Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Melahirkan Monster: Salah Didik atau Salah Pilih Jalan Hidup?
ilustrasi melahirkan (pexels.com/Hannah Barata)
  • Artikel menyoroti bahwa pendidikan orangtua penting, tetapi lingkungan, pengalaman, dan pilihan pribadi turut menentukan karakter anak saat dewasa.

  • Orangtua perlu mengevaluasi pola asuh dan tidak membenarkan kesalahan, sementara anak dewasa tetap bertanggung jawab atas tindakan yang merugikan orang lain.

  • Pencapaian, jabatan, atau kekayaan tidak menjamin karakter baik; kasih sayang seharusnya mendorong anak mengakui kesalahan dan menerima konsekuensi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tidak ada orangtua yang membesarkan anaknya dengan harapan kelak ia menjadi sosok yang dibenci banyak orang. Sejak kecil, anak diajari menghormati orang lain, membedakan yang benar dan salah, serta memahami bahwa hidup bukan cuma soal memenuhi keinginannya sendiri. Ada doa yang dipanjatkan diam-diam, biaya pendidikan yang diusahakan susah payah, dan harapan agar suatu hari anak itu tumbuh menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Namun, bagaimana jika anak yang dahulu digendong, disekolahkan, dan didoakan setiap malam justru tumbuh menjadi seseorang yang tamak, menyalahgunakan kekuasaan, atau tega merugikan banyak orang demi kepentingannya sendiri?

Barangkali, inilah salah satu kenyataan paling menyakitkan dalam menjadi orangtua yakni kita bisa mengusahakan banyak hal untuk anak, tetapi tidak pernah benar-benar memiliki kendali atas dirinya yang akan menjadi manusia seperti apa kelak. Anak tidak memilih dilahirkan dari orangtua yang mana, begitu pula orangtua tidak bisa memastikan akan menjadi siapa anak yang mereka besarkan. Kita mungkin mengenal kebiasaan mereka sejak kecil, tetapi tidak selalu bisa memahami keputusan yang mereka ambil ketika dewasa. Anak yang dahulu diajari meminta maaf pun bisa tumbuh menjadi orang yang tidak pernah merasa bersalah.

1. Ketika anak tumbuh menjadi sosok yang tidak pernah kita harapkan

ilustrasi bullying anak (pexels.com/Mikhail Nilov)

Membesarkan anak bukan sekadar memastikan mereka mendapat makanan yang cukup dan pendidikan yang layak. Orangtua juga berusaha menanamkan kejujuran, empati, serta kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Namun, nilai-nilai yang diajarkan sejak kecil tidak otomatis melekat selamanya. Ketika dewasa, seseorang tetap akan berhadapan dengan pilihan yang memperlihatkan prinsip apa yang benar-benar ia pegang.

Sebagian orang tetap menjaga integritas meskipun memiliki kesempatan untuk berbuat curang. Sebagian lainnya justru merasa uang, jabatan, atau kekuasaan membuat mereka berhak melakukan apa saja. Mereka bisa memanfaatkan kepercayaan, menyakiti orang lain, bahkan tidak merasa bersalah selama kepentingannya terpenuhi. Bagi orangtua, menyaksikan perubahan semacam ini tentu menyakitkan, terlebih jika anak yang dahulu dibanggakan kini menjadi sumber penderitaan bagi orang lain.

Meski begitu, anak yang tumbuh dengan perilaku buruk tidak otomatis membuktikan bahwa orangtuanya gagal mendidik. Lingkungan, pengalaman, dan keputusan pribadi juga ikut membentuk seseorang. Orangtua bisa berusaha memberikan bekal terbaik, tetapi anaknya bisa berubah menjadi sosok yang sama sekali tak mereka duga.

2. Apakah orangtua ikut bertanggung jawab atas perbuatan anaknya?

ilustrasi orangtua (pexels.com/Deedee Geli)

Pertanyaan tentang pola asuh orangtua wajar langsung muncul ketika melihat seseorang melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Apakah ia terlalu dimanjakan? Apakah kesalahannya selalu dimaafkan sejak kecil? Anak yang terbiasa melihat kebohongan dianggap wajar atau selalu dibela ketika berbuat salah, bisa saja tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak perlu menanggung konsekuensi.

Namun, pola asuh bukan satu-satunya alasan. Dua anak yang dibesarkan dalam rumah yang sama pun bisa tumbuh dengan prinsip berbeda. Ada yang mengulangi perilaku buruk yang dilihatnya, sementara yang lain justru berusaha memutus pola tersebut. Karena itu, menyalahkan orangtua sepenuhnya sama tidak adilnya dengan menganggap pengasuhan tidak berpengaruh sama sekali.

Sebenarnya yang perlu dibedakan adalah tanggung jawab mendidik dan tanggung jawab atas perbuatan. Orangtua patut mengevaluasi cara mereka membesarkan anak, terutama jika kesalahan terus dibiarkan atau justru dibenarkan. Namun, orang dewasa pun tidak bisa selamanya menggunakan masa kecil sebagai alasan untuk menyakiti orang lain. Pengalaman masa lalu dapat menjelaskan perilaku seseorang, tetapi tidak otomatis membenarkannya.

