Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[OPINI] Lagu Baru KATSEYE dan Kembalinya Male Gaze ke Ranah Arus Utama

[OPINI] Lagu Baru KATSEYE dan Kembalinya Male Gaze ke Ranah Arus Utama
KATSEYE (instagram.com/katseyeworld)
  • KATSEYE mengubah citra dari bubblegum pop ke konsep lebih dewasa dan sensual lewat “Animal” serta “Hootie Frutti”, memicu perdebatan antara hiperfeminitas dan seksualisasi berlebih.
  • Artikel menyoroti celah choice feminism: pilihan perempuan tidak selalu lepas dari ketimpangan sistemik, termasuk pengaruh pemegang kuasa yang masih didominasi pria di industri hiburan.
  • Citra KATSEYE dan figur publik lain dikaitkan dengan kemungkinan kembalinya male gaze ke arus utama, di tengah tren yang dinilai selaras dengan fantasi mayoritas pria.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

KATSEYE menjadi sorotan setelah merilis video musik untuk single berjudul “Hootie Frutti”. Perilisan materi itu mengonfirmasi upaya rebranding mereka ke arah yang berbeda dari sebelumnya. Beberapa waktu lalu, KATSEYE masih mengusung tema bubblegum pop yang lekat dengan remaja. Namun, sejak lagu “Animal”, citra itu perlahan berubah menjadi lebih dewasa dan berani.

Sebenarnya, upaya rebrand seperti ini sah-sah saja. Sabrina Carpenter, Zara Larsson, dan Tate McRae adalah beberapa yang mempraktikkannya dan sukses. Namun, kalau kita lihat lebih jauh, ada satu fenomena yang tak terelakkan dan patut jadi bahan kontemplasi. Apa itu?

  1. 1. Hiperfeminitas atau seksualisasi berlebih?

    KATSEYE
    KATSEYE

    Citra baru KATSEYE sebenarnya familier. Sabrina Carpenter, Tate McRae, girl group FLO, bahkan musisi pendatang baru Adéla memakai formula yang sama. Menurut kacamata sebagian orang, konsep yang mereka adopsi adalah hiperfeminitas. Sebuah konsep yang disebut pula sebagai gerakan mengeklaim kembali konsep feminin yang dahulu dipotret lewat kacamata patriarki sehingga identik dengan kepatuhan, kelembutan, bahkan menjurus ke infantilisasi perempuan.

    Konsep hiperfeminitas cukup populer di kalangan musisi perempuan gen Z, termasuk KATSEYE. Bukan cuma estetik, lagu-lagu mereka pun dibuat dengan prinsip yang sama. Ada pesan kepercayaan diri, penerimaan diri sendiri, kebebasan berekspresi, hingga emansipasi seksual. Gak heran lagu-lagu baru KATSEYE seperti “Animal” dan “Hootie Frutti” bernada serupa. Ada pesan sensual tersirat layaknya lagu-lagu pop yang dipopulerkan Sabrina Carpenter dan Tate McRae lewat album baru mereka masing-masing.

    Gaya visual mereka pun sebenarnya tidak baru, mirip dengan penyanyi perempuan pop era 2000-an yang didukung label besar seperti Britney Spears dan Christina Aguilera. Ada pola yang sama di sini, yakni tipisnya batas antara hiperfeminitas dan seksualisasi berlebih dalam konsep yang dipakai para musisi perempuan gen Z tadi. Selain lagu, pilihan pakaian sampai fokus lensa kamera dalam video musik mereka pun mengingatkan kita pada pola yang sama beberapa dekade lalu.

  2. 2. Diskursus KATSEYE menyingkap celah dalam choice feminism

    KATSEYE
    KATSEYE (instagram.com/katseyeworld)

    Anggapan seksualisasi berlebih tadi masih jadi perdebatan sengit di kalangan penggemar KATSEYE dan musisi perempuan gen Z lainnya. Choice feminism bisa jadi alasannya. Konsep ini merujuk pada keyakinan bahwa setiap pilihan yang diambil perempuan secara sadar perlu dihargai. Dengan begitu, perdebatan antara perempuan bekerja dan ibu rumah tangga tak lagi relevan. Lewat pendekatan itu, keputusan KATSEYE dan Sabrina Carpenter pun perlu dihargai, bahkan dilihat sebagai bentuk emansipasi seksual yang wajar dan perlu dinormalisasi.

