Tidak ada orangtua yang membesarkan anaknya dengan harapan kelak ia menjadi sosok yang dibenci banyak orang. Sejak kecil, anak diajari menghormati orang lain, membedakan yang benar dan salah, serta memahami bahwa hidup bukan cuma soal memenuhi keinginannya sendiri. Ada doa yang dipanjatkan diam-diam, biaya pendidikan yang diusahakan susah payah, dan harapan agar suatu hari anak itu tumbuh menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Namun, bagaimana jika anak yang dahulu digendong, disekolahkan, dan didoakan setiap malam justru tumbuh menjadi seseorang yang tamak, menyalahgunakan kekuasaan, atau tega merugikan banyak orang demi kepentingannya sendiri?
Barangkali, inilah salah satu kenyataan paling menyakitkan dalam menjadi orangtua yakni kita bisa mengusahakan banyak hal untuk anak, tetapi tidak pernah benar-benar memiliki kendali atas dirinya yang akan menjadi manusia seperti apa kelak. Anak tidak memilih dilahirkan dari orangtua yang mana, begitu pula orangtua tidak bisa memastikan akan menjadi siapa anak yang mereka besarkan. Kita mungkin mengenal kebiasaan mereka sejak kecil, tetapi tidak selalu bisa memahami keputusan yang mereka ambil ketika dewasa. Anak yang dahulu diajari meminta maaf pun bisa tumbuh menjadi orang yang tidak pernah merasa bersalah.
