[OPINI] Sutradara Pria Sering Gagal Bikin Film Feminis
![[OPINI] Sutradara Pria Sering Gagal Bikin Film Feminis](https://image.idntimes.com/post/20260921/mv5bmtg2ntq1ndkwnf5bml5banbnxkftztgwota3ndyymdeat_4d830c3d-43db-4b5f-b2e0-a12ff308b8a1.jpg)
- Film feminis garapan sutradara pria kerap dikritik karena male gaze, termasuk dalam Poor Things dan Anora, yang dinilai memosisikan pengalaman serta tubuh perempuan melalui fantasi pria heteroseksual.
- Artikel menilai protagonis perempuan saja tidak cukup; film perlu menggambarkan pengalaman perempuan secara kompleks dan akurat, termasuk mikroagresi, beban reproduksi, domestik, serta kerja emosional.
- Sutradara pria tidak perlu berhenti membuat film feminis, tetapi dianjurkan mendengar kritik dan melibatkan perempuan dalam kru atau penulisan, sambil mendorong akses pendanaan lebih setara.
Hollywood dan industri film secara umum sedang rajin bikin film dengan trope feminis. Salah satu formula paling kentara adalah penyertaan protagonis utama perempuan dan elemen pemberdayaan. Bahkan sutradara pria pun melihat genre feminisme sebagai sesuatu yang menjanjikan. Berbondong-bondong film feminis buatan sutradara pria dirilis, bahkan dengan biaya promosi yang tak main-main.
Sebut saja Poor Things (Yorgos Lanthimos), Anora (Sean Baker), dan Supergirl (Craig Gillespie). Meski beberapa disebut sukses karena menjadi favorit di berbagai ajang penghargaan, mereka tak lepas dari kritik pedas karena dianggap masih menggunakan prinsip-prinsip male gaze di dalamnya. Kehadiran mereka yang memantik diskusi juga bikin orang mulai bersuara tentang film-film serupa rilisan lawas yang ternyata kalau ditonton lagi jadi problematik.
Benarkah sutradara pria tak akan bisa bikin film feminis? Mari kita kupas bersama lewat beberapa studi kasus berikut.
1. Susahnya menghilangkan male gaze dari film berlabel feminis buatan pria

Poor Things (dok. Searchlight Pictures/Poor Things) Masalah pertama dari film-film feminis buatan sutradara pria adalah keberadaan male gaze, yakni gambaran tokoh perempuan yang berbasis fantasi atau persepsi pria heteroseksual. Film feminis bukan hanya soal keberadaan protagonis perempuan, tetapi juga cara pengalaman dan karakter mereka dipotret. Kerap kali, sutradara pria gagal melakukannya dengan akurat.
Dalam Poor Things (2023), misalnya, feminisme dipotret lewat liberasi seksual si protagonis perempuan, Bella. Sebenarnya emansipasi dan otonomi seksual memang bagian dari feminisme, tetapi yang jadi masalah adalah cara Lanthimos memotret itu lewat lensa kameranya. Liberasi Bella kebanyakan hanya ditunjukkan lewat adegan eksplisit berulang kali dengan angle kamera yang tampak jelas memakai formula male gaze.
Hal serupa bisa kamu amati dalam Anora (2024) yang juga dikritik karena adegan seks yang seolah sengaja disertakan untuk memikat penonton pria heteroseksual. Apalagi, pada akhirnya Anora juga diselamatkan oleh karakter pria lain, yang artinya film itu masih menggunakan pakem-pakem standar patriarki.
Ini bukan fenomena baru. Kita bisa mengamatinya lewat film-film keluaran lama seperti Dressed to Kill (Brian de Palma), Blue is the Warmest Colour (Abdellatif Kechiche), dan Kill Bill (Quentin Tarantino). Ketiganya memecah penonton, tetapi untuk peminat studi feminisme, mereka jelas gagal menghadirkan kritik murni terhadap patriarki. Justru sebaliknya, mereka melanggengkan arketipe male gaze dengan beragam cara.
Dressed to Kill (1980) menggambarkan perempuan lewat fantasi pria heteroseksual yang destruktif dan membahayakan. Blue is the Warmest Colour (2013) menyertakan adegan intim pasangan lesbian dengan durasi tak masuk akal. Bahkan dua aktrisnya, Adèle Exarchopoulos dan Léa Seydoux, mengaku ogah bekerja sama lagi dengan si sutradara karena merasa dieksploitasi.
Lantas, apakah male gaze bisa dihindari dengan sekadar menyisihkan adegan eksplisit? Jawabannya tidak semudah itu. Kill Bill (2003), misalnya, dikritik karena plotnya masih male-centered dan penggambaran Beatrix masih mengamini fantasi pria, yakni perempuan kuat yang berpenampilan menarik bak bidadari. Di sisi lain, Working Girls (1986) buatan Lizzie Borden, Fat Girl (2001) karya Catherine Breillat, atau The Substance (2024) garapan Carolie Fargeat yang menyertakan adegan telanjang (nudity) tidak dianggap sebagai eksploitasi. Mengapa? Ini tentang konteks dan teknik peletakan kamera. Kita tidak akan melihat adegan itu seperti sebuah kesengajaan untuk memicu hawa nafsu. Sebaliknya, adegan tersebut cukup membuat penonton tak nyaman.
2. Pengalaman perempuan yang ditampilkan sutradara pria tidak selalu akurat

