Ternyata Pohon Bisa Berkomunikasi, Mitos atau Fakta?

- Pohon berkomunikasi melalui jaringan akar dan jamur mikoriza yang disebut Wood Wide Web untuk berbagi nutrisi serta mengirim sinyal lingkungan antar pohon.
- Saat diserang hama atau penyakit, pohon dapat mengirim sinyal bahaya lewat akar dan udara agar pohon lain meningkatkan pertahanan diri.
- Pohon induk berperan penting menyalurkan karbon, air, dan nutrisi ke pohon muda, menjaga keseimbangan ekosistem hutan secara kolektif.
Komunikasi merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjalin interaksi sosial. Melalui komunikasi, manusia dapat bertukar informasi, menyampaikan gagasan, hingga menyelesaikan berbagai masalah. Tak hanya manusia, hewan juga memiliki cara unik untuk berkomunikasi.
Lalu, bagaimana dengan tumbuhan? Apakah pohon juga bisa berkomunikasi seperti makhluk hidup lainnya, atau ini hanya sekadar mitos? Jawabannya mengejutkan, ternyata pohon bisa berkomunikasi dengan pohon lain adalah fakta. Berdasarkan berbagai penelitian ilmiah, pohon ternyata memiliki cara komunikasi yang kompleks dan menakjubkan. Berikut penjelasannya.
1. Pohon berkomunikasi lewat akar dan jamur

Berbeda dengan manusia dan hewan, pohon tidak berkomunikasi melalui suara. Sebagai gantinya, mereka menggunakan jaringan bawah tanah yang tersembunyi namun sangat canggih. Akar pohon saling terhubung melalui bantuan jamur mikoriza, membentuk jaringan luas yang sering disebut sebagai Wood Wide Web.
Melalui jaringan ini, pohon dapat bertukar berbagai sumber daya penting seperti air, karbon, nitrogen, dan nutrisi lainnya. Sistem ini bekerja layaknya jaringan internet alami di dalam tanah. Misalnya, ketika satu pohon kekurangan nutrisi, pohon lain dapat “mengirimkan bantuan” melalui jaringan tersebut, seperti dilansir laman EcoMatcher.
Menariknya, jaringan ini bukan hanya jalur distribusi nutrisi, tetapi juga sarana komunikasi. Pohon dapat mengirimkan sinyal tentang kondisi lingkungan, seperti kekeringan atau perubahan suhu. Hal ini membuat hutan berfungsi sebagai satu kesatuan sistem yang saling terhubung, bukan sekadar kumpulan individu yang berdiri sendiri.
2. Pohon bisa mengirim sinyal bahaya

Mengutip laman EcoMatcher, ketika sebuah pohon diserang serangga atau terserang penyakit, ia tidak hanya bertahan sendiri. Pohon tersebut mampu mengirimkan sinyal peringatan kepada pohon lain di sekitarnya, baik melalui jaringan akar maupun melalui udara dalam bentuk senyawa kimia. Pohon-pohon yang menerima sinyal ini akan segera merespons dengan meningkatkan sistem pertahanannya.
Salah satu respons tersebut adalah memproduksi zat kimia yang membuat daun terasa pahit atau beracun bagi hama, seperti peningkatan produksi tanin yang menyulitkan serangga untuk mencerna daun. Kemampuan ini menunjukkan bahwa pohon tidak sepenuhnya pasif, melainkan mampu “merasakan” ancaman dan meresponsnya secara kolektif, layaknya sistem peringatan dini dalam sebuah komunitas.
3. Pohon induk memiliki peran sebagai “penjaga hutan”

Di dalam ekosistem hutan, terdapat pohon-pohon besar yang berperan penting dan sering disebut sebagai pohon induk (mother trees). Pohon-pohon ini umumnya berusia tua dan memiliki jaringan akar yang luas, yang memungkinkan mereka menyalurkan karbon, air, serta nutrisi kepada pohon-pohon muda di sekitarnya. Peran ini sangat penting bagi kelangsungan hidup bibit yang masih rentan, seperti dikutip dari laman EcoMatcher.
Penelitian menunjukkan bahwa sebagian karbon yang digunakan pohon muda berasal dari pohon yang lebih besar. Bahkan, dalam beberapa kasus, pohon induk dapat “mengenali” bibit sejenis dan memberikan dukungan lebih besar. Karena itu, pohon induk berfungsi sebagai “penjaga hutan” yang menjaga keseimbangan ekosistem; tanpa mereka, proses regenerasi hutan dapat terganggu.
4. Pohon juga berkomunikasi lewat aroma

Selain melalui akar, pohon juga berkomunikasi melalui udara dengan melepaskan senyawa kimia yang disebut volatile organic compounds (VOCs). Saat diserang hama, pohon mengeluarkan aroma tertentu sebagai sinyal bahaya. Pohon lain di sekitarnya dapat mendeteksi sinyal ini dan segera meningkatkan sistem pertahanannya, bahkan sebelum hama menyerang, seperti dikutip dari laman National Library of Medicine.
VOCs juga memiliki fungsi lain, seperti menarik predator alami hama. Misalnya, pohon yang diserang ulat dapat mengeluarkan aroma yang menarik burung atau serangga pemangsa. Selain itu, senyawa ini berperan dalam penyerbukan dengan menarik serangga seperti lebah. Dengan demikian, komunikasi pohon tidak hanya terjadi antartumbuhan, tetapi juga melibatkan makhluk hidup lain dalam ekosistem.
Dari berbagai fakta ilmiah tersebut, dapat disimpulkan bahwa pohon bisa berkomunikasi. Meski tidak menggunakan suara seperti manusia, mereka memiliki sistem komunikasi yang sangat kompleks melalui akar, jamur, dan udara. Memahami hal ini juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga hutan, karena kerusakan pada satu bagian bisa berdampak pada keseluruhan sistem.

















