Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Situs Kuno yang Konon Berbicara saat Wolf Moon, Mitos atau Astronomi?

ilustrasi situs kuno yang berhubungan dengan wolf moon
ilustrasi situs kuno yang berhubungan dengan wolf moon (commons.wikimedia.org/Niagara66)
Intinya sih...
  • Newark Earthworks, observatorium bulan paling presisi di dunia
  • Recumbent Stone Circle, batu-batu yang menunggu cahaya bulan
  • Harran, kota yang menyembah bulan sebagai takdir
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ketika wolf moon muncul sebagai purnama pertama tahun, ia sering dipahami sekadar sebagai fenomena astronomi. Bulan yang lebih besar, lebih terang, dan romantis untuk difoto. Namun, jauh sebelum teleskop, kamera, dan kalender modern ada, manusia purba sudah membaca bulan sebagai bahasa kosmik. Mulai dari penanda musim, waktu ritual, bahkan penentu nasib kolektif. Wolf moon atau purnama musim dingin di awal tahun menjadi momen sakral, karena ia hadir di masa alam paling sunyi, saat manusia bergantung penuh pada tanda-tanda langit untuk bertahan hidup. Di titik inilah arsitektur kuno mulai ‘berdialog’ dengan bulan.

Menariknya, tidak sedikit situs arkeologis dan bangunan purba di dunia yang ternyata disusun dengan ketelitian luar biasa untuk mengikuti ritme lunar, bukan hanya matahari. Meski istilah wolf moon sendiri berasal dari budaya Amerika Utara, esensinya ternyata memiliki gema kosmik lintas peradaban. Dari tanah Amerika pra-Kolumbus hingga batu-batu Neolitik Eropa. Jejak manusia purba menunjukkan satu hal, bulan bukan sekadar penerang malam, melainkan kompas waktu dan spiritualitas. Yuk, kita telusuri apa saja jejak peradaban tempo dulu pada bulan purnama di bulan Januari kali ini!

1. Newark Earthworks, observatorium bulan paling presisi di dunia kuno

ilustrasi newark earthworks
ilustrasi newark earthworks (commons.wikimedia.org/Niagara66)

Newark Earthworks adalah salah satu kompleks tanah buatan terbesar di dunia, dibangun oleh budaya Hopewell sekitar 100 SM—500 M. Yang membuatnya luar biasa bukan ukurannya, melainkan presisi geometrinya. Bagian oktagon Earthworks terbukti selaras secara astronomis dengan titik ekstrem pergerakan bulan dalam siklus 18,6 tahun, yang dikenal sebagai major lunar standstill. Ini berarti struktur tersebut berfungsi sebagai observatorium bulan, bukan sekadar situs ritual biasa.

Para arkeolog dan astronom menyebut ketepatan Newark Earthworks bahkan melampaui Stonehenge jika dilihat dari fungsinya sebagai pengamat siklus lunar. Beberapa purnama besar, termasuk yang secara simbolik sepadan dengan wolf moon, kemungkinan menjadi penanda ritual penting. Momen ketika komunitas berkumpul untuk memperbarui kalender sosial dan spiritual mereka. Di sini, bulan tidak dilihat sebagai benda langit pasif, melainkan aktor aktif dalam tatanan kehidupan.

Dalam konteks wolf moon, Newark Earthworks menunjukkan bahwa purnama awal tahun sejak ribuan tahun lalu telah diperlakukan sebagai momen kosmik krusial. Ia menandai transisi waktu, musim, dan siklus hidup. Sebuah pengingat bahwa sebelum manusia menamai bulan dengan kalender digital, tanah dan langit sudah lebih dulu ‘menulis’ waktunya sendiri.

2. Recumbent Stone Circle, batu-batu yang menunggu cahaya bulan

ilustrasi recumbent stone circle
ilustrasi recumbent stone circle (commons.wikimedia.org/Anne Burgess)

Berbeda dari Stonehenge yang terkenal karena matahari, Recumbent Stone Circle di Skotlandia justru diyakini berkaitan erat dengan bulan. Lingkaran batu ini memiliki satu batu besar yang diletakkan horizontal (recumbent) di sisi selatan, dengan dua batu tegak di sisinya. Penempatan ini bukan kebetulan. Sejumlah penelitian menunjukkan orientasinya sesuai dengan lintasan bulan saat purnama ekstrem, terutama di musim dingin.

