap pertandingannya, itu adalah strategi pemasaran, bukan penghinaan terhadap sepak bola.

Korea Selatan sendiri sudah lama mempertemukan industri olahraga dengan budaya populer, sehingga kehadiran seorang idola di stadion bukan sesuatu yang perlu dipandang sebagai kejadian luar biasa, aneh, cringe, dan sebagainya. Pemilihan performer tersebut pun tidak sulit dipahami, sebab bagian lagu yang ia bawakan memang sedang viral dan koreografinya telah dikenal luas di media sosial. Mungkin muncul pertanyaan, "Mengapa hanya dia, bukan satu grup lengkap?" Jawabannya sederhana: yang diundang ialah orang yang memang dibutuhkan untuk segmen tersebut. Ini adalah acara olahraga yang memanfaatkan unsur hiburan untuk menjangkau penonton yang lebih luas, bukan forum yang memerlukan persetujuan dari penggemar sepak bola terlebih dahulu.

2. Pemain boleh berciuman, mengapa laki-laki menari justru dianggap aneh?

ilustrasi selebrasi (unsplash.com/Alfonso Scarpa)

Di sinilah standar ganda tersebut mulai terlihat jelas. Dalam pertandingan sepak bola, para pemain kerap berpelukan setelah mencetak gol, saling menindih, mencium kepala atau pipi rekan setimnya, bahkan dalam sejumlah selebrasi terlihat sangat dekat secara fisik satu sama lain. Tidak ada laki-laki fans fanatik sepak bola yang mempersoalkannya, karena semua orang memahami konteksnya; mereka sedang merayakan euforia kemenangan. Penonton tidak lantas membuat kesimpulan tentang orientasi seksual pemain hanya karena dua laki-laki berpelukan atau menunjukkan kasih sayang setelah mencetak gol. Bahkan ekspresi yang sangat emosional justru dianggap sebagai salah satu daya tarik sepak bola itu sendiri.

Namun, ketika seorang laki-laki melakukan koreografi selama beberapa detik, sebagian orang tiba-tiba menemukan alasan untuk mempersoalkan maskulinitasnya. Gerakan chest popping disebut "tidak macho", wajahnya dianggap terlalu feminin, kemudian muncul hinaan seperti "gay", "banci", atau "cringe". Apa sebenarnya hubungan antara gerakan tari dan orientasi seksual seseorang? Tidak ada, bukan? Gerakan tubuh bukanlah alat untuk membaca kepada siapa seseorang tertarik secara seksual.

3. Jika "gay" dipakai sebagai hinaan, sebenarnya siapa yang sedang dihina?

ilustrasi cyber bullying (pexels.com/Sora Shimazaki)

Tak bermaksud judgemental, kata "gay" mungkin terdengar sepele ketika dilontarkan sebagai komentar, tetapi konteks penggunaannya sangat penting untuk diperhatikan. Ketika kata tersebut dipakai untuk mengejek laki-laki yang dianggap terlalu feminin, pesan yang sesungguhnya disampaikan adalah bahwa menjadi gay merupakan sesuatu yang memalukan. Sebab jika tidak dianggap memalukan, kata itu tentu tidak akan dijadikan "senjata" untuk menjatuhkan orang lain. Hal serupa berlaku pula pada kata "banci" atau ejekan sejenisnya. Itu bukan kritik terhadap pertandingan, bukan kritik terhadap teknik bermain, bahkan bukan kritik terhadap kualitas pertunjukan. Itu hanyalah upaya merendahkan seseorang dengan menjadikan identitas seksual sebagai bahan olok-olok. Kita sama sekali tak berhak mengejek siapa pun seperti itu.

Lantas yang lebih ironis, komentar semacam itu sering dibela dengan alasan, "kan, cuma bercanda." Padahal, tidak semua hal menjadi wajar hanya karena ditutup dengan kalimat “cuma bercanda”. Seseorang boleh saja tidak menyukai penampilan tersebut, boleh merasa koreografinya berlebihan, bahkan boleh merasa tidak cocok menyaksikan pertunjukan semacam itu di stadion. Namun, ada gap yang sangat jelas antara "saya tidak suka" dan "saya harus merendahkan orang ini karena ia terlalu rapi untuk ukuran laki-laki". Ketika seseorang bahkan rela masuk ke kolom komentar unggahan pribadi orang lain hanya untuk menyerang tubuh, penampilan, atau orientasi seksualnya, itu bukan lagi soal selera, melainkan kebutuhan untuk menjadikan orang lain sebagai sasaran penghinaan.

