Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Hewan yang Menggunakan Lemak Tubuh untuk Bertahan di Suhu Dingin
ilustrasi walrus (unsplash.com/NOAA)
  • Beruang kutub memanfaatkan lemak bawah kulit hingga puluhan sentimeter untuk menahan panas dan menjadi cadangan energi saat berburu sulit di musim dingin Arktik.
  • Anjing laut dan walrus mengandalkan blubber sebagai isolator di perairan Arktik; lapisan ini juga menyimpan energi, membantu daya apung anjing laut, serta stamina migrasi walrus.
  • Penguin emperor menggabungkan lemak tebal dan bulu rapat kedap air untuk mempertahankan kehangatan saat badai Antartika, mengerami telur, dan bertahan tanpa makan berbulan-bulan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kemampuan bertahan hidup di wilayah dengan iklim ekstrem tentu memerlukan kemampuan adaptasi yang menakjubkan dan hal ini ternyata dimiliki oleh berbagai jenis satwa liar di belahan Bumi utara dan selatan. Salah satu mekanisme pertahanan diri yang paling efektif dari beberapa hewan terhadap paparan udara dingin adalah pemanfaatan lapisan lemak tebal yang terdapat di bagian dalam jaringan tubuh mereka.

​Cadangan energi khusus ini ternyata tidak hanya memiliki fungsi sebagai isolator termal yang menahan panas tubuh, namun juga sebagai sumber nutrisi vital ketika pasokan makanan di alam liar sudah mulai terbatas. Memahami keunikan dari adaptasi fisiologis yang ada tentu busa memberikan wawasan yang lebih mendalam terkait betapa luar biasanya strategi bertahan hidup yang diterapkan oleh fauna kutub.

1. Beruang kutub

ilustrasi beruang kutub (unsplash.com/Hans-Jurgen Mager)

Beruang kutub ternyata kerap memanfaatkan lapisan lemak tebal yang ada di bawah kulitnya untuk mempertahankan suhu tubuh agar selalu stabil ketika menjelajahi dataran es yang sudah membeku. Lapisan insulator tebal tersebut mencapai ketebalan hingga puluhan sentimeter, sehingga membantu dalam mencegah pelepasan energi panas secara signifikan ke lingkungan sekitar.

​Bukan hanya memproteksi tubuh dari hembusan angin dingin yang ekstrem, simpanan nutrisi tersebut juga kerap dijadikan sebagai tumpuan hidup utama bagi mereka selama masa berburu yang terasa lebih sulit. Tanpa adanya akumulasi energi yang memadai, maka mamalia predator tersebut tidak akan bisa bertahan melintasi musim dingin Arktik yang cukup panjang.

​2. Anjing laut

ilustrasi anjing laut (unsplash.com/Pascal Mauerhofer)

Anjing laut termasuk hewan yang memiliki lapisan lemak khusus yang dikenal dengan sebutan blubber dan posisinya terletak di bagian bawah permukaan kulit halus mereka untuk bisa menangkal dinginnya air laut. Struktur jaringan lipid yang sangat padat ini memiliki peran sebagai benteng pertahanan termal utama pada saat mereka harus menyelam ke dalam lautan es yang sudah membeku.

​Keberadaan simpanan energi padat pada tubuh anjing laut ternyata memungkinkan mereka untuk berenang dengan bebas tanpa berpotensi kehilangan suhu inti tubuh secara drastis dalam jangka waktu lama. Fungsi ganda dari jaringan tersebut juga turut membantu menjaga daya apung tubuh anjing laut saat beraktivitas di dalam perairan kutub agar tetap aman.

​3. Walrus

ilustrasi walrus (pexels.com/Jonathan Cooper)

Walrus merupakan hewan yang mendiami kawasan perairan Arktik yang dikenal luar biasa dingin dengan mengandalkan ketebalan blubber yang bisa mencapai hingga belasan sentimeter di seluruh tubuhnya. Lapisan pelindung yang sangat massif ternyata bisa membantu walrus agar tetap merasa hangat walau harus berbaring di atas bongkahan es dalam kurun waktu yang cukup lama.

​Pasokan energi melimpah yang tersimpan dalam jaringan tubuh walrus ternyata bisa memberikan stamina tambahan untuk bisa bermigrasi jarak jauh setiap tahunnya. Keberadaan benteng alami ini merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup dan populasi walrus di tengah kondisi cuaca ekstrem yang tidak menentu.

​4. Penguin emperor

ilustrasi penguin (pexels.com/Pixabay)

Penguin emperor kerap melengkapi tubuh mereka dengan cadangan lemak dalam yang cukup tebal di bawah lapisan bulu halus yang sangat rapat. Kombinasi yang sangat efektif antara bulu kedap air dan jaringan penyimpan energi ini seolah cukup efektif untuk menjebak udara hangat secara optimal di dekat permukaan kulit dari penguin tersebut.

​Struktur pertahanan diri dari suhu dingin ini sangat bermanfaat ketika penguin harus bertahan hidup di tengah badai salju Antartika sambil terus mengerami telur-telur mereka tanpa harus terus menerus berpindah tempat. Ketahanan fisik luar biasa yang dimiliki penguin emperor juga ternuata didukung oleh metabolisme cadangan energi ini, sehingga membuat mereka mampu bertahan tanpa makan selama berbulan-bulan.

​Beragam adaptasi unik melalui pemanfaatan cadangan energi tubuh seolah bisa membuktikan kehebatan strategi bertahan hidup yang telah dirancang oleh alam secara alami. Ketahanan fisik fauna kutub dalam menghadapi berbagai cuaca ekstrem seolah menjadi bukti nyata terkait keajaiban mekanisme evolusi makhluk hidup yang ada di Bumi. Kemampuan fisiologis yang sangat baik bisa membantu hewan-hewn di atas agar tidak mudah kedinginan di suhu ekstrem.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article