Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Bandar Seri Begawan, Kota dengan Istana Kediaman Terbesar di Dunia

5 Fakta Bandar Seri Begawan, Kota dengan Istana Kediaman Terbesar di Dunia
Bandar Seri Begawan (commons.m.wikimedia.org/sam garza)
Intinya Sih
  • Bandar Seri Begawan, ibu kota Brunei Darussalam, berkembang dari pelabuhan sederhana menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi modern yang tetap menjaga warisan budaya Melayu-Islam.
  • Kampong Ayer menjadi desa air terbesar di dunia dengan sejarah lebih dari 1.300 tahun, menampilkan kehidupan tradisional yang masih bertahan di tengah kemajuan kota.
  • Istana Nurul Iman tercatat sebagai kediaman raja terbesar di dunia, memperkuat citra Bandar Seri Begawan sebagai simbol kemakmuran dan kekuasaan kesultanan Brunei.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandar Seri Begawan merupakan ibu kota Brunei Darussalam yang terletak di tepi Sungai Brunei, dekat muara Teluk Brunei di pantai utara Pulau Kalimantan. Kota ini menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, serta kebudayaan yang kaya akan warisan Melayu-Islam. Dengan perpaduan pemukiman tradisional di atas air dan bangunan modern, kota ini menawarkan suasana yang tenang sekaligus mewah, mencerminkan sejarah panjang kesultanan.

Dahulu, kota ini dikenal sebagai pelabuhan sungai dan pusat perdagangan hasil tani yang sederhana. Setelah mengalami kerusakan parah akibat Perang Dunia II, Bandar Seri Begawan dibangun kembali menjadi pusat administrasi dan keuangan negara. Saat ini, kota tersebut menjadi simbol kemajuan Brunei Darussalam yang tetap memegang teguh identitas budaya mereka.

1. Perubahan nama untuk menghormati sultan

Bandar Seri Begawan
Bandar Seri Begawan (commons.m.wikimedia.org/zulfadli)

Kota ini awalnya bernama Brunei Town dan resmi berganti nama pada 4 Oktober 1970. Penggantian nama tersebut bertujuan untuk menghormati Sultan Omar Ali Saifuddien III, ayah dari Sultan Hassanal Bolkiah yang memerintah saat ini. Istilah Seri Begawan sendiri merupakan gelar kehormatan bagi sultan yang telah turun takhta. Sejak masa perlindungan Inggris hingga merdeka pada 1984, kota ini terus berkembang menjadi pusat kendali pemerintahan yang penting.

Pembangunan modern secara besar-besaran dimulai setelah Perang Dunia II untuk memulihkan kondisi kota. Kini, Bandar Seri Begawan memiliki luas wilayah sekitar 100,36 kilometer persegi dan berada di Distrik Brunei-Muara. Wilayah ini menjadi rumah bagi lebih dari 70 persen penduduk negara, menjadikannya pusat kegiatan politik dan ekonomi.

2. Kampong Ayer sebagai desa air terbesar di dunia

Bandar Seri Begawan
Bandar Seri Begawan (commons.m.wikimedia.org/Mark Pegrum)

Kampong Ayer adalah salah satu pemukiman di atas air terbesar di dunia yang berada tepat di tengah Sungai Brunei. Desa ini sudah dihuni selama lebih dari 1.300 tahun dengan rumah-rumah panggung yang saling terhubung melalui jembatan kayu. Meskipun berada di atas air, pemukiman ini memiliki fasilitas lengkap seperti masjid, sekolah, hingga toko. Karena keunikan tata kotanya, kawasan ini sering dijuluki sebagai Venesia dari Timur.

Ribuan penduduk di Kampong Ayer masih menjalani gaya hidup tradisional yang harmonis dengan alam sungai. Walaupun banyak warga yang mulai pindah ke daratan, desa ini tetap menjadi tujuan wisata utama yang memperlihatkan sejarah awal Bandar Seri Begawan sejak abad ke-8. Keberadaan desa ini menjadi bukti bahwa budaya asli Brunei tetap bertahan di tengah perkembangan zaman yang modern.

3. Kemegahan masjid dengan kubah emas

Bandar Seri Begawan
Bandar Seri Begawan (commons.m.wikimedia.org/sam garza)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien yang selesai dibangun pada 1958 merupakan salah satu masjid paling indah di Asia Tenggara. Masjid ini dinamai sesuai nama Sultan ke-28 Brunei dan memiliki ciri khas berupa kubah emas murni serta dinding dari marmer Italia. Terletak di tepi laguna buatan dengan replika perahu kerajaan abad ke-16, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol kemegahan arsitektur Islam.

Sebagai pusat spiritual di ibu kota, masjid ini mampu menampung ribuan jamaah untuk kegiatan keagamaan. Arsitekturnya menggabungkan gaya Islam klasik dengan sentuhan lokal yang sangat detail, sehingga selalu menjadi ikon yang paling sering difoto oleh wisatawan. Keberadaannya memperkuat jati diri Bandar Seri Begawan sebagai kota yang religius.

4. Istana Nurul Iman sebagai kediaman raja terbesar

Bandar Seri Begawan
Bandar Seri Begawan (commons.m.wikimedia.org/de:Benutzer:Chtrede)

Istana Nurul Iman yang terletak tidak jauh dari pusat kota tercatat sebagai istana tempat tinggal terbesar di dunia oleh Guinness World Records. Istana ini merupakan kediaman resmi Sultan Hassanal Bolkiah dan memiliki luas bangunan yang bahkan melebihi luas wilayah Vatikan. Desain bangunan yang megah ini mencerminkan kekayaan serta tradisi kesultanan Brunei yang sudah berlangsung selama berabad-abad.

Walaupun tidak dibuka untuk masyarakat umum setiap hari, istana ini menjadi pusat perhatian dunia terutama saat acara besar kenegaraan. Keberadaan Istana Nurul Iman di ibu kota semakin menegaskan peran Bandar Seri Begawan sebagai pusat monarki yang berwibawa. Bangunan ini merupakan simbol kemakmuran dan kestabilan politik di Brunei Darussalam.

5. Pusat pemerintahan yang harmonis dan religius

Bandar Seri Begawan
Bandar Seri Begawan (commons.m.wikimedia.org/Chin Yu Chu)

Sebagai ibu kota negara, Bandar Seri Begawan menjadi lokasi utama bagi berbagai lembaga tinggi negara dan pusat bisnis. Kota ini dikenal sangat tertib, bersih, dan kental dengan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, kota ini menjadi kawasan perkotaan terbesar sekaligus pusat interaksi sosial bagi warga Brunei.

Selain menjadi pusat administrasi, kota ini menawarkan berbagai museum, taman, dan pasar tradisional yang memperkenalkan warisan budaya kepada dunia. Infrastruktur yang modern tidak membuat kota ini kehilangan jati diri tradisionalnya. Bandar Seri Begawan berhasil membuktikan bahwa sebuah kota bisa berkembang maju tanpa harus meninggalkan akar sejarah dan identitas nasionalnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More