Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Saat Ajakan untuk Mindful Justru Bikin Orang Makin Marah

6 min read
Saat Ajakan untuk Mindful Justru Bikin Orang Makin Marah
ilustrasi seseorang duduk sendirian membaca rentetan berita buruk (unsplash.com/Lumière Rezaie)
  • Ajakan untuk tenang atau mindful bisa ditolak mentah-mentah ketika terdengar seperti upaya mengatur emosi atau membungkam kemarahan.

  • Krisis yang berlangsung terlalu lama bisa menguras kemampuan psikologis seseorang untuk menerima pesan perlindungan.

  • Mindfulness bukan berarti menekan kemarahan, melainkan menciptakan jeda antara emosi dan tindakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Artikel ini ditulis oleh Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, dokter peneliti di Health Collaborative Center (HCC), dan Inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa (Kaukus Keswa)

Kalimat seperti “berhenti sejenak dan tarik napas” biasanya dimaksudkan sebagai ajakan untuk mengambil jeda. Namun, ketika masyarakat sedang menghadapi berita bencana, kerusakan lingkungan, tekanan ekonomi, dan kebijakan publik yang mengecewakan, kalimat tersebut dapat diterima publik secara berbeda.

Alih-alih terdengar menenangkan, ajakan untuk tenang bisa terasa seperti permintaan agar seseorang berhenti marah, tidak terlalu banyak bertanya ataupun mengeluh, atau melupakan masalah yang sedang terjadi.

Respons kemarahan publik terhadap ajakan Maudy Ayunda untuk tenang bersama tidak serta-merta berarti masyarakat menolak mindfulness atau ketenangan. Yang ditolak bisa jadi adalah kesan bahwa emosi mereka sedang diatur sebelum penderitaan yang melatarbelakanginya diakui.

  1. 1. Ajakan untuk tenang bisa terdengar seperti perintah

    Dalam psikologi sosial, kondisi ketika seseorang menolak arahan karena merasa kebebasannya sedang dibatasi dikenal sebagai psychological reactance, atau semacam reaksi penolakan ketika seseorang merasa pikiran, emosi, dan tindakannya sedang dikontrol oleh pihak lain yang tidak berada pada ground yang sama.

    Seseorang dapat mengalami reaktans (reaksi negatif terhadap ancaman pada kebebasan personal) ketika merasa pihak lain sedang menentukan apa yang boleh dipikirkan, dirasakan, atau dilakukan. Makin terdengar seperti perintah, makin besar kemungkinan pesan tersebut memicu penolakan, terutama jika penerima merasa pengirim pesan tidak memahami situasinya.

    Ucapan seperti “jangan terlalu memikirkan berita buruk”, “tenang saja”, atau “fokus pada hal yang bisa dikendalikan” maksudnya mungkin membantu. Namun, bagi orang yang sedang menyaksikan ketidakadilan atau mengalami tekanan secara langsung, kalimat itu bisa terdengar seperti penghapusan pengalaman.

    Mungkin masalahnya tidak selalu pada isi pesannya, melainkan pada urutannya. Ajakan untuk mengatur emosi yang datang sebelum pengakuan terhadap masalah dapat menimbulkan kesan bahwa seseorang diminta tenang agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain.

    Karena itu, seseorang bisa menolak cara penyampaian mindfulness tanpa benar-benar menolak manfaat jeda, kesadaran diri, atau pengaturan emosi.

  2. 2. Kelelahan psikologis bisa membuat orang sulit menerima nasihat atau bantuan

    Kelelahan psikologis tidak selalu muncul sebagai tangisan atau kepanikan. Pada sebagian orang, yang bisa dirasakan justru rasa jenuh, sinis, mudah tersinggung, sulit percaya, atau keengganan untuk menerima nasihat apa pun.

    Misalnya, selama pandemi COVID-19, masker, pembatasan mobilitas, dan anjuran kesehatan pada awalnya dipahami sebagai perlindungan. Namun, ketika krisis berlangsung lama, pesan yang sama bisa mulai terasa sebagai tekanan ekstra.

    Penelitian terhadap 34.582 warga Denmark dan Jerman mengembangkan skala untuk mengukur pandemic fatigue. Studi tersebut menemukan bahwa kelelahan pandemi berkaitan dengan menurunnya kepatuhan terhadap sejumlah perilaku perlindungan kesehatan, seperti memakai masker, menjaga jarak, menjaga kebersihan, dan mencari informasi. Hubungan ini tidak berarti kelelahan secara tunggal menyebabkan seseorang mengabaikan anjuran, tetapi menunjukkan bahwa kapasitas psikologis ikut memengaruhi cara manusia merespons pesan kesehatan.

    Pola serupa terlihat dalam komunikasi perubahan iklim. Studi tahun 2026 terhadap 390 orang menemukan bahwa kelelahan terhadap pesan-pesan perubahan iklim berkaitan dengan menurunnya niat melakukan tindakan berkelanjutan dan dukungan terhadap kebijakan lingkungan. Salah satu jalurnya adalah reaktans, yaitu munculnya dorongan untuk menolak pesan yang dianggap terlalu menekan.

    Artinya, penolakan terhadap pesan perlindungan tidak selalu lahir dari ketidakpedulian. Ada kalanya seseorang terlalu lama berada dalam kondisi siaga sehingga tidak lagi punya cukup tenaga untuk menerima nasihat, bahkan ketika nasihat tersebut sebetulnya bermanfaat.

  3. 3. Kemarahan bisa berpindah ke sasaran yang paling dekat

    Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH.
    Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH. (Dok. Istimewa)

    Ketika sumber masalah terasa terlalu besar, jauh, atau sulit dijangkau, kemarahan dapat mencari sasaran yang lebih dekat. Dalam psikologi, ini disebut displaced aggression atau agresi yang dialihkan.