4. Jangan-jangan yang terganggu memang bukan sepak bolanya

ilustrasi sepak bola (unsplash.com/Jannik)

Ada hal yang jauh lebih menarik untuk ditelusuri daripada sekadar menyebut komentar tersebut homofobik, yaitu memahami mengapa maskulinitas seorang laki-laki begitu mudah dipersoalkan oleh laki-laki lain. Ada semacam standar tidak tertulis tentang bagaimana seorang laki-laki seharusnya berjalan, berbicara, berpakaian, berekspresi, dan menggunakan tubuhnya. Laki-laki boleh terlihat kuat, agresif, berotot, berteriak saat mencetak gol, atau bahkan menangis setelah pertandingan usai, tetapi begitu ia tampil dengan cara yang dianggap berbeda, orang lain merasa berhak mengoreksinya. Seolah-olah ada kesepakatan tak tertulis yang berbunyi: laki-laki boleh melakukan apa saja, asalkan tetap terlihat seperti laki-laki menurut standar mereka.

Performer tersebut tidak sedang berusaha menjadi pemain sepak bola. Ia adalah seorang penyanyi, dan menari memang bagian dari pekerjaannya. Koreografi yang ia bawakan pun bukan gerakan asal-asalan yang muncul karena kebingungan harus berbuat apa di lapangan, melainkan bagian dari lagu yang memang sedang populer. Justru terasa janggal jika seorang performer diminta menyesuaikan gerakannya dengan standar maskulinitas penonton sepak bola. Ibaratnya tidak jauh berbeda dengan meminta seorang pesepak bola bernyanyi dengan teknik vokal tertentu agar dianggap layak berdiri di atas panggung. Seseorang tengah menjalankan profesinya, tetapi publik justru sibuk mengatur bagaimana seharusnya tubuhnya bergerak.

5. Hal yang memalukan bukan tariannya, melainkan perilaku di kolom komentar

ilustrasi komentar (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)

Tidak ada masalah jika seorang penggemar sepak bola merasa penampilan tersebut bukan seleranya, dan tidak ada pula kewajiban bagi siapa pun untuk menyukai KPop hanya karena seorang idola tampil dalam sebuah pertandingan olahraga. Namun, rasa tidak suka semestinya berhenti pada preferensi pribadi. Ketika komentar berubah menjadi serangan terhadap fisik, orientasi seksual, identitas budaya, atau asal seseorang, bahkan sampai menyerang unggahan pribadinya, persoalannya sudah tidak lagi tentang apakah KPop pantas hadir di stadion. Performer tersebut bahkan tidak mengganggu jalannya pertandingan. Ia hanya menjalankan bagian acara yang memang telah ditugaskan kepadanya, lalu meninggalkan lapangan untuk melanjutkan aktivitasnya tampil di acara lain, dan pertandingan pun berlangsung seperti biasa.

Meski begitu, mungkin masih banyak fans bola yang tidak menyukai penampilan tersebut, tetapi cukup dewasa untuk melewatkan videonya dan kembali fokus menonton pertandingan. Kritik ini diarahkan kepada mereka yang merasa superior, merasa bahwa sepak bola memberi mereka hak untuk merendahkan budaya lain, menjadikan orientasi seksual sebagai bahan ejekan, atau menentukan bagaimana seharusnya laki-laki lain bersikap. Seorang laki-laki yang menari selama beberapa detik tidak akan membuat sepak bola kehilangan kehormatannya dan wibawanya. Yang membuat sebuah komunitas terlihat buruk justru ketika ultras mereka merasa perlu merendahkan orang lain hanya karena tidak tahan melihat sesuatu yang berbeda dari kebiasaan mereka.

Toh, pada akhirnya, pertandingan tetap berjalan, gol tetap tercipta, dan tidak ada satu pun aturan sepak bola yang berubah hanya karena seorang performer menari jelang kick-off. Namun, sayang, momen lelaki menari di stadion bikin sebagian fans sepak bola geram, malah meninggalkan jejak dari orang-orang yang begitu sibuk mempersoalkan tubuh dan maskulinitas orang lain.

Jadi, jika ada yang bertanya siapa sebenarnya yang terlihat cringe dalam situasi ini, jawabannya mungkin tidak sesederhana yang mereka bayangkan. Ia datang karena diundang, menjalankan pekerjaannya, lalu pulang. Sementara itu, sebagian penonton memilih membawa beberapa detik tarian tersebut ke kolom komentar dan menjadikannya alasan untuk menunjukkan homofobia, prasangka, bahkan kebencian terhadap budaya lain. Jika demikian, sebenarnya siapa yang sedang mempermalukan siapa? Siapa yang sebenarnya cringe di sini?

Referensi

"Blockbuster clash against Manchester City in Seoul" Atletico Madrid. Diakses pada Agustus 2026.

"City 3-1 Atletico Madrid: 8-minute highlights – Asia Tour 2026" Manchester City. Diakses pada Agustus 2026.

"Korea's Rise and Reinvention of Sports Culture" Korean Culture. Diakses pada Agustus 2026.

"Racism, Football and The Internet" European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia. Diakses pada Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

Mattiyah Rachmat Gobel10 Jul 2026, 11:56 WIB