5 Fakta Bombyx Mori, Serangga Mungil Penghasil Kain Sutra

- Bombyx mori, ngengat sutra asal Tiongkok, telah dibudidayakan selama ribuan tahun dan kini sepenuhnya bergantung pada manusia tanpa habitat liar.
- Larvanya makan daun murbei selama enam minggu lalu membentuk kepompong; ngengat dewasa tidak bisa terbang maupun makan, dengan fokus kawin dan bertelur.
- Satu kepompong dapat menghasilkan serat hingga 900 meter untuk sutra; peneliti juga mengembangkan sutra lebih kuat melalui penyisipan gen sutra laba-laba.
Dibalik kelembutan kain sutra yang mewah, tersimpan kisah Bombyx mori, alias ngengat sutra dan ulat sutra sebagai penghasil serat alami bernilai tinggi. Tanpa serangga ini, sejarah mode dan perdagangan global tentu tidak akan sama seperti sekarang. Kehadiran mereka memegang peran penting dalam peradaban manusia sejak ribuan tahun lalu.
Perjalanan hidup Bombyx mori menyimpan banyak fakta menarik yang jarang diketahui orang. Mulai dari kebiasaannya menyantap daun murbei hingga ngengat dewasa yang sama sekali tidak bisa terbang. Yuk, langsung baca artikel ini untuk menemukan berbagai fakta seru tentang Bombyx mori!
1. Saat masih larva, tubuhnya berwarna krem dengan ekor bertanduk

Ulat sutra (Bombyx mori). (commons.wikimedia.org/Lilly M) Dilansir Animal Diversity Web, saat masih berbentuk larva, Bombyx mori memiliki penampilan fisik yang mudah dikenali dari dekat. Tubuhnya berwarna krem dengan bercak cokelat di bagian dada. Kemudian, panjang tubuhnya mencapai 4 cm lengkap dengan ekor bertanduk.
Saat tumbuh menjadi ngengat dewasa, bentuk dan warnanya masih terlihat mirip. Rentang sayapnya berukuran sekitar 4 cm dengan warna krem yang dihiasi garis-garis cokelat tipis di sekujur tubuhnya. Paduan warna dan corak halus ini membuat tampilan ngengat dewasa terlihat sangat anggun dan menarik.
2. Sepenuhnya terdomestikasi

Ngengat sutra domestik dewasa (Bombyx mori). (commons.wikimedia.org/Zivya) Dilansir Britannica, Bombyx mori awalnya berasal dari Tiongkok dan telah dibudidayakan oleh manusia selama ribuan tahun. Karena proses domestikasi yang sangat panjang ini, spesies tersebut telah menyebar dan diperkenalkan ke berbagai penjuru dunia. Kehadirannya kini menjadi bagian penting dalam industri tekstil global untuk menghasilkan kain sutra.
Saat ini, Bombyx mori sudah tidak bisa lagi ditemukan hidup bebas di alam liar. Mereka sepenuhnya bergantung pada perawatan manusia untuk bertahan hidup, berkembang biak, dan mendapatkan makanan. Oleh karena itu, hewan ini tidak lagi memiliki habitat alami di luar tempat budidaya.
3. Saat dewasa, mereka tidak bisa terbang dan tidak makan

Ngengat sutra domestik dewasa (Bombyx mori). (commons.wikimedia.org/Misa.stefanovic.07) Dilansir Animal Diversity Web, proses reproduksi Bombyx mori dimulai saat telur-telurnya yang sangat ringan menetas menjadi larva setelah 10 hari. Larva ini akan terus makan dan tumbuh selama 6 minggu sebelum akhirnya memintal kepompong. Cairan dari mulutnya yang mengeras di udara membentuk benang sutra yang membungkus seluruh tubuhnya.
Di dalam kepompong, tubuh ulat mengalami proses pembersihan jaringan lama menggunakan cairan pencernaannya sendiri. Proses ini menghancurkan organ lama untuk memberi ruang bagi pembentukan bagian tubuh baru selama 2 minggu. Setelah seluruh transformasi tersebut selesai, mereka akan keluar dari kepompong sebagai ngengat dewasa.
Ngengat dewasa ini tergolong makhluk sosial tetapi tidak bisa terbang akibat proses domestikasi serikultur yang panjang. Mereka juga sama sekali tidak memiliki organ mulut yang berfungsi sehingga tidak dapat makan. Oleh karena itu, fokus hidupnya hanyalah kawin dan bertelur sebelum akhirnya mati.
4. Makanan favorit ulat bombyx mori adalah daun murbei putih

Ulat sutra (Bombyx mori) yang bertengger di cabang pohon murbei (Morus). (commons.wikimedia.org/Gorkaazk) Siklus hidup Bombyx mori dimulai saat telur menetas menjadi larva yang makan terus-menerus selama 6 minggu. Larva kemudian memintal cairan dari mulutnya menjadi kepompong sutra untuk melindunginya selama 2 minggu fase pupa. Di dalam kepompong, tubuhnya merombak diri secara total hingga siap keluar sebagai ngengat dewasa.
Uniknya, ngengat dewasa sama sekali tidak memiliki mulut yang berfungsi sehingga mereka tidak bisa makan. Tugas utama mereka di fase dewasa ini hanyalah kawin dan bertelur untuk melanjutkan keturunan. Setelah berhasil bertelur, ngengat betina akan mati dan menyelesaikan siklus hidupnya yang singkat.
5. Menghasilkan serat benang hingga 900 meter

Ngengat sutra domestik dewasa (Bombyx mori) di samping kepompong sutra putihnya. (commons.wikimedia.org/P.gibellini) Dilansir Britannica, satu kepompong ulat sutra menghasilkan serat benang hingga 900 meter yang kemudian direbus dan dipilin menjadi satu benang kuat. Getah pelindung pada benang tersebut nantinya dihilangkan agar sutra terasa lembut, berkilau, serta memiliki daya serap dan kekuatan yang baik. Serat alami ini juga tahan terhadap panas dan bahan kimia ringan, meskipun mudah rusak jika terlalu lama terkena sinar matahari.
Selain cara tradisional, para peneliti kini mengembangkan inovasi baru untuk menghasilkan sutra yang jauh lebih kuat dan elastis. Salah satu metode modern yang dilakukan adalah dengan memasukkan gen sutra laba-laba ke dalam tubuh ulat sutra. Rekayasa genetika ini diharapkan mampu menciptakan bahan sutra komposit berkualitas tinggi dengan berbagai potensi kegunaan di masa depan.
Melalui perjalanan hidup yang unik dan proses pengolahan yang teliti, Bombyx mori membuktikan diri sebagai salah satu serangga paling berjasa bagi peradaban manusia. Mengenal lebih dekat makhluk kecil ini tentu membuat kita semakin menghargai keindahan dan kerja keras di balik sehelai kain sutra yang mewah.
















![[QUIZ] Jika Reinkarnasi Nyata, Jadi Siapa Kamu di Upin & Ipin Kehidupan Sebelumnya?](https://image.idntimes.com/post/20250530/img-20250530-203717-a4e4cddefdae713cd1a3efe97f21f1d1-d39800576cc5d4ebd91a012aa51130f5.jpg)