One Sings, the Other Doesn't (dok. Criterion/One Sings, the Other Doesn't) Dalam sejarahnya, gak semua film feminis buatan laki-laki gagal, kok. Black Girl (1966) karya Ousmane Sembene dan dua film Eric Rohmer, The Four Adventures of Reinette and Mirabelle serta The Green Ray, disebut sebagai beberapa di antaranya yang sukses. Ini karena penggambaran pengalaman perempuan mereka cukup akurat dan berimbang. Karakter perempuannya digambarkan sebagai seseorang yang kompleks, tidak satu dimensi. Pengalaman mereka menghadapi mikroagresi berhasil disentil dan ditunjukkan. Elemen inilah yang sering terlewat dalam film-film feminis buatan sutradara pria.
Tak heran, sutradara pria tak akan bisa membuat film-film feminis seperti Mustang (Deniz Gamze Ergüven), Fat Girl (Catherine Breillat), Good One (India Donaldson), Jeanne Dielmann, 23 quai du Commerce, 1080 Bruxelles (Chantal Akerman), atau One Sings, The Other Doesn’t (Agnès Varda). Film-film di atas berhasil mengekspos pengalaman yang memang spesifik hanya akan bisa dirasakan perempuan, seperti beban reproduksi, beban domestik, sampai kewajiban tak tertulis untuk mengambil peran suporter emosional alias terapis untuk pria di sekitar mereka.
3. Haruskah sutradara pria berhenti membuat film berlabel feminis?

The Green Ray (dok. Janus Films/The Green Ray) Pertanyaannya, perlukah sutradara pria berhenti bikin film feminis? Ini bakal jadi kontraproduktif terhadap gerakan feminisme yang butuh kerja sama semua gender. Apalagi, dalam praktiknya, sutradara pria lebih mudah mendapatkan pendanaan dibandingkan dengan sutradara perempuan. Setidaknya menurut statistik di Eropa dan Amerika Serikat. Solusi paling ideal memang memberikan akses pendanaan yang lebih berimbang bagi sutradara dari semua gender. Namun, ini butuh revolusi sistemik yang gak sebentar.
Mungkin solusi jangka pendek terbaik adalah mendengarkan kritik dan menyertakan masukan dari perempuan saat akan membuat film tentang perempuan. Ini pernah dilakukan oleh Eric Rohmer dan Park Chan-wook. Dalam The Green Ray (1986) dan The Four Adventures of Reinette and Mirabelle (1987), Rohmer merekrut kru perempuan. Termasuk di dalamnya sinematografer Sophie Maintigneux. Cara Maintigneux memosisikan kamera memang sebuah kontribusi teknis, tetapi berhasil bikin film-film tadi gak kehilangan fokusnya sebagai sinema yang pakai perspektif perempuan. Tak ada kesan voyeuristik yang kerap terjadi pada film berlakon perempuan buatan laki-laki.
Belajar dari masukan penonton soal film Oldboy (2003) yang dianggap misoginis, Park Chan-wook akhirnya bekerja sama dengan penulis naskah perempuan Chung Seo-kyung untuk film-film berikutnya. Yakni, Lady Vengeance (2005), Thirst (2013), The Handmaiden (2016), dan Decision to Leave (2022). Meski tidak semua filmnya berlabel feminis, setidaknya sentuhan Chung diharapkan bisa memberikan penggambaran karakter perempuan yang berimbang dan lebih akurat.
Apa pendapatmu? Apakah kamu punya solusi alternatif untuk kasus ini? Atau kamu justru menganggap tak ada yang salah dari film-film berlabel feminis buatan sutradara pria?
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)

















![[OPINI] Lagu Baru KATSEYE dan Kembalinya Male Gaze ke Ranah Arus Utama](https://image.idntimes.com/post/20260818/snapinsta_4e7bd0dd-1e56-40b2-88d1-7ce6112c04d9.jpg)