Pada malam-malam tertentu, cahaya purnama akan ‘mengalir’ tepat di atas batu recumbent, menciptakan efek visual yang dramatis dan kemungkinan besar bersifat ritual. Masyarakat Neolitik Skotlandia diyakini menggunakan momen ini untuk upacara peralihan musim, perayaan kesuburan, atau ritus kolektif yang menghubungkan komunitas dengan kosmos. Dalam konteks ini, wolf moon sebagai purnama musim dingin memiliki makna simbolik yang kuat.

Recumbent Stone Circle mengajarkan kita bahwa arsitektur purba bukan sekadar monumen diam, melainkan instrumen cahaya dan waktu. Batu-batu itu seolah ‘menunggu’ bulan berada di posisi tertentu, menjadikan purnama besar sebagai teks kosmik yang dibaca bersama oleh manusia dan alam.

3. Harran, kota yang menyembah bulan sebagai takdir

ilustrasi harran
ilustrasi harran (commons.wikimedia.org/Syildirimer)

Harran adalah kota kuno di Mesopotamia yang dikenal sebagai pusat pemujaan dewa bulan Sin (Nanna) sejak milenium kedua SM. Tidak seperti situs observatorium terbuka, Harran adalah kota religius yang seluruh kosmologinya berporos pada bulan. Kalender, ritual, dan struktur sosialnya diselaraskan dengan fase-fase lunar, terutama purnama besar yang dianggap membawa pesan ilahi.

Dalam tradisi Mesopotamia, bulan bukan hanya penanda waktu, tetapi simbol kebijaksanaan, hukum, dan nasib. Purnama awal tahun memiliki arti khusus karena menandai pembukaan siklus baru, baik dalam kalender ritual maupun kehidupan sosial. Secara simbolik wolf moon memiliki resonansi yang sejalan, yaitu cahaya penuh di tengah musim sunyi saat manusia mencari kepastian dari langit.

Harran memperlihatkan bagaimana pemujaan bulan berkembang dari observasi menjadi teologi. Di sini, purnama bukan sekadar fenomena astronomi, melainkan otoritas kosmik yang menentukan ritme hidup manusia. Wolf moon dalam pembacaan semacam ini adalah ‘tanda tangan langit’ bagi awal perjalanan manusia dalam satu tahun penuh.

4. Warren Field, kalender bulan tertua di dunia

ilustrasi warren field
ilustrasi warren field (commons.wikimedia.org/Bobjgalindo)

Warren Field sering disebut sebagai kalender lunar tertua yang pernah ditemukan, berasal dari sekitar 8.000 SM. Situs ini terdiri dari 12 cekungan tanah yang diyakini merepresentasikan fase-fase bulan sepanjang satu tahun lunar. Yang menarik, susunan ini juga diselaraskan dengan posisi matahari saat titik balik musim dingin. Ini menunjukkan sistem luni-solar yang sangat maju pada zamannya.

Struktur tersebut juga memungkinkan manusia Mesolitik untuk ‘menyetel ulang’ kalender lunar mereka setiap tahun, memastikan bahwa siklus bulan tetap sinkron dengan musim. Dalam konteks ini, purnama awal tahun yang secara simbolik sepadan dengan wolf moon, menjadi titik referensi waktu yang sangat penting, terutama bagi masyarakat pemburu-pengumpul yang bergantung pada musim.

Warren Field membuktikan bahwa obsesi manusia terhadap bulan bukanlah romantisme modern, melainkan kebutuhan eksistensial sejak ribuan tahun lalu. Wolf moon dengan segala mitosnya, hanyalah kelanjutan dari tradisi panjang di mana manusia membaca hidupnya melalui cahaya bulan.

Dari Newark Earthworks hingga Warren Field, satu benang merah menjadi jelas. Bulan adalah arsip waktu manusia. Ia diabadikan dalam tanah, batu, kota, dan ritual, jauh sebelum kita menamainya wolf moon. Purnama awal tahun bukan sekadar pemandangan indah, melainkan momen kosmik yang sejak lama dianggap sakral, penanda transisi, harapan, dan keteraturan semesta.

Menyaksikan wolf moon hari ini berarti berdiri di titik yang sama dengan manusia ribuan tahun lalu. Menatap langit yang sama, dengan rasa takjub yang sama. Bedanya, kini kita tahu, di balik cahaya bulan tersimpan ingatan panjang peradaban yang pernah menulis waktu bukan dengan angka, melainkan dengan cahaya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

5 Fakta Kecerdasan Buatan (AI) dalam Militer Amerika Serikat

07 Jan 2026, 21:06 WIBScience