Ada hal yang jauh lebih janggal serta menggelitik, yakni orang-orang yang repot-repot meninggalkan hate comment atas seorang laki-laki yang menari di stadion lalu merasa ia tak cukup manly. Itulah yang terjadi usai laga besar di Seoul pada 9 Agustus 2026 lalu yang mempertemukan dua klub raksasa Eropa, ketika seorang idola KPop tampil dalam seremoni pembukaan pertandingan. Ia membawa bola ke tengah lapangan, menari mengikuti lagu yang sedang viral, kemudian melakukan tendangan pembuka. Kehadirannya bukan sebagai penonton yang tiba-tiba menerobos lapangan, melainkan bagian dari acara yang memang telah dipersiapkan sebelum pertandingan dimulai.
Namun, sejumlah reaksi di media sosial justru membuat momen sederhana ini terlihat seperti persoalan besar. Alih-alih berhenti pada komentar semacam "saya tidak menyukai KPop" atau "saya tidak suka orangnya", tanggapan yang muncul berkembang menjadi ejekan terhadap tubuh, gaya, gerakan, bahkan dugaan mengenai orientasi seksual sang performer. Padahal, gerakan yang dibawakan bukan tarian sembarangan, melainkan koreografi asli dari lagu yang sedang populer tersebut, termasuk gerakan chest pop yang memang menjadi salah satu ciri khasnya. Jika beberapa detik penampilan seorang performer saja sudah cukup membuat sebagian orang sibuk mempertanyakan kelelakiannya, mungkin ada persoalan yang jauh lebih layak dibicarakan daripada tariannya itu sendiri. Lantas, mengapa lelaki menari di stadion bikin sebagian fans sepak bola geram?
