Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Karhutla Bisa Memengaruhi Kualitas Air? 

4 min read
Kenapa Karhutla Bisa Memengaruhi Kualitas Air? 
ilustrasi sumber air (pexels.com/Maël BALLAND)
  • Karhutla menghilangkan vegetasi pelindung tanah, sehingga hujan memicu erosi dan menghanyutkan abu, sedimen, serta sisa tumbuhan ke sungai, danau, waduk, hingga air tanah.

  • Abu dan sedimen meningkatkan kekeruhan, sementara nitrogen, fosfor, serta logam berat dapat mengubah kimia air, memicu eutrofikasi, menurunkan oksigen, dan mengancam organisme perairan.

  • Air tercemar pascakarhutla membutuhkan pengolahan lebih intensif dan mahal; risikonya dapat ditekan melalui perlindungan vegetasi, pemulihan lahan, pengendalian erosi, serta pemantauan kualitas air berkala.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menghasilkan asap yang mencemari udara. Dampaknya juga bisa merambat ke sungai, danau, waduk, bahkan sumber air tanah yang digunakan masyarakat. Hal ini terjadi karena kebakaran mengubah struktur tanah dan menghilangkan vegetasi yang selama ini berfungsi melindungi daerah aliran sungai.

Ketika hujan turun setelah kebakaran, abu, tanah, sisa tumbuhan, hingga berbagai zat pencemar dapat terbawa menuju perairan. Akibatnya, air menjadi lebih keruh, komposisi kimianya berubah, dan proses pengolahan air bersih semakin sulit. Namun, kenapa karhutla bisa memengaruhi kualitas air? Ini dia penjelasannya!

  1. 1. Hilangnya vegetasi membuat tanah mudah terkikis

    Hutan yang sehat berperan penting dalam menjaga kualitas air. Pepohonan memperlambat jatuhnya air hujan, akar tanaman mengikat tanah, sedangkan lapisan dedaunan membantu menyerap air dan menyaring material sebelum mencapai sungai.

    Namun, karhutla dapat merusak pelindung alami tersebut. Permukaan tanah menjadi terbuka sehingga air hujan lebih mudah menghanyutkan partikel tanah. Proses ini disebut erosi. Jika terjadi dalam skala besar, erosi juga meningkatkan risiko longsor dan membawa lebih banyak material menuju sungai maupun waduk.

  2. 2. Abu dan sedimen membuat air lebih keruh

    Abu merupakan salah satu material yang dihasilkan setelah kebakaran hutan. Ketika hujan turun, partikel abu dapat terbawa aliran permukaan menuju sungai, danau, atau waduk. Material ini dapat meningkatkan kekeruhan air atau disebut turbidity.

    Air yang terlalu keruh lebih sulit diolah karena membutuhkan proses penyaringan tambahan. Sementara itu, sedimen yang menumpuk di dasar perairan dapat menutupi habitat ikan, mengganggu tempat berkembang biak, dan mengancam organisme air.

  3. 3. Komposisi kimia air mengalami perubahan

    ilustrasi penelitian sumber air
    ilustrasi penelitian sumber air (pexels.com/RephiLe water)

    Pembakaran vegetasi dapat melepaskan unsur hara, seperti nitrogen dan fosfor, yang kemudian terbawa air hujan menuju sungai atau danau. Jika jumlahnya berlebihan, kedua unsur tersebut dapat memicu pertumbuhan alga secara tidak terkendali. Fenomena ini dikenal sebagai eutrofikasi.

    Ketika alga mati dan terurai, proses penguraiannya membutuhkan oksigen. Akibatnya, kadar oksigen terlarut dalam air bisa menurun dan mengancam kehidupan ikan. Selain itu, karhutla juga berpotensi meningkatkan mobilitas logam berat, seperti arsenik, timbal, dan mangan, sehingga mencemari sumber air.

  4. 4. Pengolahan air bersih menjadi lebih sulit

    Air yang tercampur abu, sedimen, bahan organik, dan zat pencemar membutuhkan pengolahan lebih intensif sebelum dapat digunakan. Tingginya kekeruhan membuat proses penyaringan dan pengendapan harus bekerja lebih keras.

    Kandungan bahan organik terlarut juga dapat bereaksi dengan disinfektan selama pengolahan air dan menghasilkan produk sampingan yang tidak diinginkan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya operasional penyedia air bersih. Dalam kasus serius, penyedia layanan bahkan perlu mencari sumber air alternatif.

  5. 5. Ekosistem perairan ikut terganggu

    Perubahan kualitas air setelah karhutla tidak hanya berdampak pada manusia. Ikan, amfibi, serangga air, dan tumbuhan perairan juga membutuhkan kondisi lingkungan yang stabil. Air yang semakin keruh mengurangi masuknya cahaya matahari sehingga dapat mengganggu fotosintesis tumbuhan air. Sementara itu, penurunan oksigen terlarut dan penumpukan sedimen bisa merusak habitat serta mengancam kelangsungan hidup organisme perairan.

  6. 6. Bagaimana dampaknya bisa dikurangi?

    Pendaki di sumber air pendakian
    ilustrasi sumber air (pexels.com/Iryna Skavronska)

    Risiko pencemaran air akibat karhutla dapat ditekan melalui perlindungan vegetasi di sekitar sungai dan daerah aliran sungai. Setelah kebakaran, pemulihan lahan melalui penanaman kembali tumbuhan asli, penggunaan mulsa, dan pengendalian erosi juga penting dilakukan.

    Selain itu, kualitas air di wilayah terdampak perlu dipantau secara berkala. Pemeriksaan kekeruhan, kandungan unsur hara, logam berat, dan oksigen terlarut dapat membantu mendeteksi pencemaran sejak dini.

    Pada akhirnya, karhutla bukan hanya menyebabkan hilangnya tutupan hutan dan pencemaran udara. Kebakaran juga merusak fungsi alami tanah dalam melindungi sumber air. Karena itu, pencegahan kebakaran dan pemulihan kawasan terdampak menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan air bersih serta keseimbangan ekosistem.

    Referensi

    Environmental Protection Agency. Diakses pada November 2026. Wildfires and Water Quality Research
    Environmental Protection Agency. Diakses pada November 2026. Wildland Fire Research: Water & Ecosystems
    National Park Services. Diakses pada November 2026. Wildland Fires Could Be Putting Your Drinking Water at Risk
    USGS. Diakses pada November 2026. Connections between Forested and Urban Landscapes and Implications for Water Supply

Related Articles

See More