    Sebuah metaanalisis terhadap penelitian eksperimental menemukan bahwa agresi yang semula dipicu oleh satu sumber dapat dialihkan kepada target lain. Target tersebut tidak selalu merupakan penyebab utama masalah, tetapi bisa menjadi sosok yang paling terlihat, paling mudah dijangkau, atau dianggap lebih aman untuk diserang.

    Itu bisa menjelaskan mengapa dokter menjadi sasaran kemarahan keluarga pasien ketika rumah sakit penuh dan antrean panjang. Dokter mungkin tidak membuat kebijakan yang menyebabkan keterbatasan ruang rawat, tetapi ia adalah wajah sistem yang terlihat di depan mata.

    Hal serupa dapat terjadi pada ilmuwan, aktivis, tenaga kesehatan, selebritas, atau figur publik yang mencoba menjelaskan persoalan rumit. Mereka bisa dianggap mewakili sistem yang mengecewakan masyarakat.

    Ada metafora “la guillotine psychologique” untuk menggambarkan situasi ketika kemarahan memenggal sosok-sosok yang sebenarnya masih berusaha membawa penjelasan atau pertolongan.

    Metafora itu menggambarkan risiko yang lebih luas. Ketika orang-orang yang berusaha menjelaskan memilih diam karena takut diserang, ruang dialog dapat menghilang. Kekosongan tersebut kemudian berpotensi diisi oleh pihak yang mengeksploitasi ketakutan dan kemarahan.

    Namun, kritik terhadap figur publik tidak selalu salah. Kritik bisa tetap beralasan. Konsep ini hanya membantu melihat bahwa intensitas kemarahan kadang dipengaruhi oleh akumulasi frustrasi yang lebih besar daripada peristiwa pemicunya.

  4. 4. Mindfulness bukan berarti harus selalu tenang

    Mindfulness bukan berarti mengosongkan pikiran, berpura-pura baik-baik saja, atau menghilangkan kemarahan. Sederhananya, mindfulness adalah kemampuan untuk menyadari pikiran, emosi, dan sensasi tubuh saat ini tanpa langsung bereaksi.

    Jeda tersebut dapat membantu seseorang mengenali, “Aku sedang marah,” sebelum kemarahan itu berubah menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang lain. Dengan begitu, mindfulness tidak menghilangkan emosi, tetapi bisa menciptakan sedikit jarak antara emosi dan respons.

    Mindfulness memang bukan solusi untuk semua persoalan. Metaanalisis terhadap 72 penelitian dengan 7.378 peserta menemukan bahwa intervensi berbasis mindfulness memperbaiki pemrosesan emosi dibanding kelompok tanpa intervensi. Namun, manfaat tersebut tidak terbukti lebih unggul dibandingkan intervensi aktif lainnya.

    Temuan tersebut menempatkan mindfulness secara proporsional. Mindfulness bukan pengganti perubahan kebijakan, bantuan sosial, penanganan bencana, atau pertanggungjawaban pihak yang menyebabkan masalah, pun tidak seharusnya digunakan untuk meminta masyarakat menerima keadaan tanpa protes.

    Mindfulness dapat membantu seseorang tetap memiliki kendali atas tindakannya, sementara kemarahan tetap diakui sebagai respons terhadap realitas yang dianggap menyakitkan, mengecewakan, atau tidak adil.

    Karena itu, ajakan yang lebih dapat diterima mungkin bukan sekadar “tenanglah”, melainkan pengakuan bahwa kemarahan valid dan masuk akal, diikuti tawaran untuk mengambil jeda jika seseorang memang memiliki tenaga untuk melakukannya.

    Dalam konteks ini, membenci mindfulness belum tentu berarti menolak kesehatan jiwa. Bisa jadi, penolakan tersebut merupakan tanda bahwa banyak orang sudah terlalu lelah untuk menerima pertolongan yang datang tanpa terlebih dahulu merasa didengar.

    Referensi

    Hoge, Elizabeth A., Rebecca L. Acabchuk, Hannah Kimmel, Ethan Moitra, Willoughby B. Britton, Travis Dumais, Rebecca A. Ferrer, et al. “Emotion-Related Constructs Engaged by Mindfulness-Based Interventions: A Systematic Review and Meta-Analysis.” Mindfulness 12, no. 5 (2021): 1041–1062. https://doi.org/10.1007/s12671-020-01561-w.

    Lilleholt, Lau, Ingo Zettler, Cornelia Betsch, and Robert Böhm. “Development and Validation of the Pandemic Fatigue Scale.” Nature Communications 14 (2023): 6352. https://doi.org/10.1038/s41467-023-42063-2.

    Marcus-Newhall, Amy, William C. Pedersen, Mike Carlson, and Norman Miller. “Displaced Aggression Is Alive and Well: A Meta-Analytic Review.” Journal of Personality and Social Psychology 78, no. 4 (2000): 670–689. https://doi.org/10.1037/0022-3514.78.4.670.

    Steindl, Christina, Eva Jonas, Sandra Sittenthaler, Eva Traut-Mattausch, and Jeff Greenberg. “Understanding Psychological Reactance: New Developments and Findings.” Zeitschrift für Psychologie 223, no. 4 (2015): 205–214. https://doi.org/10.1027/2151-2604/a000222.

    de Graaf, Janna, Michèlle Bal, John de Wit, and Marijn Stok. “Tired of Climate Change Communication: Why Message Fatigue Predicts Lower Sustainability Intentions and Policy Acceptance after Climate Change Threat Messages.” Applied Environmental Education and Communication 25, no. 1 (2026): 125–140. https://doi.org/10.1080/1533015X.2026.2628164.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More