3. Ketika kasih sayang berubah menjadi pembelaan tanpa batas

ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/Timur Weber)

Menyaksikan anak melakukan kesalahan bukan perkara mudah bagi orangtua. Ada rasa sayang, kekhawatiran terhadap masa depannya, dan mungkin rasa malu ketika perbuatannya menjadi pembicaraan banyak orang. Namun, keinginan melindungi anak bisa berubah menjadi masalah ketika orangtua lebih sibuk membela daripada mengakui bahwa ada orang lain yang telah dirugikan.

Misalnya saja anak mereka terbukti memperlakukan bawahannya dengan buruk. Alih-alih meminta anaknya bertanggung jawab, orangtua justru berdalih bahwa ia sedang tertekan oleh pekerjaan. Ketika anaknya menipu seseorang, mereka menyebutnya kesalahpahaman. Bagi korban, pembelaan semacam ini bisa terasa seperti penghinaan kedua karena penderitaan mereka justru dikecilkan oleh orang-orang yang tidak mengalami langsung akibatnya.

Menyayangi anak bukan berarti harus menganggap semua tindakannya benar. Orangtua bisa tetap mencintai anaknya sekaligus meminta ia bertanggung jawab, memperbaiki kerusakan, dan menerima konsekuensi. Sebab, melindungi anak dari setiap akibat perbuatannya, bukan selalu bentuk kasih sayang. Terkadang, itu justru membuatnya merasa berhak terus melakukan kesalahan.

4. Belajar dari Gandari dan Duryudana: ketika cinta ibu tak cukup

Duryudana (commons.wikimedia.org/Tropenmuseum)

Dalam kisah Mahabharata, Gandari merupakan ibu Duryudana, seorang tokoh yang dikenal karena ambisinya terhadap kekuasaan dan permusuhannya dengan Pandawa. Gandari berulang kali menasihati putranya agar menghentikan perseteruan dan menghindari perang. Namun, Duryudana tetap berpegang pada ambisinya hingga konflik besar membawa kehancuran bagi keluarga Kurawa.

Bayangkan betapa sulitnya posisi seorang ibu yang melihat anaknya mengambil keputusan yang membahayakan banyak orang. Gandari menyayangi putranya, tetapi nasihatnya tidak mampu mengubah pilihan yang telah ditetapkan Duryudana. Kisah ini memang berasal dari epos, bukan gambaran langsung kehidupan keluarga masa kini. Namun, dilema di dalamnya terasa sangat nyata mengenai bagaimana jika orangtua sudah berusaha mengingatkan, tetapi anaknya tetap memilih jalan yang salah?

Dari kisah tersebut, kita bisa melihat bahwa cinta orangtua tidak selalu cukup untuk menghentikan kesalahan anak. Namun, ada perbedaan antara orangtua yang sudah berusaha menasihati dan mereka yang sengaja membiarkan atau menutupi perbuatan buruk anaknya. Orangtua tidak bisa mengendalikan semua keputusan anak yang tumbuh dewasa, tetapi mereka tetap bisa memilih untuk tidak ikut membenarkan kesalahannya.

5. Anak yang berhasil, belum tentu tumbuh menjadi manusia yang baik

ilustrasi kriminal (pexels.com/Kindel Media)

Keberhasilan anak sering menjadi kebanggaan keluarga. Pekerjaan bergengsi, penghasilan besar, atau jabatan tinggi dianggap sebagai tanda bahwa pengorbanan orangtua selama ini tidak sia-sia. Namun, pencapaian tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang juga memiliki karakter yang baik. Seseorang bisa berpendidikan tinggi, tetapi memanipulasi orang lain; memiliki jabatan terhormat, tetapi memperlakukan bawahannya dengan sewenang-wenang.

Persoalannya menjadi lebih rumit ketika keberhasilan itu ikut mengangkat kehidupan keluarganya. Orangtua mungkin menikmati kenyamanan yang diberikan anak, sehingga sulit menerima kenyataan bahwa pencapaian tersebut diperoleh dengan cara yang merugikan orang lain. Namun, rumah yang bagus, uang yang berlimpah, dan nama keluarga yang dikenal bukan alasan untuk mengabaikan bagaimana semua itu didapatkan.

Pada akhirnya, keberhasilan seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang berhasil ia raih, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain. Orangtua boleh bangga atas pencapaian anaknya, tetapi kebanggaan itu tidak harus membutakan mereka terhadap kesalahan yang dilakukan. Sebab, manusia yang berhasil belum tentu menjadi manusia yang baik.

Mungkin, inilah ironi paling pahit dari menjadi orangtua yaitu membesarkan anak dengan cinta selama bertahun-tahun, hanya untuk menyaksikannya tumbuh menjadi manusia yang melukai orang lain. Namun, pola asuh yang buruk bukan pembenaran untuk berbuat jahat, sebagaimana pengorbanan orangtua bukan jaminan seorang anak akan tumbuh menjadi manusia yang baik. Sebab, monster tidak selalu lahir dari orangtua yang gagal mendidik; terkadang, ia tumbuh dari seseorang yang tahu mana yang benar, tetapi berkali-kali memilih untuk menjadi jahat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

Kepercayaan Harus Dijaga!16 Oct 2026, 20:57 WIB