Mindfulness bukan berarti mengosongkan pikiran, berpura-pura baik-baik saja, atau menghilangkan kemarahan. Sederhananya, mindfulness adalah kemampuan untuk menyadari pikiran, emosi, dan sensasi tubuh saat ini tanpa langsung bereaksi.
Jeda tersebut dapat membantu seseorang mengenali, “Aku sedang marah,” sebelum kemarahan itu berubah menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang lain. Dengan begitu, mindfulness tidak menghilangkan emosi, tetapi bisa menciptakan sedikit jarak antara emosi dan respons.
Mindfulness memang bukan solusi untuk semua persoalan. Metaanalisis terhadap 72 penelitian dengan 7.378 peserta menemukan bahwa intervensi berbasis mindfulness memperbaiki pemrosesan emosi dibanding kelompok tanpa intervensi. Namun, manfaat tersebut tidak terbukti lebih unggul dibandingkan intervensi aktif lainnya.
Temuan tersebut menempatkan mindfulness secara proporsional. Mindfulness bukan pengganti perubahan kebijakan, bantuan sosial, penanganan bencana, atau pertanggungjawaban pihak yang menyebabkan masalah, pun tidak seharusnya digunakan untuk meminta masyarakat menerima keadaan tanpa protes.
Mindfulness dapat membantu seseorang tetap memiliki kendali atas tindakannya, sementara kemarahan tetap diakui sebagai respons terhadap realitas yang dianggap menyakitkan, mengecewakan, atau tidak adil.
Karena itu, ajakan yang lebih dapat diterima mungkin bukan sekadar “tenanglah”, melainkan pengakuan bahwa kemarahan valid dan masuk akal, diikuti tawaran untuk mengambil jeda jika seseorang memang memiliki tenaga untuk melakukannya.
Dalam konteks ini, membenci mindfulness belum tentu berarti menolak kesehatan jiwa. Bisa jadi, penolakan tersebut merupakan tanda bahwa banyak orang sudah terlalu lelah untuk menerima pertolongan yang datang tanpa terlebih dahulu merasa didengar.
Referensi
Hoge, Elizabeth A., Rebecca L. Acabchuk, Hannah Kimmel, Ethan Moitra, Willoughby B. Britton, Travis Dumais, Rebecca A. Ferrer, et al. “Emotion-Related Constructs Engaged by Mindfulness-Based Interventions: A Systematic Review and Meta-Analysis.” Mindfulness 12, no. 5 (2021): 1041–1062. https://doi.org/10.1007/s12671-020-01561-w.
Lilleholt, Lau, Ingo Zettler, Cornelia Betsch, and Robert Böhm. “Development and Validation of the Pandemic Fatigue Scale.” Nature Communications 14 (2023): 6352. https://doi.org/10.1038/s41467-023-42063-2.
Marcus-Newhall, Amy, William C. Pedersen, Mike Carlson, and Norman Miller. “Displaced Aggression Is Alive and Well: A Meta-Analytic Review.” Journal of Personality and Social Psychology 78, no. 4 (2000): 670–689. https://doi.org/10.1037/0022-3514.78.4.670.
Steindl, Christina, Eva Jonas, Sandra Sittenthaler, Eva Traut-Mattausch, and Jeff Greenberg. “Understanding Psychological Reactance: New Developments and Findings.” Zeitschrift für Psychologie 223, no. 4 (2015): 205–214. https://doi.org/10.1027/2151-2604/a000222.
de Graaf, Janna, Michèlle Bal, John de Wit, and Marijn Stok. “Tired of Climate Change Communication: Why Message Fatigue Predicts Lower Sustainability Intentions and Policy Acceptance after Climate Change Threat Messages.” Applied Environmental Education and Communication 25, no. 1 (2026): 125–140. https://doi.org/10.1080/1533015X.2026.2628164.