    Namun, di balik bijak dan ademnya pendekatan ini, choice feminism punya celah yang jadi poin penting dalam berbagai kajian akademik. Meagan Tyler dalam tulisannya untuk The Conversation membedah beberapa celah yang dimaksud. Menurutnya, choice feminism mereduksi perjuangan yang sistemik ke dalam pilihan-pilihan personal. Dengan mempercayai choice feminism, kita mengabaikan bagaimana sistem bekerja sebagai kesatuan dan bisa memengaruhi keputusan perempuan secara langsung maupun tidak. Faktanya, tidak semua perempuan punya pilihan untuk jadi ibu rumah tangga karena keterbatasan finansial.

    Choice feminism mereduksi itu sebagai pilihan, melupakan fakta bahwa tidak semua orang punya keleluasaan yang sama untuk memilih. Keyakinan itu juga mengabaikan fakta bahwa selisih gaji perempuan dan laki-laki itu nyata. Bukan hanya karena alasan kapasitas profesional, tetapi juga karena adanya faktor-faktor seperti beban pengasuhan dan pekerjaan rumah yang dilimpahkan kepada perempuan sehingga bisa menghambat peluang perempuan untuk memaksimalkan potensi mereka di pekerjaan.

    Ini juga berlaku dalam industri hiburan. Ketika kita melihatnya dengan kacamata choice feminism, kita akan melupakan siapa saja yang punya kuasa dalam membuat keputusan di balik layar seperti produser, petinggi label rekaman, penulis lagu, komposer, dan investor. Bila kita perhatikan, pria masih menguasai posisi strategis dalam industri tersebut. Perempuan memang mulai menjadi pertimbangan target pasar musik pop, terbukti dengan dominasi perempuan dalam fanbase Sabrina Carpenter, Taylor Swift, Zara Larsson, dan grup KPop. Namun, dalam sektor hiburan lainnya, seperti film dan video game, konsumen pria masih dominan dan kerap jadi penentu arah produksi.

  3. 3. Kembalinya male gaze ke ranah mainstream?

    KATSEYE
    KATSEYE (instagram.com/katseyeworld)

    Madeline Holcombe dari CNN menulis sebuah artikel yang menarik pada tahun 2025. Isinya tentang kembalinya male gaze ke ranah arus utama. Ia mengambil contoh Sidney Sweeney yang punya daya pikat luar biasa, terutama di kalangan pria. Dengan potensinya itu, Sweeney direkrut untuk berbagai proyek besar, mulai dari serial televisi sampai iklan jenama besar. Namun, ada pola yang mengganggu sebagian orang soal kemunculan sang aktris, yakni absennya agensi dalam sosok Sweeney. Ia tidak seprogresif yang orang harapkan dan cenderung menikmati status quo. Namun, mengkritiknya bisa dianggap sebagai serangan terhadap choice feminism.

    Perlahan, tren-tren baru muncul dan memecah gerakan feminis. Tren tradwives (merujuk pada perempuan yang mengadopsi peran gender tradisional) dan thinspiration (percaya bahwa bertubuh kurus adalah standar kecantikan) adalah beberapa yang dimaksud. Tren ini dianggap mengganggu dan bertolak belakang dengan apa yang sudah diperjuangkan feminis selama 1 dekade ke belakang, seperti body positivity, kesetaraan hak di tempat kerja, dan lain sebagainya. Namun, mengkritiknya juga akan dianggap sebagai serangan terhadap pilihan sadar perempuan. Padahal, dua tren tadi sejalan dengan ide-ide perempuan sempurna berdasar fantasi mayoritas pria. Yakni yang selama ini direpresentasikan dalam berbagai produk hiburan dan dikenal dengan istilah male gaze.

    Pertanyaannya, apakah citra baru KATSEYE dan beberapa figur publik perempuan masa kini murni pilihan mereka? Jika bukan, rasanya kita perlu merenungkan dan mendiskusikannya lebih lanjut. Apa pendapatmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More